Petualang Jagad Lelembut

Petualang Jagad Lelembut
Bab 43


Sikap pak Lingga yang belum sepenuhnya terbuka menimbulkan banyak pertanyaan di benak Sari. Rasa ingin tahunya begitu membuncah, hingga akhirnya ia tidak bisa lagi membendungnya. Sari melakukan interogasi dadakan dengan pak Lingga.


Doni dan Ahmad masih disibukkan dengan pencarian materi di internet, sesekali mereka berdiskusi dan tentu saja perdebatan kecil yang tak pernah absen mewarnai obrolan keduanya.


Sari melihat Saka menjauh, sepertinya ia mendapat tugas dari pak Lingga untuk mengurus sesuatu. 


Ini kesempatan …,


Sari mendekati pak Lingga dengan segera.


"Bisa kita bicara sebentar pak?"


"Hhm, ada apa?"


"Sebenarnya apa sih yang bapak dan Airlangga ributin? Cuma karena Lita, atau memang ada masalah lain?" tanya Sari tanpa basa basi.


Pak Lingga menatap Sari sejenak lalu tersenyum tipis. "Bukannya tadi sudah saya ceritain? Kami mencintai wanita yang sama, dan itu menjadi masalah yang berkepanjangan."


"Bapak belum jelasin ke saya siapa Lita? Tempo hari penjelasannya nggantung, udah kek jemuran baju yang setengah kering pak. Nanggung!"


Pak Lingga terdiam, ia ragu tapi kemudian ia membuka mulutnya perlahan.


"Lita ya, dia spesial. Itu saja yang bisa saya kasih tahu." 


"Kan nanggung lagi deh, gimana saya bisa bantu kalo bapak sendiri misterius begini? Bapak tahu kan Lita mengincar saya, belum lagi Airlangga dan juga Rey. Ini benang merahnya dimana coba?!" ujar Sari kesal.


Sari merasa dipermainkan oleh para manusia immortal yang dengan tidak sopannya telah membuat jalannya liputan kacau. 


"Lita, diubah oleh Airlangga menjadi bagian dari makhluk kegelapan. Kami berada di persimpangan jalan setiap kali kami mencintai seseorang." raut wajah pak Lingga nampak sedih.


"Bisa kamu bayangin, kalo kamu melihat orang yang kamu cintai menua dan mati meninggalkanmu tapi kamu masih berdiri di tempatmu tanpa menua sedikitpun?!" lanjut pak Lingga lagi.


"Iya sih, itu menyedihkan." sahut Sari.


"Dan menyengsarakan kami." Pak Lingga kembali melanjutkan perkataannya, tapi kali ini ucapannya tampak sedikit emosi.


"Saya mencintai Lita tapi saya sadar tidak bisa membuatnya menderita. Lita sangat mencintai saya dan melakukan hal apapun demi ikut menjadi abadi."


"Eh, kok gitu? Kodratnya manusia kan nggak ada yang bisa abadi, aneh!" kata Sari sarkas.


"Kamu benar tapi pada kenyataannya ada golongan manusia pengabdi setan yang menawarkan keabadian pada Lita."


"Airlangga?" tanya Sari penasaran.


Pak Lingga diam dan menatap tajam Sari. Airlangga yang dulu dikenalnya sebagai ksatria yang melindungi sang prabu hingga akhir hayat kini telah berubah. Berjalannya waktu yang telah berlalu ratusan tahun lalu telah mengubah jiwa kesatrianya. Airlangga bersekutu dengan iblis.


"Jadi benar Airlangga yg buat Lita begitu? Apa dia juga yang bikin Rara berubah?" tanya Sari tak sabar.


"Eeh, ini ancaman apa peringatan?"


"Tergantung kamu menyikapinya Sari, saya … bisa jadi lawan ataupun kawan tergantung apa pilihan takdir kamu?"


Sari bingung, ia tidak menyangka liputan kali ini akan berjalan begitu sulit. Bahkan lebih sulit dari saat kehilangan Mang Aa. Banyak nyawa yang akan dia pertaruhkan kali ini.


Dalam hati ia mendengus kesal, merutuki tugas liputan yang ia terima kali ini.


Andai sejak awal aku menolak untuk terlibat, keadaan nggak akan sekacau ini!


"Gimana cara melawan Airlangga?" tanya Sari yang seketika yakin dengan pilihannya.


"Tarik pusaka itu Sar, hanya itu yang bisa menghabisi Airlangga."


"Cuma itu? Baik, saya bakal bantuin bapak tapi dengan syarat!"


Pak Lingga memiringkan kepalanya, "Pilihan bagus, apa syaratnya?" 


"Lindungi teman-teman saya, jangan sampai mereka terluka lagi. Tidak ada pengecualian!"


Pak Lingga tersenyum, "Hanya itu?"


"Iya, hanya itu. Gampang kan?"


Sari mengulurkan tangannya untuk kesepakatan mereka, dengan mantap pak Lingga pun menyambutnya.


"Deal, kita kerjakan tugas kita masing-masing! Saya akan melindungi temanmu dan kamu cari dan tarik pusaka itu dari persembunyiannya."


"Ok!"


"Ada satu hal yang harus kamu tahu Sar, pusaka itu memiliki aura pekat yang tidak bisa dengan mudah ditaklukan orang biasa. Sekali kamu mendapatkannya, kamu juga akan kehilangan yang lain dari dirimu. Semacam pertukaran." Pak Lingga memberitahukan sesuatu yang tidak diduga Sari.


"Apa? Curang, kenapa bapak nggak bilang daritadi!" gerutu Sari sambil melepaskan kasar tangan Pak Lingga.


"Menyesal? Pilihan ada ditangan kamu!"


"Ccck, gini nih yang saya nggak suka dari orang-orang kek bapak! Selalu punya maksud terselubung!"


"Pusaka itu bisa nyelamatin teman-teman kamu, tinggal kamu pilih ambil atau terima perubahanmu menjadi bagian dari makhluk kegelapan?!"


Sari menatap kesal pak Lingga, ia merasa dibodohi. Tapi keputusan sudah dibuat dan ia pantang menarik kata-katanya lagi.


Apa boleh buat, demi keselamatan mereka semua … aku rela lakuin apa aja!