
Sari terus berusaha mencari pedang asli, mata tak biasanya mulai memindai dengan teliti. Mencari di antara ratusan pedang duplikat yang terus menghalanginya.
Dimana yang asli? Aku belum bisa menemukannya, sial!
Pedang - pedang tiruan itu terus menyerangnya dari segala penjuru membuat Sari kehabisan tenaga.
"Kalau begini caranya, aku bisa mati sebelum dapetin yang asli!"
Tubuh Sari terus berkelit dan menghindari tajamnya mata pedang yang terus berusaha menggores tubuh mulusnya. Beberapa luka telah didapatkannya tangan, kaki, dan juga bahunya tak luput dari goresan membuat Sari semakin panik.
"Waktunya tidak banyak Sari, cepatlah! Tubuhmu akan lemas jika terus menerus terluka seperti itu!"
"Hei pak tua! Dipikir saya lagi diem aja apa?! Ini juga lagi usaha!" sahut Sari kesal.
Batinnya menggerutu saking kesalnya, "Gegara Lingga ini aku jadi repot begini, kemana sih tu orang apa nggak tahu saya disini?! Jadi curiga apa bener dia sakti!"
"Sar, sesuatu terjadi di dunia manusia. Teman-temanmu diserang anak buah Airlangga. Sebaiknya kamu cepat keluar dari sini sebelum terlambat!" suara Bimasena menyadarkan Sari dari rasa kesalnya.
"Apa … beraninya dia mengganggu temanku! Mahesa bisakah kamu bantu Doni dulu, aku butuh waktu setidaknya …"
"Lima menit?" tanya Mahesa sebelum Sari menyelesaikan perkataannya.
"Ehm, ya sepertinya begitu?!" sahut Sari
Lima menit ya … gimana caranya? Gila aja ratusan pedang ini bahkan tidak mau memberiku kesempatan untuk mencari!
Sari terus memikirkan cara agar bisa menemukan yang asli, tiba-tiba sudut matanya menangkap cahaya keemasan yang berkelebat tak jauh di sisi kirinya.
Tunggu, cahaya itu … sepertinya itu dari pedang Sengkayana!
Sari mengingat pesan dari salah satu pria itu, ia harus menemukan pedang yang menggodanya dengan aura tak biasa. Ia mundur beberapa langkah menjauhi pusat kumpulan pedang duplikat yang terus terbang kesana kemari.
Sebuah cahaya merah keemasan melesat melewati Sari. Cahaya itu bahkan hampir menyentuh tubuhnya. Untungnya Sari bisa menghindar. Sari kehilangan jejak. Cahaya itu bergerak begitu cepat dan kembali bersembunyi diantara ratusan pedang di depannya.
Mata biasa sulit sekali mendeteksi kemana arah cahaya itu pergi. Sari hanya bisa merasakan auranya yang mulai nakal menyapa tubuh Sari. "Dimana kamu?"
Sari memusatkan konsentrasi dengan memejamkan matanya, mengatur nafas dan merasakan pergerakan berbeda. Sari melihat pergerakan lain, berpindah tempat dari satu sisi ke sisi lain menggoda Sari untuk mengejarnya.
"Jangan terlena Sar, tunggu waktu yang tepat. Biarkan dia mendatangimu sendiri tanpa perlu kamu kejar." Bimasena membimbing Sari melalui telepati ya.
Sari melakukan apa yang disarankan Bimasena. Cahaya merah keemasan itu kembali menampakkan diri dan kali ini menuju ke arah Sari dengan cepat. Mata pedangnya tampak menghunus menyasar jantung Sari.
Sari tersenyum, "Goed, kom naar mij!"
( Bagus, datanglah padaku!)
Kecepatan pedang itu menembus batas kecepatan cahaya, Sari memilih menghindarinya menggeser tubuhnya ke kiri. Ia tidak ingin mati konyol.
Tapi jarak yang begitu dekat membuat gesekan antara Sari dan pedang yang terselimuti cahaya. Membuat luka memanjang di dada Sari.
Rasa panas dan nyeri menjalar dari luka Sari, tapi ia hanya tersenyum. Rasa penasaran nya terpancing. Ekor matanya menangkap kedatangan pedang itu lagi tapi kali ini pedang asli itu ada di dalam kumpulan pedang duplikat membuat Sari mau tidak mau kembali menerobos masuk dan berjuang mengejar pedang Sengkayana asli.
"Sedikit lagi, come to me Beib!"
Sari mengerahkan seluruh tenaganya, menjejakkan kaki pada salah satu pedang duplikat untuk membuat satu lompatan tinggi dan ….,
"Dapat!"
Sari tersenyum, tapi senyuman Sari hanya sesaat. Sengatan energi dari pedang itu membuatnya terkejut.
Senyum kemenangan Sari berubah. Sari menahan sakit yang luar biasa bagaikan sengatan listrik ribuan volt. Sengatan energi itu kembali membangkitkan sel mutasi yang telah terbentuk dalam tubuh Sari.
Tubuh Sari diliputi cahaya merah keemasan, ia telah bersenyawa dengan roh penjaga pusaka legendaris.
Rasa sakit itu perlahan mereda, Sari menyatu sempurna dengan pedang Sengkayana. Ratusan pedang duplikat itu berhenti bergerak dan seketika berjatuhan di lantai. Sementara Sari masih dalam posisi melayang di udara dengan pedang Sengkayana di tangan kanannya.
"Dia berhasil."ujar salah satu dari ketiga pria itu.
"Ramalan itu terbukti, dia menjelma menjadi kesatria baru."
"Langkah selanjutnya akan lebih sulit. Pertukaran jiwa."
Sari merasakan letupan energi baru di setiap sel tubuhnya yang telah bermutasi. Kekuatan supranatural nya bertambah berkali lipat. Perlahan ia turun dengan anggun, menjejakkan kakinya lagi ke lantai.
Sari membuka mata coklatnya yang indah. Mengatur nafas sejenak, menetralisir kekuatan barunya hingga kembali normal.
"Selamat Sar, sekarang kamulah pemilik pedang ini."
Sari menatap ketiga lelaki tampan di depannya secara bergantian. Dan keajaiban kembali terjadi, lukanya perlahan sembuh dan hilang tanpa bekas. Sari takjub tapi juga takut.
Kenapa tubuhku kembali normal? Ini aneh!
"Sar, cepatlah! Mahesa mengirimkan sinyal bahaya!" ujar Bimasena.
"Sinyal bahaya? Sejak kapan kalian berubah dari penjagaku menjadi ELT pesawat Bimasena!"
"ELT? Apa itu Sar?"
Haaaish, aku lupa mereka bangsa lelembut! Mana paham sama sinyal darurat di pesawat!
"Aaah lupain!"
Sari kembali menatap ketiga lelaki penjaga keputren. "Saya pamit dulu, ada hal penting yang harus saya kerjakan!"
Tanpa menunggu jawaban dari ketiganya Sari melesat keluar dan menghampiri ketiga penjaganya.
"Kita pergi Bimasena!"
Bimasena terkesima dengan kekuatan Sari yang baru. Tuannya mengalami beberapa transformasi yang luar biasa. Ada senyum yang tertarik di bibirnya, ia bangga dengan tuannya. Tuannya telah menjelma menjadi Srikandi tanah Pasundan.