
Keesokan harinya mereka pergi ke lokasi yang disepakati semalam. Situs budaya Trowulan. Asisten pak Lingga bergerak cepat hingga dalam semalam semua persiapan dan perbekalan kesana telah siap.
Sari menatap tak percaya layar ponselnya, semalam ia tertidur lelap setelah obrolan panjangnya dengan pak Lingga.
"Aku nggak salah lihat kan ini?" katanya pelan menatap pesan m-banking di layarnya.
"Kagak, mata Lo normal! Semalem si Lingga transfer duit ke kita semua!" sahut Doni yang mendengar perkataan lirih Sari dari kursinya.
"Gila, bayaran segini …" gumam Sari lagi tanpa berlanjut
"Apaan?! Kurang?" sahut Doni menyembulkan kepalanya di sandaran kursi penumpang Sari.
Sari menoleh ke arah Doni, lalu dengan konyol dia berkata. "Kuranglah! Kalo aku tahu dia bakal transfer duit begini, aku bakal minta 1 Milyar!"
"Heem, matre Lo!" cibir Doni yang disambut tawa Bagas.
"Eh, segini mana cukup kali Don! Tugasku berat, bantuin dia narik pusaka yang aku sendiri nggak tau itu gimana bentuknya! Taruhanku nyawa lagi! Jelaslah ini kurang!"
Doni menempelkan punggung tangannya di kening Sari lalu membandingkannya dengan dirinya sendiri. "Normal kok kagak anget! Tumben perhitungan bener, Lo kan dah kaya Sar?!"
"Iiish, bukan masalah gitu! Business is Business Don! Nyawa aku lho yang dipertaruhkan! Cuma punya satu nggak sembilan kek kucing!" gerutu Sari.
Bagas tertawa melihat raut wajah menggemaskan kekasihnya yang sedang cemberut. "Beb, tumben kamu gini … apa perlu kita nego lagi?! Kan ditambahin punyaku juga banyak beb?"
"Gas, sayangku, cintaku, my honey bunny … its not enough dear! Sekali kali lah kita perlu perhitungan sama orang kaya kek dia itu! Duitnya banyak, ratusan tahun lho dia ngumpulin!"
Bagas kembali tertawa, "Iya udah, besok kita minta lagi dah! Case closed nggak perlu dibahas lagi, kalo nggak ... mau aku cium didepan mereka?" tanyanya dengan jenaka.
"Boleh request nggak, cium yang banyak and lama biar jones kek mereka berdua kepanasan." balas Sari menggoda Bagas.
"With pleasure dear, shall we?" Bagas mulai menggoda Sari.
"Astaghfirullah al adziiiiiiim …. Nyebut lo pada ngapa! Enak aja mo ciuman depan jones sejati! Kagak bisa! Gue alangin juga nih!" Doni tiba-tiba saja melompat ke kursi tempat Bagas dan Sari duduk bersebelahan.
Tingkah konyolnya tentu saja disambut ledakan tawa dari Bagas dan Sari. Apalagi Doni bertingkah layaknya satpol PP yang siap menangkap basah pasangan mesum di bilik cinta.
"Muka gila Lo Don! Mana mungkin kita ciuman depan Lo pada! Kagak ada enak-enak nya diliatin jones sejati kek Lo!"
"Gila kamu Don!" Sari menimpali di sela tawa nya.
Kenangan ini nggak akan bisa aku lupain … aku akan merindukan saat-saat seperti ini, saat kebersamaan kita …,
****
Mereka tiba di situs Trowulan saat sore menjelang. Kabut tipis yang sedikit pekat menyambut kedatangan mereka. Suasana terasa horor saat kaki mereka menginjakkan tanah pertama kalinya setelah turun dari mobil.
Sari bisa merasakan aura yang tak biasa. Aura gaib yang sengaja dibuat untuk membentengi sesuatu. Bukan sembarang orang yang bisa mengeluarkan energi sekuat ini.
"Kabut abadi. Sama persis seperti dulu." kata pak Lingga yang tiba-tiba saja ada dibelakang Sari.
"Kabut abadi?"
"Hhm, lihatlah baik-baik apa yang ada dibalik kabut itu Sar!" Pak Lingga meminta Sari membuka mata batinnya.
Sari melihat ke arah yang ditunjukkan pak Lingga. Sebuah portal gaib raksasa menyelimuti situs Trowulan, seseorang melindungi daerah ini dengan baik selama berabad-abad.
"Siapa yang bisa mengeluarkan energi sehebat ini?"
"Siapa lagi kalo bukan si pembuat masalah!" jawab pak Lingga sarkas.
"Mahapatih Gajahmada?!"
Pak Lingga tidak menjawab dan hanya menyeringai. Sari memahami kekecewaan pak Lingga, kesengsaraan yang harus dijalaninya selama ratusan tahun membuat dirinya menaruh dendam yang tak berkesudahan pada sang Patih legendaris.
"Manusia memiliki sisi baik dan buruk, seperti mata koin. Siapa yang mengira ada cerita menyedihkan dibalik kesuksesan sang Patih." gumam Sari.
Mereka langsung disambut pengurus situs budaya itu. Saka telah menghubungi mereka melalui koneksinya. Dalam waktu singkat, tim Journey to the East menjalankan tugas jurnalis mereka setelah berdiskusi dengan pengelola.
Waktu merambat dengan cepat, tak banyak yang bisa diambil untuk materi liputan sore itu. Mereka akan kembali mengambil gambar keesokan harinya.
Sari baru saja selesai memotret beberapa gambar ketika ia melihat kelebatan bayangan hitam di balik candi Wringin Lawang. Bayangan hitam itu tampak mengintip gerak gerik Sari. Aura tak bersahabat seolah memanggil Sari agar terpancing menghampirinya.
Siapa disana? Aneh, daritadi memancingku untuk mendekatinya?
Lawan atau ... kawan?