
Sari dan tim Journey to the East tiba di kediaman salah satu budayawan suku Osing. Rumah yang asri dan teduh dengan kayu sebagai bahan utama dan sedikit sentuhan modern menyambut kedatangan Sari dan timnya.
Wajah pria paruh baya dengan mengenakan pakaian adat Osing tampak sumringah menyambut kedatangan Sari.
"Selamat datang di gubuk kami."
Dengan ramah Kang Pur menyapa Sari dan timnya. Istrinya yang mengenakan kebaya hitam khas wanita Osing pada umumnya juga turut keluar menyambut kedatangan tim Journey to the East.
Matahari sudah tergelincir di ufuk barat dan meninggalkan semburat jingga di langit saat tim liputan menyiapkan peralatan pendukung liputan. Sari dibantu Rara memberikan arahan pada Kang Pur dan istrinya tentang materi pertanyaan.
Sari mengambil angle terbaik agar pencahayaan dapat terserap baik dan tidak menimbulkan feedback pada kamera. Sesekali Sari melirik ke arah Rara yang tampak gusar ketika malam mulai merambat mengganti cahaya dengan kegelapan.
"Kamu kenapa Ra?"
"Badanku mulai sakit Sar."
"Lagi dapet kan? Mungkin efek dari itu." selidik Sari.
"Iya, mungkin." Rara menyentuh lehernya yang terasa kaku. Sesekali ia mendesis seolah merasakan sakit yang tertahan.
Sari memperhatikan sahabatnya itu, "Mending kamu istirahat deh Ra, ini baru hari pertama liputan lho. Jaga kesehatan."
Tangan Sari menyentuh kening Rara, tapi kemudian Rara menepisnya seolah tidak ingin Sari memperhatikan dirinya. Rara pun berlalu meninggalkan Sari.
Dingin banget, ini Rara baru keluar dari kulkas pa gimana? Perasaan cuacanya panas banget, tapi dia sama sekali nggak keluar keringat.
Bagas yang melihat hal itu berinisiatif untuk mendekati Sari. "Kenapa Sar? Ada apa sama Rara?" bisiknya pelan.
"Tau tuh, akhir-akhir ini Rara berubah. Aneh." Sari menjawab sambil merapikan kabel-kabel yang menghalangi jalan.
"Sejak makan siang itu?" Bagas mencoba menebak.
"Iya, sejak itu. Dia berubah total, nggak tahu kenapa tapi aku curiga ini ada hubungannya dengan Atikah dan dua lelaki yang selalu ikut dibelakangnya itu, udah kek bodyguard aja mereka "
"Sama aku juga ngerasa gitu, eh tapi mereka kemana ya?! Dari nyampe disini aku nggak lihat mereka bertiga." Bagas mulai penasaran dengan absennya ketiga anggota pak Lingga.
"Ehm, iya juga ya kemana mereka? Kata pak Lingga sih, mereka nanti nyusul tapi udah jam segini kok masih belum keliatan juga."
"Paling lagi jalan-jalan dulu Sar, dah biarin aja deh yang penting tim inti kita aja. Udah siap semua kan?" tanya Bagas lagi.
"Hmm, sudah … habis magrib kita mulai record aja biar nggak kemaleman. Lighting dah beres kan?!"
"Udah, tu Doni yang urus semuanya. Angle udah kamu sesuai sama dia kan!"
"Iya, udah kok. Semuanya siap tinggal take aja."
Suara adzan Maghrib berkumandang, Sari dan timnya menunaikan sholat berjamaah terlebih dahulu. Sekitar pukul tujuh malam, pengambilan gambar baru dimulai. Sari berada di sisi luar kamera memberikan pertanyaan kepada Kang Pur.
"Bisa dijelaskan pada kami sebelumnya Kang, asal muasal dari suku Osing sendiri?" Suara Sari terdengar dari belakang layar.
"Jadi begini Suku Osing penduduk asli Banyuwangi atau juga disebut sebagai Laros (akronim daripada Lare Osing) atau Wong Blambangan."
"Dulunya suku Osing adalah abdi kerajaan Majapahit. Ketika kerajaan Majapahit diserang mereka melarikan diri ke Bali, Tengger, dan Banyuwangi."
"Disinilah mereka membuat Kerajaan Blambangan. Itu sebabnya sering disebut Banyuwangi kota Blambangan."
Kang Pur menjelaskan asal usul suku Osing dengan intonasi yang baik sehingga Bagas tidak perlu melakukan re-take.
Majapahit, Blambangan … Lingga, kebetulan yang luar biasa. Penasaran siapa si Lingga itu?
Pikiran Sari berkelana dan menggali ingatannya saat berada di dimensi lain, panji-panji kerajaan Majapahit melawan kerajaan lain. Wajah ksatria yang selamat, dan … sumpah yang terdengar ditelinga Sari.
Tunggu, apa jangan-jangan Lingga adalah si kesatria itu?
"Sar, pertanyaan selanjutnya?"
"Eh, iya lupa."
Sari tersadar dan kembali mengajukan pertanyaaan. "Nasib kerajaan Blambangan sendiri gimana Kang?"
"Kerajaan Blambangan banyak dicampuri oleh VOC pada massanya terutama untuk urusan suksesi raja. Blambangan musnah setelah terjadinya perang Puputan Bayu pada 1771 antara VOC dan rakyat Banyuwangi."
"Itu adalah perang yang paling mengerikan, paling menegangkan dan paling kejam yang pernah dilakukan VOC selama penjajahan ya di Nusantara."
Sari mencatat poin penting informasi dari Kang Pur. "Peristiwa 98, apa dampaknya bagi suku Osing sendiri Kang?"
Kang Pur tampak menghela nafas dengan berat, mengingat peristiwa itu bagaikan membuka luka lama kembali. Peristiwa berdarah Santet 1998 sukses mengubah image kota Banyuwangi menjadi kota Santet yang mengerikan.
"Peristiwa 98, itu tragedi yang sungguh menyakiti hati kami mbak. Dugaan adanya permainan politik juga mencuat, tapi saya selalu menganggapnya sebagai bentuk kesalahpahaman dalam memahami seni budaya."
"Maksudnya Kang?"
"Orang-orang salah menafsirkan kebudayaan Osing dengan santet yang bersifat jahat. Santet dianggap mencelakakan orang lain, padahal menurut pemahaman kami santet itu berbeda dengan sihir."
"Bedanya?"
"Dalam budaya kami semuanya dianggap santet dan itu sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Banyuwangi. Santet lebih difungsikan sebagai pengasihan tapi sihir lebih cenderung pada ilmu yang mencelakakan dan membunuh."
"Jadi menurut budaya suku Osing santet itu baik?"
"Bukan begitu juga mbak, dalam kebudayaan kami mengenal 4 macam jenis santet. Santet putih untuk penyembuhan, merah dan kuning untuk pengasihan dan pencarian jodoh, dan yang terakhir hitam untuk mencelakakan orang."
"Jika putih dan hitam hanya bisa dikuasai oleh orang-orang tertentu maka merah dan kuning bisa dipelajari oleh masyarakat suku Osing lainnya."
"Jadi sihir itu identik dengan santet hitam dalam pemahaman suku Osing?"
"Betul sekali mbak. Tragedi 98 itu banyak membawa dampak buruk bagi masyarakat Banyuwangi. Ketakutan, trauma secara psikologis, kemerosotan perekonomian, dan tentu saja labeling buruk bagi kami di Banyuwangi."
"Tapi syukur Alhamdulillah kami bisa bangkit lagi dari masa-masa kelam itu meskipun labeling sebagai kota santet tetap melekat."
Wawancara kembali bergulir seputar masyarakat Osing yang unik. Beberapa kali re-take harus dilakukan karena gangguan suara bising dari luar lokasi pengambilan gambar.
Semakin malam gangguan itu semakin terasa kuat. Sari bisa merasakan gangguan yang tidak biasanya. Lebih dari sekedar gangguan dari manusia.
"Sari …" sapaan lembut disertai hembusan angin kecil menerpa wajahnya.
"Duh, apalagi ini?!" gumam Sari kesal.
Sari memantau keadaan sekitar, ia tidak melihat apapun sejauh matanya memandang. "Siapa yang menyapaku tadi?"
Sari meminta Bagas menggantikan posisinya. "Mau kemana?"
"Sebentar, aku pegel banget ini punggungnya." jawab Sari diikuti tatapan tidak biasa dari Bagas. Ia tahu Sari merasakan hal aneh lagi.
Sari berjalan sedikit jauh dari lokasi syuting berlangsung. Sapaan itu datang lagi padanya, tapi kali ini diiringi dengan kehadiran sosok cantik yang menyeringai padanya.
"Sari … senang bisa bertemu disini."
"Siapa kamu? Kenapa kamu bisa kenal saya?" Sari heran karena sosok itu bisa mengenalnya.
Wanita yang bahkan tidak berpijak di tanah itu memutari Sari dengan tawa kecil, dan berhenti tepat di depan wajah Sari.
"Kamu akan tahu saya pada waktunya nanti … untuk saat ini, aku hanya bisa mengawasimu tapi entah besok ketika Lingga pergi dan lengah … aku akan membawamu bersamaku … dalam keabadian."