
Tekanan berat dalam udara hampa membuat Sari tak kuasa berdiri, ia kembali pingsan. Suara tetesan air yang jatuh ke dalam lubang kecil perlahan menyadarkan Sari. Mata coklatnya perlahan mulai menangkap cahaya.
"Duuuh kan, kembali kesini lagi … kepalaku, sakit!"
Sari perlahan bangun dan mencoba berdiri dengan kepala terhuyung. "Bimasena … apa kamu ikut kemari?"
Netranya berusaha menangkap bayangan yang berkelebatan disekitarnya. Cahaya temaram dari obor yang diletakkan berjauhan membuat suasana terasa mencekam bagi Sari. Luka di lehernya tiba-tiba terasa sakit. Nyeri dan panas.
"Aah, apa ini?!" pekiknya sambil memegang leher.
Luka bekas gigitan yang dibuat Atikah dan Lingga tampak memunculkan kembali sulur pembuluh darah dengan warna kehitaman. Perlahan tapi pasti menjalar semakin lebar.
"S-sakit … Bimasena!"
"Maaf Sar, kami belum bisa menembus penghalang ini?! Kamu rasa kamu harus bersiap menghadapinya sendiri." sahut Bimasena dengan cemas.
Sari hanya bisa pasrah tapi juga kesal karena ia terpanggil ke dimensi lelembut tanpa ada peringatan.
"Hei kalian! Halo … apa kalian masih ada disini?! Mas-mas among tamu!" teriak Sari sembarangan.
"Mau kalian apaan sih, seenaknya saja keluar masukin saya di sini! Nggak pake permisi pula!" lanjutnya lagi.
"Cckk, dasar deh aki-aki semua! Nggak denger apa saya panggil!" gerutunya sendiri.
Rasa nyeri dan panas yang ditimbulkan dari luka Sari kembali menyerangnya dan itu semakin sakit hingga Sari harus kembali duduk bersimpuh.
"Aaaargh …"
...----------------...
Bimasena dan yang lainnya mendengar teriakan Sari dari dalam keputren. "Sari?!"
Abiyaksa, Mahesa dan Kandra ikut panik. "Kakak, apa Sari baik-baik saja?!" tanya Kandra si pendiam yang jarang sekali mengeluarkan kata-kata.
"Aku harap juga begitu, aku sedikit khawatir dengan kondisinya?" jawab Bimasena.
"Aku merasakan energi lain di tubuh Sari kakak, apa dia akan berubah lagi?" tanya Mahesa sambil menatap ke arah gerbang keputren.
"Betul Mahesa, aku juga merasakan hal yang sama! Tapi, aura ini sedikit gelap?!" Abiyaksa menimpali Mahesa.
Bimasena masih terdiam, ia berusaha menembus kubah gaib dan masuk ke dalam melihat kondisi Sari. Kemampuan Bimasena memang yang paling tinggi diantara keempat penjaga Sari.
Sayang, baru saja Bimasena tiba di gerbang masuk ketiga lelaki berpakaian kesatria yang tadi menyambut Sari sudah menghadangnya.
"Maaf, anda dilarang untuk masuk kedalam Bimasena!"
"Aku harus membantunya, dia tuanku!"
"Tidak, ini perintah! Jika tidak Sari akan selamanya ada di dimensi lelembut!"
"Apa maksud kalian?"
"Sari harus melawan dirinya sendiri, mengalahkan nafsu duniawinya dan mengalahkan rasa haus akan darah yang tertanam padanya."
"Dan itu harus dia lakukan sendiri tanpa bantuan para penjaga."
"Dia yang terpilih, seharusnya dia bisa melakukannya! Jika tidak pilihannya hanya bergabung dengan pasukan Lelembut di bawah penguasa kami atau menjadi kesatria baru." kata salah satu pria itu dengan tenang.
Bimasena masih belum bergeming dari tempatnya. "Pergilah dan biarkan semua berjalan sesuai ramalan."
Tidak ada pilihan lain bagi Bimasena untuk kembali ke raganya. "Berjuanglah Sari!" katanya ketika membuka mata.
...----------------...
Sari menggeram, suaranya berubah berat. Tangannya mengepal sempurna diatas lantai. Sisi manusia dan sisi iblis yang ditanamkan Airlangga mulai bereaksi.
Jika pada saat menghadapi para pemburu ia bisa bersinergi dengan aura kujang Siliwangi, lain halnya sekarang. Sari lepas kontrol. Kedua racun itu saling serang dalam tubuh Sari, seolah berlomba siapa pemenangnya.
"Badanku kenapa? Ini sakit sekali …,"
Suara tawa terdengar mulai mendekati Sari. Suara yang kemarin ia dengar, suara dari makhluk bayangan yang belum ia kalahkan.
"Wah … wah, lihat siapa yang kembali?! Wanita dalam ramalan yang cantik!" Makhluk itu tertawa lagi dengan sombongnya.
Sial, kenapa dia datang disaat seperti ini! Aku nggak bisa gerak sama sekali, sakit!
"Kenapa diam?! Sakit gigi atau sakit hati karena tidak bisa mengalahkanku?!" Makhluk kegelapan itu mendekati Sari.
Sari belum bisa melihat rupanya, ia membelakangi cahaya yang terlihat hanya bayangan gelap. Dengan menahan rasa sakitnya, Sari berusaha mendongak menatap ke arah makhluk itu.
"Ketawa kamu jelek banget tau nggak?!"
Makhluk itu kembali tertawa dan dengan mudahnya berpindah tempat dari satu sisi ke sisi lain dalam gelap. Sari dibuat pusing oleh dirinya.
"Bisa diem bentaran nggak, apa emang hobi kamu petak umpet?!"
Sari kembali tersiksa dengan sakit yang tak biasa. Ia memejamkan mata, mengatur energinya dan memusatkan konsentrasi. Perlahan ia bisa merasakan aliran darahnya sendiri,mendengar detak jantungnya yang terus memompa darah ke seluruh tubuhnya tiada henti.
Sari bisa merasakan darahnya mengalir di setiap pembuluh darahnya. Darah yang mengalir deras membuat adrenalin nya ikut terpacu. Nafasnya memburu membayangkan setiap tetes darah yang mengalir di tubuhnya.
Sementara Sari berusaha menyeimbangkan energi, makhluk bayangan itu terus berputar menggoda dan memancing Sari agar bergerak dan melawannya. Ia tertawa dan mengejek Sari.
Sari berada pada titik tertinggi konsentrasinya. Suara detak jantungnya tak terdengar lagi. Ia kini mendengar detak jantung lain yang ada disekitarnya. Sari masih terpejam dan berusaha mencari dimana sumber suara.
Sakit yang tadi ia rasakan berganti dengan kepekaan tinggi. Penglihatannya berubah menjadi luar biasa, meski matanya terpejam Sari bisa melihat dengan jelas. Detak jantung itu membimbingnya.
I find you beast!
...****************...
...malam semuanya......
...mohon maaf Sari slow up dl yaa...karena satu dan lain hal....
...mohon doanya yaa biar sy sehat lagi, kuat lagi dan yg penting nda miring otaknya buat nulis 🤭 🙏🙏...
...love u all...keep save and healthy ya semuanya......
...sampai ketemu lagi my lovely reader🙂...