
Mereka keluar dari area pemakaman karena hari mulai gelap. Di depan gerbang Lingga dan Saka telah menunggu mereka.
"Kalian sudah kesini dulu rupanya." sapa Lingga.
"Iya, kami sekalian check out terus mau pulang ke rumah."
"Oke, hati-hati dijalan. Kita ketemu dua Minggu lagi dikantor."
Sari tidak menjawab, ia menatap Lingga sejenak lalu berlalu dan masuk ke dalam mobil. Bagas dan Doni pun berpamitan lalu menyusul Sari.
Lingga hanya tersenyum menatap mobil yang membawa Sari dan yang lainnya pergi.
"Apa saya perlu mengutus orang untuk mengawasi rumah mbak Sari?" tanya Saka.
"Nggak perlu, kita biarkan dia dulu. Aku yakin dia akan datang padaku dengan sendirinya."
Sari masih diam tak bersuara menatap keluar jendela. Bagas dan Doni saling berpandangan, memberi kode untuk memecah keheningan dalam mobil.
"Sar, gue nginep rumah Lo boleh kan?" tanya Doni dengan hati-hati.
"Hhm, boleh." Sari menjawab tanpa mengalihkan perhatiannya.
"Gas, Lo juga mau nginep rumah Sari kan?"
"Iya deh semalem, takut kalo Lo salah ngenalin kamar. Bahaya urusannya!" sahut Bagas.
"Hhhmm, segitunya Gas sama gue. Aman … aman dia gue jagain kagak bakal cuil dah!" Doni menimpali Bagas berharap Sari akan tertawa mendengarnya.
Bagas dan Doni sengaja melemparkan candaan untuk menghibur Sari, sayangnya Sari tidak juga bergeming. Ia justru memejamkan matanya, menjernihkan pikirannya yang benar-benar kusut saat ini.
Tak terasa mereka tiba di rumah kontrakan Sari. Mbak Pur sudah menyambutnya didepan pintu.
"Mbak Sari … duh Gusti kangene aku sama mbak Sari!" sambutnya seraya memeluk erat tubuh Sari
"Apa kabar mbak Pur, sehat kan? Sari juga kangen sama mbak Pur. Gimana rumah amankan?" tanya Sari setelah melepas pelukan asistennya itu.
"Aman dong mbak, siapa dulu … mbak Pur!" sahutnya dengan menepuk ringan dadanya sendiri membuat Sari tersenyum.
Sari segera masuk ke dalam rumahnya, membiarkan mbak Pur sibuk menyambut Bagas dan Doni dengan celotehan khasnya.
Sari merebahkan tubuhnya dalam kamar, ia merindukan suasana rumah yang ditinggalkannya hampir sebulan. Di kamar ini sebulan yang lalu, Rara masih bersama Sari berbagi cerita sampai malam. Sari menghela nafas dalam.
Ponselnya berbunyi, Mom Adeline memanggil. "Ja mam, Sari is thuisgekomen."
(Ya mam, Sari sudah sampai dirumah.)
"Alles goed schat? ( Apa kamu baik-baik saja sayang)
Sari terdiam sejenak, memejamkan mata agar tidak lanjut menangis. Mom Adeline memahami putrinya, ia sudah mendengar kabar dari Bagas tentang Ahmad dan Rara.
"Menangis lah sayang, itu akan membantumu mengurangi beban mu."
"Mom, ini benar-benar berat. Sari nggak yakin bisa jalani semua mom …," tangis Sari pecah.
"Kenapa Sari nggak kuat, Sari anak mom … Sari pasti bisa!"
"Dingen zijn ingewikkeld!"
(Masalahnya rumit!)
"Tidak ada masalah yang rumit kalau kamu berserah pada Yang Kuasa sayang. Ikhlas dan jalani semua takdirnya."
"Tapi …,"
"Semua masalah memiliki jalan keluar sayang, Tuhan tidak akan menguji hambaNya melebihi batas kemampuan." kata Mom Adeline lagi di seberang sana.
"Ya mom, Sari akan coba menerimanya." jawab Sari pelan.
"Mam weet dat je het kan schat."
(Mom tahu kamu pasti bisa sayang)
"Hmmm, bedankt mama voor de steun."
(Hhmm, makasih mom atas dukungannya.)
"Baiklah, istirahat dulu. Pikirkan baik-baik apa yang harus kamu lakukan. Mom mendukungmu sepenuhnya."
"Ik hou van je mama." (Aku sayang mom)
"Mama houdt ook van jou." (Mom juga sayang kamu.)
Sari menutup panggilan dari Mom Adeline. Ia merenung sesaat, berbicara dengan mom Adeline cukup membuatnya lega.
Mom benar, aku harus kuat!
"Mbak … mbak Sari makan dulu yuk, mbak Pur dah buatin makanan kesukaan mbak Sari lho." Suara mbak Pur terdengar dari luar kamar.
Sari membuka pintu kamarnya dan mengembangkan senyum. Ia mengangguk dan segera bergabung dengan Bagas dan Doni dimeja makan.
"Kita off dua Minggu, lumayan rehat dulu sebelum liputan lagi." Bagas membuka pembicaraan.
"Besok aku mau ngajukan surat pengunduran diri. Aku nggak ikutan lagi." sahut Sari datar.
"Eeh, Lo serius mau mundur?" Doni memastikan keputusan Sari.
"Iya serius! Aku nggak sanggup aja ngelanjutin. Besok aku urus semuanya termasuk masalah uang dari si Lingga."
Bagas dan Doni saling berpandangan.
"Kamu sudah yakin dengan keputusanmu?" tanya Bagas sekali lagi.
"Hmmm, aku yakin dan seharusnya dari pertama aku sudah ngajuin pengunduran diri."
"Kamu mau mundur dari liputan atau …,"
"Semuanya Gas, aku mau nenangin diri. Pulang ke Amsterdam, aku kangen mom."
"Apa itu berarti kamu melarikan diri?" tanya Bagas dengan hati-hati.
"Kenapa kamu anggap itu melarikan diri? Aku cuma perlu waktu buat mikir dan tenang Gas?!" ujar Sari dengan helaan nafas berat.
"Ok, kalo itu mau kamu … aku dukung semua keputusan yang terbaik buat kamu Sar." kata Bagas sambil menggenggam tangan Sari erat.
"Aku duluan ya, capek." Sari menyudahi makan malamnya meskipun makanannya belum habis.
"Don, Lo yakin Sari …,"
"Yakin!"
"Iiish gue belum selesai ngomong juga!" protes Bagas.
"Baik-baik saja kan? Itu yang mau Lo tanyain? Gas, calon makmum Lo itu superhero cewek. Jadi Lo kagak usah khawatir dia bakalan baik-baik saja."
"Hhmm, iya juga sih. Cuma gue khawatir aja." Bagas menatap ke arah pintu kamar Sari yang sudah tertutup.
"Gue yakin dia bisa kok, dia ditakdirkan untuk itu." ujar Doni yakin.