
Di lain tempat, Rara mondar mandir kebingungan. Ia menunggu kedatangan seseorang, hatinya gelisah tak menentu. Bingung, takut, marah dan sedih bercampur aduk di hatinya.
"Atikah mana sih, kok belum datang juga?!"
Sesekali Rara melihat ke arah kanan dan kiri menanti kemunculan Atikah dan juga Rey. "Menanti seseorang?!"
Seseorang dengan suara berat menyapanya dari belakang. Rara menoleh dan terkejut dengan kedatangan Airlangga. Seketika ia gemetar dan mundur perlahan.
"Aku … nggak, aku nggak nunggu siapa-siapa?!"
Rara bingung harus berhadapan dengan Airlangga, sang Pemimpin. Saat di pasar tadi, Airlangga mengancam dirinya dan menyuruhnya untuk meninggalkan Sari. Ia yang masih tergolong pengikut baru, takut pada Airlangga apalagi Atikah pernah bercerita padanya tentang kekejaman Airlangga.
Masih terekam dengan jelas dalam ingatannya bagaimana Airlangga membuat perubahannya sempurna. Airlangga adalah sosok yang berada dalam gelap.
Atikah pernah berpesan padanya untuk jangan mendekati Airlangga atau kematian akan segera menjemputnya. Ancaman yang menakutkan bagi Rara sebagai pengikut baru.
"Jangan berbohong! Apa yang dikatakan Atikah tentang aku?" Airlangga menatap Rara tajam dan berjalan mendekatinya perlahan.
"Atikah? Ehm, tidak dia nggak bilang apa-apa tentang kamu!" Rara semakin gugup ditambah Airlangga yang tiba-tiba saja sudah berada di belakangnya dan kembali berbisik di telinganya.
"Aku yakin kau bukan penghianat seperti halnya dia kan?"
"Aku? Nggak … aku nggak mungkin berkhianat Airlangga?!" jawab Rara dengan nada rendah.
Airlangga mengambil sejumput rambut milik Rara dan menciumnya, nafasnya terasa menggelitik saat menyentuh leher Rara membuat seluruh bulu di tubuh Rara meremang.
"Benarkah? Gimana kalo saya meragukan kamu … apa jaminannya buat saya?!"
"Gugup? Jangan takut, saya cuma mau memastikan sejauh mana kesetiaan kamu?!" Airlangga mengembangkan senyuman iblis di bibirnya.
"Atikah sudah mati, kamu nggak perlu nunggu dia disini! Pengkhianat itu mati di tangan Lingga, itu lebih baik jadi aku tidak mengotori tanganku sendiri." Lanjutnya lagi dengan tertawa.
"Mati? Kenapa pak Lingga bunuh dia?" tanya Rara berbalik menghadap Airlangga tapi Airlangga telah berpindah tempat dan kini berdiri di posisinya semula.
Rara terkejut, dan kembali memutar tubuhnya. "Jelaskan, apa yang terjadi sebenarnya Airlangga?!"
"Dia sudah tidak berguna lagi untukku! Kelakuannya menyebalkan, seolah-olah dia akan menjadi pendampingku." Airlangga menjawab tanpa menoleh sedikitpun pada Rara.
"Waktunya untuk mengabdi padaku sudah habis, jadi … aku biarkan dia menghadapi Lingga dan mati."
"Begitu ya, jadi aku …" Rara menunduk, ia bingung harus bagaimana karena selama ini Atikah yang membantunya mendapatkan darah segar.
"Belajarlah berburu, kuatkan dirimu tanpa bantuan orang lain! Karena aku membutuhkanmu sebagai pengganti Atikah!"
Airlangga berjalan mendekati Rara lagi, "Tapi ingat satu hal jangan pernah menyentuh Sari, dia milikku! Hanya aku yang bisa mengusiknya dan jika kau nekat mengacaukan rencanaku … aku tidak segan-segan membunuhmu dengan cara yang menyakitkan!"
"Ingat itu!" Airlangga menepuk bahu Rara dan berlalu meninggalkannya.
Rara terdiam, kakinya masih gemetaran. Aura gelap Airlangga begitu kuat menekan dirinya yang masih awam dengan hal itu.
"Gimana ini, aku harus berburu? Dimana, bagaimana … kenapa semuanya jadi sulit begini?!" Rara menarik rambutnya dengan kuat.
"Semua ini gara-gara Sari, kalo aja dia ada d kantor nemenin aku waktu itu Rey nggak akan bikin aku berubah! Atikah juga mati karena dia! Aku benci dia … aku benci kamu Sari! Lihat aja, aku bakal bikin hidup kamu menyedihkan!"