
Sejenak Sari merasakan putaran hebat di kepalanya, ia jatuh terduduk, darah segar keluar dari hidungnya. Sari mengusap darah yang keluar dengan tangannya,
"Ini kali pertama aku begini? Ada apa ini, tubuhku terasa sakit semua?!" gumamnya dengan nafas tersengal.
Ia melihat ke arah Airlangga, pandangannya mulai kabur tapi Sari yakin Airlangga sedang tersenyum menatapnya.
"Apa yang dia lakukan padaku?! Ini … sesak sekali!"
Nafas Sari benar-benar habis, kepalanya pusing, dan akhirnya ia tidak mampu mengontrol kesadaran dirinya.
Tubuhnya terasa ringan, seseorang membawanya. Sayup-sayup Sari mendengar suara pertengkaran dua lelaki, ia mengenali salah satu diantaranya.
Siapa … siapa yang bertengkar? Pak Lingga kah? Apa yang sebenarnya terjadi?
Sari berpura-pura tidak sadarkan diri. Energi kuat seolah menari nari disekitarnya, saling serang dan bertahan membuat benturan energi itu terasa menghimpitnya ke bumi.
Sari membuka matanya perlahan, ia tergeletak di tanah dengan posisi tertelungkup. Sari bisa melihat dua orang bertarung sengit, mereka mengeluarkan suara geraman seperti binatang buas. Gerakannya cepat sekali, sulit diikuti mata biasa.
Apa yang kalian ributkan? Haus … aku kehausan, tenggorokan ku kering sekali …,
Sari berusaha bergerak dan bangun perlahan, ia benar-benar kehausan. Dengan tertatih Sari berjalan, lehernya terasa panas seperti terbakar. Sari kesakitan dan kembali terjatuh.
Ada apa dengan ku? Ini panas sekali …,
Seorang wanita mendekatinya, "Akhirnya … sempurna, kamu haus Sari?"
Sari mengangguk dengan posisi masih duduk di tanah, matanya tidak fokus menahan sakit. Ia hanya melirik wanita itu,
"Atikah … mau apa kamu?" Sari bertanya di sela sisa nafasnya.
"Memberi kau minum tentu saja, kehausan kan?"
Tenggorokan Sari mengering, ia menelan ludahnya sendiri. Kesadarannya mengambil alih untuk tidak percaya Atikah.
"Pergi, aku nggak perlu bantuan kamu!" usirnya dengan lemah.
"Benarkah? Kau akan sangat membutuhkan ini Sari?!"
Atikah menyeringai pada Sari, dengan cepat ia memotong urat nadinya sendiri. Darah menetes, hidung Sari seolah mencium aroma manis yang menggodanya. Ia kembali menelan ludahnya, membayangkan kesegaran yang ditawarkan Atikah.
"Aku tahu kau menginginkannya mendekatlah Sari dan rasakan manisnya!" bisik Atikah dengan menjilati tangannya yang berlumuran darahnya sendiri.
"Tahan Sar! Jangan turuti tubuhmu!"
Sejurus kemudian Sari hanya melihat seorang lelaki berada di depannya dengan pedang panjang berkilau berwarna biru keputihan yang menyilaukan matanya.
Sari kembali mendengar perdebatan, kali ini ada tiga suara. Kesadarannya benar-benar lemah, ia kembali jatuh terkulai. Matanya melihat tapi dengan visi yang lain, semuanya serba jingga seperti berada di gelapnya malam dengan memakai perlengkapan night vision.
"Sudah kuduga kau akan berkhianat!"
"Aku tidak berkhianat, hanya memilih kawan yang tepat Lingga?!"
"Kalau begitu waktunya bagimu untuk menyusul penciptamu!" Lingga menggeram.
"Kau pikir aku takut? Aku tidak peduli meskipun harus mati ditanganmu! Kematian ku akan terhormat karena membela dia!"
"Wanita bodoh, setelah kau mengubah Lita sekarang kau mau mengubah Sari? Jangan mimpi! Siapa yang kau bela?!"
Atikah terbakar emosi dan mulai menggeram, ia menyerang Lingga bertubi-tubi.
"Sadarlah Atikah, dia bahkan pergi meninggalkanmu disini! Mana pangeranmu itu?!" Lingga mengingatkan Atikah yang semakin terbakar amarah.
"Diam dan bertarung lah denganku Lingga!"
"With pleasure, dear!"
...----------------...
Sari mendengarnya dengan jelas, itu suara pak Lingga. Perkelahian hebat sedang terjadi, dan tak lama kemudian kilatan cahaya menyilaukan mata Sari diiringi teriakan panjang suara wanita yang menyayat hati.
Sari tercekat, saat melihat potongan kepala menggelinding di dekat kakinya. Matanya melotot dengan darah yang masih mengucur dari potongan lehernya. Bukan merah seperti darah manusia biasa tapi hitam. Tak butuh waktu lama, potongan kepala itu perlahan hangus dan berubah menjadi debu hitam.
"Atikah …"
Pak Lingga kembali menyambar tubuhnya, menyelamatkan Sari yang berada di titik kritisnya. Ia menyibakkan rambut Sari, tampak luka di lehernya semakin menampakkan sulur-sulur hitam yang telah menyebar luas.
"Gawat racun itu bekerja lebih cepat dari dugaan ku! Cepat atau lambat Sari akan berubah, penawarnya harus didapatkan segera!" Pak Lingga bermonolog dan berpikir cepat.
"Maaf Sar, ini satu-satunya jalan untuk menghambat racun itu menjalar. Aku harap kamu kuat?!"