
Sari berada di ketinggian yang tertutup oleh lingkaran energi kuat yang melindungi mereka berdua. Sari penasaran dengan wajah orang yang menyelamatkan dirinya. Ia menoleh ke arah lelaki misterius itu. Cahaya bulan yang membelakangi wajah si pria membuat Sari tidak dapat melihatnya dengan jelas.
"Siapa kamu, kenapa bantu saya?"
Pria itu melirikkan matanya ke arah Sari, ia tidak menjawab dan terus memperhatikan ketiga orang itu dari atas. Sari mengalah dan memilih ikut memperhatikan Atikah, Rey dan juga Rara.
Atikah yang mendekati tempat Sari tadi bersembunyi, dikejutkan dengan kemunculan ular besar yang berjalan pelan. "Rupanya cuma hewan malam, aku pikir tadi siapa?"
"Yakin? Aku bisa merasakan energinya, itu mirip dengan milik Sari." ujar Rey sembari memeriksa keadaan sekitar. Mencari jejak sisa energi milik Sari yang mungkin saja tertinggal.
"Sari? Hmm, kamu benar energinya mirip tapi … kemana dia menghilang?"
"Ra, kamu yakin nggak ada yang ngikutin kesini?" Atikah bertanya pada Rara dan langsung dijawab dengan anggukan kepala Rara.
"Lebih baik kita segera pergi, Rara butuh energi buat tubuhnya malam ini kalo nggak dia bisa mati." ajak Rey pada Atikah untuk meninggalkan tempat itu.
Pria misterius itu dan Sari masih memperhatikan ketiganya dari ketinggian. Setelah keadaan dirasa aman, pria itu membawa Sari turun dan membuka pelindung energinya. Sari baru mengenali pria penyelamatnya itu.
"Pak Lingga?"
"Kaget?"
"Nggak juga, dari awal saya tahu bapak bukan orang biasa."
"Gadis pintar." sahut pak Lingga singkat.
"Sebenarnya siapa mereka? Bukannya mereka bagian dari tim bapak, kenapa malah mereka seperti … berkhianat?"
Pak Lingga tertawa, kata berkhianat membuatnya tampak bodoh. "Mereka bagian makhluk kegelapan, pengabdi setan, pemuja kedigdayaan."
"Eh, kok serem amat dengernya? Kok bisa bapak ambil mereka jadi bagian tim?!"
"Saya menguji kesetiaan mereka dengan melibatkan ketiganya dalam tim. Sebenarnya saya sudah curiga sejak dulu, mereka merencanakan sesuatu dibelakang saya."
"Saya masih belum paham arah pembicaraan bapak kemana."
Pak Lingga menatap Sari dan berjalan mendekatinya. Tangannya menyibakkan rambut Sari dan memeriksa bekas luka yang masih tampak terlihat jelas meski Sari berusaha menutupinya.
"Mereka menanamkan racun di tubuhmu. Cepat atau lambat, kamu akan berubah seperti mereka atau menjadi bonekanya."
"Racun? Apa maksudnya?"
Pak Lingga menatap tajam Sari, "Racun yang sama yang telah mengubah wanita tadi."
"Jangan bercanda deh pak, sumpah ini nggak lucu?!" Sari berusaha mengelak informasi dari pak Lingga.
"Kamu pikir ini semacam lelucon?" Pak Lingga menanggapinya dengan serius.
Pak Lingga menarik nafas dalam, ia mulai bercerita tentang wanita mengerikan yang tadi menyerang Sari.
"Namanya Lita, dulu dia gadis yang baik. Periang, cantik dan energik. Dia putri dari pemilik perkebunan di suatu daerah yang jauh dari sini." Pak Lingga menggali kenangannya dari sosok wanita yang bernama Lita.
"Lita dulu cantik, sangat cantik malah. Siapa pun ingin menjadi kekasihnya tapi sayang Lita mencintai orang yang salah. Dia jadi menderita seumur hidupnya hingga sekarang. Berada ditengah-tengah dua dunia. Bangsa manusia dan lelembut."
"Maksud bapak, Lita jadi roh penasaran?"
"Bukan juga, dia … menggadaikan jiwanya. Mengubahnya menjadi sosok wanita mengerikan yang haus darah. Sisi manusianya telah hilang dan kini berubah menjadi bagian dari kegelapan."
"Demi mendapatkan kecantikan dan keabadian ia rela menggadaikan kebebasannya sebagai manusia pada salah satu makhluk keji yang hidup dari darah." Pak Lingga menahan rasa yang mendalam, kekecewaan jelas terpancar dari raut wajahnya meski tertutup oleh gelapnya malam.
"Dia diubah menjadi hewan tanpa belas kasih. Menjadi abadi bukanlah kebanggaan tapi itu adalah bagian dari penyiksaan." Pak Lingga menutup ceritanya. Ia enggan bicara lebih banyak lagi tentang Lita.
"Cerita yang menarik tapi saya nggak bisa percaya cerita itu. Maaf."
Pak Lingga kembali menatap Sari, "Untuk saat ini kamu pasti tidak bisa mempercayainya Sar, tapi percayalah berjalannya waktu kamu akan paham. Dan ketika waktunya tiba kamu harus memilih bergabung dengan mereka atau bersama saya mencari penawar racun di tubuhmu."
Sari masih menatap tidak percaya pada Pak Lingga, apa yang didengarnya seperti sebuah kisah dalam film-film drama Korea atau mungkin cerita horor ala Barat.
"Kita lihat aja nanti gimana deh pak, otak saya masih belum nerima hal itu? Berasa masuk dalam dunia film aja, kek vampir-vampir ala jaman now." sahut Sari dengan senyuman masam.
"Terserah, tapi ingat pesan saya! Jangan jauh-jauh dari saya, mereka nggak bisa menandingi kekuatan saya."
"Waah keren …sakti dong! Boleh berguru?" gurau Sari.
"Kamu juga bukan perempuan sembarangan kan? Kamu punya kekuatan bahkan empat penjagamu itu luar biasa."
"Lho bapak tahu penjaga saya?"
Pak Lingga hanya tersenyum, ia kemudian beranjak pergi berlalu meninggalkan Sari yang masih termangu di tempatnya.
"Ingat Sar, hati-hati dengan Rara?! Dia bisa menyerangnya kapan saja!" Pak Lingga berpesan sebelum ia menghilang ditelan gelapnya malam.
Apa boleh buat, jika benar Rara menjadi musuhku semuanya harus aku akhiri dengan cepat!