
Sari, Bagas, Ahmad dan Doni bergegas mengikuti Kang Pur dan beberapa warga yang melapor. Mereka pergi ke kandang ternak milik warga desa.
Hampir disetiap kandang ada hewan yang tergeletak mati. Semuanya dengan luka yang sama, dua buah lubang di leher dan sepertinya ternak - ternak itu kehabisan darah.
Kang Pur memeriksa satu persatu hewan yang mati, ia juga memeriksa kondisi kandang dari kemungkinan kerusakan paksa. Tapi nihil, semuanya tampak normal. Tidak ada satu pun kandang yang dibuka paksa.
"Sepertinya bukan ulah hewan liar." gumam Kang Pur.
Sari yang sedari tadi memperhatikan ternak yang mati itu memberanikan diri untuk mendekat.
Ini luka gigitan yang cukup lebar, nggak ada darah menggenang disekitar tubuh hewan … itu berarti darahnya habis! Jangan-jangan ini ulah mereka?!
"Sar, jangan kelamaan didalam kandang gue takut kecantikan Lo luntur." kata Doni menegur Sari.
"Cck, apa hubungannya coba?!"
"Kagak ada, cuma gue kagak suka aja Lo bau kambing!" sahut Doni cengengesan.
Sari mendengus kesal, ucapan Doni membuatnya segera keluar dari kandang.
"Haaaaatchiiii!" Sari tiba-tiba saja bersin.
"Naaah kan bener kata gue, kena dah Lo alergi bulu eh alergi kandang!" seru Doni pada sahabat cantiknya itu.
"Nggak kok, aku nggak alergi bulu cuma … haaatchiii …," Sari kembali bersin hingga beberapa kali.
"Kata orang kalo kamu bersin tandanya ada yang lagi ngomongin kamu dibelakang." Bagas mendekati Sari dan menyodorkan tisu pada nya.
"Thanks. Iya kali ada yang lagi ngomongin aku nih! Kangen kali ma aku?!"
"Bulu mata kamu jatuh nda?!" tanya Bagas.
"Ini lagi, ngapain nanya bulu mata?!" gerutu Sari.
"Eh bule pasar bulu, Lo kelamaan di Belanda siih jadi kagak tau mitos begituan? Bulu mata jatuh katanya ada yang kangen!" Doni menimpali perkataan Bagas.
Dan Sari hanya menanggapinya dengan santai. "Biarlah, kan aku terkenal Don!"
"Iya bener, terkenal dari bangsa manusia sampe bangsa lelembut!" ujar Doni yang diikuti tatapan sebal ke arah Sari.
Sari tertawa melihat tingkah Doni tapi sejurus kemudian tawanya hilang. Rara muncul dari balik pohon besar tak jauh dari mereka berada.
"Rara …"
Ketiganya langsung menoleh ke arah Rara. "Nah lho tu bocah ngapain disana, ujug-ujug dateng udah kek jelangkung aja datang tak dijemput pulang dianter rame-rame?!" kata Ahmad.
"Pulang sendiri aja kali Mad, ngapain dianterin rame-rame!" Doni menimpali perkataan Ahmad.
Aura hitam pekat tampak menyelimuti Rara. Sari waspada, aura gelap yang semula hanya berupa kabut tipis tampak semakin pekat menyelimuti Rara.
"Iya, gue tahu! Hati-hati aja Sar, jangan bertingkah di depan banyak orang! Gue jagain Bagas ma Ahmad. Lo sebisa mungkin alihin perhatian dia dari mereka." Doni mengarahkan Sari apa yang harus ia lakukan.
"Kekuatan Rara semakin besar deh, perubahannya cepet banget." bisik Sari pada Doni saat Rara mulai mendekati mereka.
"Nanti kita ngobrol sama pak Lingga, dia pasti tahu penyebabnya! Untuk sekarang lebih baik bersikap biasa aja!" sahut Doni.
"Woy, Lo berdua ngapain sih? Bisik-bisik sendiri! Curiga gue?!" tanya Ahmad penasaran mendengar bisikan mereka berdua.
Bagas hanya menatap Sari tanpa meminta penjelasan. Ia tahu sesuatu telah terjadi dan ia enggan menanyakannya pada Sari.
"Mau tahu aja Lo Mad, urusan orang tua kagak usah ikutan!"
"Iiissh, orang tua … lagak Lo, Don udah kek Simbah dukun!"
"Kagak napa-napa dah Mbah dukun juga … yang penting duitnya banyak!" Doni menyahuti perkataan Ahmad.
Rara semakin mendekat, matanya terlihat berbeda saat menatap Sari. Penuh kebencian dan kilatan merah itu kembali terlihat di mata Rara.
"Ra, kok kamu tahu kita disini? Kamu darimana? Kita nyariin kamu lho?!" tanya Sari pada Rara saat jarak mereka mulai memendek.
"Pergi sebentar, ada urusan." jawabnya datar. Ia melalui Sari dan melongok ke dalam kandang.
"Kenapa itu?" tanyanya tanpa ekspresi.
"Entah, mati mendadak … misterius?!" sahut Sari.
Sari menangkap bibir Rara yang tersenyum. Senyuman mengerikan dari seorang Rara yang ia kenal.
Apa ini ulahnya …, batin Sari
Rara berbalik dan menatap Sari tanpa banyak bicara, ia mendekati Sari dan berdiri sejajar dengannya. Rara berhenti dan menoleh pada Sari seraya berbisik,
"Ini baru permulaan, sebaiknya kamu kerja dengan cepat sebelum satu persatu dari mereka menemui ajalnya!"
"Ra, mereka juga temen kamu! Jangan pernah sakiti orang yang peduli sama kamu!" Sari balas berbisik.
"Oh ya? Dimana kamu saat aku butuh bantuanmu?"
Mereka saling bertatapan, tidak ada yang mau mengalah. Aura mereka yang berlawanan saling bersinggungan. Rara akhirnya membuang wajahnya dan kembali berjalan dengan angkuh.
"Tunggu pembalasanku Sari … tunggu saja, kita lihat siapa yang menang!" ujar Rara dengan lirih.
Sari menatap nanar tubuh sahabatnya itu, ia tak mengira kebersamaan mereka selama ini kini telah hancur.
Sebenci itukah kamu Ra?! Baiklah, Lo jual gue beli! Meski itu terlambat aku nggak akan menyerah, meski taruhannya nyawaku sendiri!