
Sesaat setelah menyantap dan meminum hidangan dari Nek Surti rasa aneh menjalari tubuh keduanya mereka gelisah, panas dan merasakan emosi yang mengaburkan kewarasan otak mereka. Nafas mereka memburu dan pupil matanya berubah memerah secara perlahan.
Nek Surti pun tertawa penuh kemenangan. Lingga dan Airlangga berhasil ditaklukan. Hidangan yang disajikannya mampu membangkitkan roh jahat yang bersemayam dalam tubuh keduanya.
Airlangga berubah beringas sementara Lingga berusaha meredamnya sekuat tenaga. Ilmu Kanuragan yang dimilikinya masih cukup untuk bisa melawan nek Surti.
"Apa yang kau lakukan nenek tua!"
"Aku? Tidak ada, aku hanya memanggil roh jahat dalam tubuh kalian! Kalian akan bersekutu denganku selamanya!" jawabnya dengan tawa mengerikan.
"Kau …" Lingga yang masih bisa menguasai sisi manusianya seketika mengeluarkan keris hitam dengan aura pekat yang kuat.
Pertarungan sengit tak terelakkan diantara keduanya. Nek Surti pun tak mau kalah, wujudnya boleh wanita tua tapi tenaganya tak bisa disandingkan dengan remeh. Berkali-kali Lingga jatuh terjerembab karena pukulan Nek Surti.
Pukulan dan tendangan ia terima, bukan karena ia tak mampu melawan tapi karena pengaruh racun dalam makanan yang diberikan Nek Surti.
Melihat Lingga semakin tidak berdaya, Nek Surti mengendurkan serangannya. Ia tertawa lepas dan kemudian berkata, "Terima dan jangan kamu lawan Lingga, itu tidak akan menyakitimu. Aku hanya sedikit membangkitkan energi jahat dari dalam tubuhmu!"
Lingga semakin merasakan tidak karuan di tubuhnya. Panas dan sakit yang membuat seluruh sel tubuhnya berteriak.
"Bayangkan dunia dalam genggaman tangan kita! Aku, dia, dan kau!"
"Kita akan menguasai dunia dan mengisinya dengan iblis!" sambungnya lagi.
"Tidak akan pernah aku ijinkan!" seru Lingga seraya menghujamkan kerisnya ke perut Nek Surti. Bukan hanya keris tapi sedikit lecutan energi panas juga disarangkan tepat pada jantungnya.
Nek Surti yang lengah pun ambruk tak berdaya, dia yang memiliki kesaktian luar biasa bisa dikalahkan oleh manusia abadi bernama Lingga. Matanya mendelik merasakan kengerian, darah pun mengalir dari mulutnya yang terbuka. Dan sebelum ajal menjemputnya, ia sempat mengatakan sesuatu.
"Kau dan saudaramu akan selamanya berada di sisi yang berseberangan … Airlangga akan menjadi musuhmu, aku turunkan ilmuku padanya …" ucapnya seraya membisikkan mantra yang tak jelas.
Sebuah cahaya merah melesat keluar dari tubuh Nek Surti dan langsung menghantam tubuh Airlangga, ia mengerang menahan rasa. Matanya memerah tapi seketika berangsur normal. Ia merasakan kekuatan yang luar biasa. Kekuatan baru yang akan membawanya pada malapetaka ciptaannya sendiri.
Lingga tak mampu berbuat apa-apa, ia mendekati Airlangga untuk memeriksa keadaannya tapi yang terjadi justru Airlangga menyerang dengan keris pusaka peninggalan sang ayahanda.
Airlangga berhasil melukai Lingga di dadanya, dan luka itu masih meninggalkan bekas yang cukup dalam hingga saat ini. Luka yang akan mengingatkannya pada saudara kembarnya sepanjang masa.
****
Lingga terus berjalan menyusuri jalanan gelap dengan kekuatannya. Dia berjalan di antara dua dimensi, membuatnya tak terlihat oleh mata manusia biasa.
Ia tiba di sebuah rumah besar dengan lampu temaram. Sekilas tak ada yang aneh dari rumah itu, tapi jika diperhatikan dengan benar rumah itu memiliki pagar gaib yang hanya bisa dilihat oleh mata manusia tertentu saja.
Pak Lingga menyapu keadaan sekitar yang hening dan sunyi. Tapi itu hanya terjadi sesaat karena ketika ia melangkahkan kakinya, dua sosok yang dikenalnya muncul. Rey dan Bram.
Pak Lingga menyeringai pada keduanya, ia memang mengharapkan Rey dan Bram datang kepadanya.
"Menemui kalian tentu saja." jawab pak Lingga.
"Jika kedatanganmu untuk bernegosiasi maka itu sia-sia!" sahut Bram terdengar keras.
"Kalian lupa siapa tuan kalian sebenarnya? Kalian berdua adalah orang ku, kenapa sekarang berbalik menjadi musuh?" sinis pak Lingga.
Rey dan Bram saling bersitatap, mereka berdua dulunya merupakan tangan kanan pak Lingga selain Saka. Tapi semua itu berubah sejak mereka terpengaruh bujuk rayu Atikah dan tentu saja Airlangga yang menawarkan imbalan berkali lipat dari Lingga.
"Aah, lupakan! Toh itu pilihan kalian untuk memihak Airlangga!" sahut pak Lingga sendiri karena Rey dan Bram tidak juga menjawab.
"Sekarang katakan, dimana Lita? Aku tahu kalian menyembunyikan Lita disini?!" tanya pak Lingga lagi.
"Maaf tapi Lita tidak ada disini, lagipula kenapa bapak mau menemuinya? Dia bahkan sudah melupakan cerita cinta kalian!" Rey berkata sinis menanggapi pertanyaan pak Lingga.
"Bukan urusan kamu Rey! Oh ya … apa sekarang kamu resmi jadi tangan kanan Airlangga? Atikah sudah mati jadi, seharusnya kamu yang menggantikannya kan?"
Rey hanya mengembangkan senyuman kecil. "Atikah … sayang sekali, hidupnya harus berakhir tragis begitu."
Pak Lingga masih tenang dan kembali berkata, "Oke, Lita nggak kalian jawab ada dimana … pertanyaan saya yang lain, dimana Rara? Apa dia juga dijadikan selir Airlangga?" sarkas pak Lingga.
"Rara? Dia anggota baru yang sangat menggemaskan dan, iya … Rara ada disini?" jawab Rey.
"Baguslah!" sahut singkat pak Lingga.
Rey dan Bram hanya diam dengan wajah tanpa ekspresi. "Saka … apa dia sering kemari?" tanya pak Lingga mengejutkan keduanya.
"Dia, ehm … ya, dia pernah kemari." Bram menjawab.
"Apa dia juga menemui Lita?" Pertanyaan pak Lingga kali ini membuat Rey dan Bram berpandangan.
"Iya, dia menemui Lita." jawab Rey.
Pak Lingga hanya tersenyum ia kemudian mengingatkan keduanya, "Baiklah, sampaikan pada saudaraku Airlangga jangan pernah menyentuh takdir yang bukan miliknya!"
"Tentu … kami akan menyampaikannya!" Rey menjawab dengan tidak pasti.
Pak lingga menatap ke arah jendela besar di lantai dua rumah itu, ia tahu Lita ada disana. Pak Lingga bisa merasakan kehadirannya. Wanita cantik yang sangat mirip dengan cinta pertamanya dulu. Raden Ayu Sekar Ningrum.
Entah karma buruk apa yang menimpa keduanya hingga kisah cinta mereka harus terus berulang selama berabad abad. Wanita yang dulu menjadi cinta pertamanya kini justru menjadi musuh.
Pak Lingga mendengus pelan, "Lita, maafkan aku … andai dirimu tidak mencintaiku sebesar itu pasti takdirmu akan lebih baik."
Nasi telah jadi bubur, cinta Lita yang begitu besar pada Lingga dimanfaatkan Airlangga untuk menyerangnya secara halus. Airlangga mencintai Lita juga, tapi sayangnya ia mengubah cintanya itu menjadi dendam yang tak berkesudahan.