
"Sorry aku ketiduran ya?" Sari mencoba duduk dibantu Bagas
"Kagak, Lo abis jalan-jalan kan?!" sahut Doni dengan tatapan tajamnya.
Sari hanya tersenyum dan memberi isyarat dengan matanya. Bagas melirik keduanya, ia memang tidak bisa memahami kedua sahabatnya itu tapi ia tahu Sari bukan tanpa sebab tidur diluar.
"Dah bangun kan, siap-siap … udah siang nanti nggak kelar kerjaan kita!"
Bagas membantu Sari berdiri, "Buruan, kalian juga cepet sana siap-siap! Matahari dah tinggi bisa kelar malam nanti semuanya!" perintah Bagas pada kedua rekannya itu.
Mereka pun beranjak dari tempatnya dan menyiapkan segalanya dibantu kru tambahan yang didapatkan dari penduduk setempat.
Meski jarak antara situs Trowulan dan homestay cukup dekat, mereka tetap menggunakan mobil untuk mengangkut peralatan dan beberapa kebutuhan lainnya.
Kedatangan mereka disambut juru kunci situs Trowulan yang akan menjadi pemandu tim Journey to the East. Setelah berdiskusi sejenak dengan juru kunci dan pihak pengelola situs, Bagas dan timnya segera mengatur posisi kamera di beberapa tempat untuk spot pengambilan gambar.
Sari membuat daftar pertanyaan yang akan diajukan setelah berdiskusi dengan pihak pengelola. Sesekali Sari meregangkan otot nya yang terasa pegal. Dirinya masih merasakan efek dari perjalanannya ke alam lelembut.
Belum juga lulus ujian udah kembali lagi … alamat nih bakalan dipanggil lagi kesana sama tiga orang itu!
"Kenapa beb, capek?" tanya Bagas sambil menyodorkan sebotol air mineral dingin pada Sari.
"Hmmm, sangat ... pusing kepala nih." jawab Sari memijat ringan keningnya.
Bagas ikut memijat kening Sari dengan lembut, "Lagian kamu ngapain sih pake tidur diluar gitu? Masuk angin ini?!"
Sari hanya mengembangkan senyum dengan terpaksa, "Ya namanya juga ngantuk, tau-tau aja tidur disitu."
Mau milih tidur gimana, Bimasena nggak kasih aku kesempatan buat jawab eh udah main bawa aja ke alam lain!
"Besok jangan jauh-jauh dari aku, biar nggak tidur sembarangan!" kata Bagas lembut.
"Iyaa deh, tapi aman lho yaa … tangan jangan kemana-mana, diatas aja, jangan nakal juga?!"
"Dikit kan boleh beb, bentar lagi juga."
Sari tertawa mendengarnya, "Nee, moeder is later boos zijn!"
(Jangan, nanti mom bisa ngamuk!)
"Ehem … gue ganggu bentaran nih?" Doni datang menyela pembicaraan keduanya.
"Kata juru kunci, kalo bisa kita selesai sebelum jam empat sore biar gambar maksimal."
"Kenapa emang?" tanya Bagas heran.
"Kabut abadi beb, kabut tipis yang selalu menyelimuti daerah ini. Setiap mendekati jam empat sore kabut itu datang dan akan semakin tebal di malam hari." Sari menjelaskan.
"Ooh, kabut yang kemarin itu? Serius itu kabut abadi beb?" tanya Bagas.
"Iya, kata pak Lingga juga gitu. Bahkan kabut itu udah ada sejak Majapahit masih berdiri. Serem ya?!"
"Udah, tadi kata si kuncen banyak pemburu foto yang ambil gambar di sekitaran Candi Tikus, Gapura Wringin Lawang, sama Pendopo Agung Trowulan. Aura mistisnya dapet disana."
"Sekarang jam berapa Don? Kita bagi tugas deh biar semua dapet! Sar, kamu mau milih yang mana nih?" tanya Bagas.
"Sekarang dah jam sebelas siang, berarti sekitar empat atau lima jam lagi kabut itu datang." jawab Doni
"Aku milih dalam museum aja deh kalo boleh." ujar Sari menambahkan perkataan Doni.
"Ok, yuuk kita mulai aja!" Bagas segera memberikan arahan pada krunya.
Tim pertama yang mendampingi Sari meliput ke dalam museum. Setelah sebelumnya meminta ijin pada pengelola museum. Sebenarnya kamera dilarang masuk di dalam untuk alasan keamanan. Tapi setelah bernegosiasi sedikit akhirnya kamera bisa dipakai tentu saja dengan batasan tertentu.
"Ketat bener aturan disini pak?" tanya Sari heran sambil meletakkan kamera kecil pendukung di meja.
"Kami hanya menghindari tangan-tangan usil yang mau mencuri atau menjiplak peninggalan budaya mbak. Karena peninggalan Majapahit ini banyak sekali diburu para kolektor."
"Ooh gitu ya, tapi saya jamin ini kan untuk keperluan tv aman kok pak!" ujar Sari meredam kecurigaan.
"Kami percaya kok, tapi maaf tetap saja ada beberapa area yang tidak bisa dimasuki mbak."
Sari hanya tersenyum memahami kekhawatiran pengelola karena pada kenyataannya memang banyak sekali pencurian benda bersejarah di museum.
Sari memasuki museum, dan entah mengapa dirinya seolah ditarik kekuatan tak kasat mata untuk langsung menuju bagian persenjataan. Beberapa replika dan senjata asli yang ditemukan dan dipercaya sebagai peninggalan Majapahit berjajar rapi dalam kotak kaca.
Mata Sari tertuju pada keris Sungginan. Keris asimetris dengan ujung runcing dan tajam dikedua sisinya. Keris Sungginan merupakan keris asal Bali yang dibuat sekitar akhir abad ke-16 hingga awal abad ke-17.
Panjang keris yang menjadi senjata khas era Kerajaan Majapahit tersebut mencapai 48 cm. Gagang dan sangkur keris terbuat dari kayu. Menariknya, di sepanjang sangkur keris terdapat ukiran gambar.
"Hhm, menarik dan indah … tapi bukan ini yang aku cari kan?" gumamnya.
Sari kemudian berjalan lagi dan menemukan keris yang dikenal dengan nama Kanjeng Kyai Condong Campur. Kabarnya ratusan empu berbondong-bondong untuk membuat keris ini. Sari bisa merasakan aura gelap yang masih tersisa didalamnya.
"Auranya jahat, mungkin karena diisi sama makhuk hitam dan makhluk halus lainnya."
Mata Sari masih mengedar kesekeliling, dan berhenti saat menatap sebuah Keris indah yang berkesan untuknya,
"Keris Nagasasra… ini bukannya keris yang bisa meredam Seribu balak waktu jaman Majapahit dulu ya!"
Keris Nagasasra merupakan senjata pusaka milik Kerajaan Majapahit dengan Luk 13 dengan bertakhtakan emas dan berlian. Pusaka ini dibuat oleh Pangeran Mpu Sedayu yang lebih dikenal dengan nama Mpu Supa Mendagri atau Mpu Pitrang.
Sari mengagumi pusaka yang dimiliki kerajaan Majapahit ini, tapi dia masih penasaran dengan Pedang Sengkayana.
"Sayang pedang itu nggak ada disini, apa beneran dia ada di alam lelembut? Seandainya disini kan semuanya cepet selesai." gumamnya seraya mengambil gambar pusaka-pusaka indah itu.
Cckk, ngerepotin aja deh! Mana harus pake ujian lagi dapetinnya! Udah kek anak sekolahan aja!
Pak Lingga we need to talk about the price!