
Sari dan yang lainnya tidak menyadari Ahmad yang berjalan keluar kubah pelindung. Euforia kegembiraan mereka telah menutup kewaspadaan.
Ahmad terus berjalan mengikuti wanita yang ternyata adalah Rara. Wanita yang selama ini ia rindukan. Wanita yang mengisi relung hatinya tapi terlambat untuk diungkapkan.
"Ra, gue rindu sama Lo! Kemana aja sih kok baru nongol, Lo kagak rindu apa ma gue Ra?!"
Ahmad tidak menyadari jika Rara yang ada di hadapannya adalah Rara yang berbeda dengan yang ia kenal.
Rara hanya melengos dan meninggalkan senyuman untuk Ahmad, ia terus mengajak Ahmad untuk mengikutinya ke suatu tempat.
Dengan tipu dayanya Rara membawa Ahmad ke sebuah hutan larangan, melewati lintas dimensi. Menyandera Ahmad untuk memancing Sari menjauh dari yang lain.
...----------------...
"Hei, kribo … Lo mau sampe kapan minta dipeluk Sari? Udah gih bangun, lepasin tuh tangan dari Sari!" Bagas terlihat kesal seraya mendekati Doni.
"Yaelah Gas, timbang bentaran doang pegang! Cemburu amat sih, ini gue Gas … Doni, penjaga nya Sari! Kagak cuil ni anak deket-deket gue kecuali …,"
"Kecuali apa?!" Bagas melotot ke arah Doni sengaja memberikan peringatan meski ia tahu sahabatnya tidak akan berbuat macam-macam.
"Kagak dah … kagak jadi gue, batal … bataaaaaal! Sar, udah lepasin tangan Lo sebelum calon imam Lo ngamuk! Bisa tambah ajur dah badan gue nanti!"
Sari tidak mengindahkan perkataan Doni, ia membantu Doni untuk duduk lebih nyaman.
"Apaan sih Gas, Doni kan lagi luka gini? Posesif bener kamu ini!" keluh Sari dengan sikap Bagas.
"Cckk, aku kan nggak mau kamu disentuh yang lain selain aku Sar?! You're mine now and forever!"
Kerlipan masa depan melintas di mata Sari saat ia menatap Bagas. Hatinya seketika gelisah, lututnya terasa lemas tapi ia langsung menepis itu semua. Sari beralih menatap Doni.
Rupanya Doni tahu jika Sari baru saja melihat visi masa depan.
"Nggak usah dipikirin, Lo jangan kalah sama bayangan begitu! Bisa saja kan itu salah?!" Doni memberikan saran tanpa diminta.
"Tapi …,"
Doni menggelengkan kepala, Sari semakin gelisah. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Bimasena dan yang lainnya hampir selesai menghajar beberapa lawan.
Sementara pak Lingga, masih asyik memberikan pelajaran pada mantan pengikutnya. Sejurus kemudian Sari baru menyadari ada yang hilang saat ia tidak menemukan Ahmad.
"Ahmad, dimana dia?!"
Bagas dan Doni celingukan mencari sosok sahabat tengil berwajah Arab itu.
"Eh, iya kemana dia?!"
Doni seketika pucat, Ahmad menghilang. "Jangan-jangan dia … gawat Sar, keknya dia keluar pelindung deh!"
"Apa!"
"Dimana dia?" gumamnya khawatir.
Sejauh mata memandang ia tidak juga menemukan Ahmad. Sari melihat ke arah penjaganya.
"Kandra, bisa bantu aku? Cari Ahmad untukku!" perintah Sari pada Kandra yang baru saja selesai menghabisi satu lawannya.
Kandra mengangguk dan melesat cepat mencari keberadaan Ahmad. Sari mulai gelisah, mimpi dan kerlipan masa depan yang dilihatnya perlahan tapi pasti mulai menjadi nyata.
Sari mendekati Doni lagi, ia ingin memastikan sahabat nya itu baik-baik saja.
"Kamu masih kuat kan?" tanya Sari
"Masihlah! Kenapa nanya gitu, eeh jangan bilang Lo mau …,"
Sari menganggukkan kepalanya seolah menjawab pertanyaan menggantung Ahmad.
Bagas menahan tangan Sari, "Kamu mau apa Sar, jangan pergi lagi?"
"Aku harus Gas, Ahmad butuh bantuanku."
"Terus kamu pikir aku juga nggak butuh kamu gitu?!"
"Gas, tenang aku pasti balik kok … dengan selamat, aku janji!"
"Sar, please jangan bahayakan diri kamu sendiri! It's not worth it!" Bagas kesal.
(itu nggak sebanding!)
"Yes, it worth it beb! Ahmad sahabat kita, dia dalam bahaya dan cuma aku yang bisa selamatkan dia." Sari menatap lekat lelakinya itu.
Bagas ingin menahan Sari ia tidak rela jika Sari harus terluka lagi, tapi ia juga tahu hanya Sari yang bisa menyelamatkan Ahmad.
"Apa nggak ada cara lain? Aku … takut Sar?!"
"Aku tahu, aku juga takut beb tapi … mereka juga butuh aku. Aku janji kembali lagi dengan utuh, kamu udah lihat kan kemampuanku?"
Bahas tidak menjawab dan menarik Sari ke pelukannya. "I love you beb, just come back to me."
Bagas memeluk erat Sari dan menciumi kepalanya dengan lembut. Hati Sari sakit dan juga sedih, ia takut jika kerlipan itu menjadi nyata.
"Beb, turutin Doni ya … jangan ngeyel, disini bahaya. Janji?!" Sari berpesan setelah Bagas mau melepaskan pelukannya.
Bagas mengangguk, bersamaan dengan datangnya suara Kandra.
"Sar, Ahmad ada disini. Aku menemukannya di hutan terlarang, masuklah melewati dimensi lain."
"Hutan terlarang? Dimana itu?"