Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Sembilan Bulan


Bening masih menikmati libur semester ketika perutnya terasa mulas. Ia belum terlalu memusingkan hal itu karena masih bisa menahannya. Pagi itu ketika Gara akan segera berangkat, lelaki itu sempat melihat Bening meringis sesaat sembari memegang tiang ranjang.


"Sayang, kau baik-baik saja?" tanya Gara sambil mendekat.


"Ya, Mas Gara, hanya sedikit nyeri."


"Bagian mana yang nyeri, Sayang?" tanya Gara mulai khawatir. Ia segera memapah Bening untuk duduk di tepi ranjang.


"Perut, Mas Gara. Tapi hilang timbul."


"Mas Gara tidak tenang membiarkan kau sendiri, biar Mas Gara tak usah ke perusahaan saja ya."


"Jangan, Mas Gara. Mas Gara ada pertemuan penting bukan?" Bening segera mencegah. Gara mengangguk tapi ia tentu tak akan bisa tenang meninggalkan Bening sendiri di dalam rumah itu.


"Sekarang, apa masih sakit?" tanya Gara lagi.


"Tidak, sudah mulai hilang."


"Kau yakin?"


Bening mengangguk, karena memang intensitas rasa nyeri yang kadang ada dan kadang hilang membuat Bening berpikir bahwa mungkin saja dia mengalami kontraksi palsu lagi.


"Ah, Mas Gara tak tenang, Sayang. Baiklah, kalau begitu, kau ikut Mas Gara ke perusahaan ya?"


Bening tersenyum lalu mengangguk.


Gara akhirnya bisa bernafas lega dengan ikutnya Bening ke perusahaannya. Di sana, Bening bisa istirahat di dalam kamar khusus yang ada di dalam ruangan Gara.


Sesampainya di perusahaan, para karyawan menyapa hormat Bening dan Gara yang membalas sapaan mereka hangat dan ramah.


"Mas Gara ada meeting sebentar, kau istirahat ya. Nanti kalau butuh sesuatu, gunakan telepon di dalam untuk memberitahu staff di depan."


"Baiklah, Mas Gara, jangan khawatir ya, Bening baik-baik saja sekarang. Mas Gara harus fokus meetingnya."


Gara mengangguk lalu mengecup kening Bening dengan mesra. Ia keluar dari kamar khusus itu dengan Bening yang berbaring di dalamnya.


Hampir satu jam meeting itu, Bening masih belum merasakan apapun, tapi ketika sudah lewat satu jam dengan Gara yang masih fokus menjelaskan di depan semua orang di dalam ruangan meeting, Bening mulai merasa perutnya kembali mulas. Kali ini, intensitasnya lebih sering lagi. Wajah Bening seketika memucat, ia segera menelepon staff di depan.


"Tolong panggilkan mas Gara, sepertinya aku akan segera melahirkan."


"Pak, Ibu Bening sepertinya akan segera melahirkan."


Gara membulatkan matanya. Ia segera menutup meeting dan semua orang di dalam ruangan meeting itu pun mengerti. Gara secepat mungkin masuk ke ruangannya. Dilihatnya Bening sudah bersandar di dinding. Ada air mengalir di sela kakinya.


"Air ketubannya pecah itu, Pak!" Safira ikutan panik. Gara segera menggendong Bening, membawanya menuju lift.


"Bersabarlah, Sayangku. Kita akan segera sampai ke rumah sakit." Gara mencoba tetap tenang meski ia sudah gemetaran. Ini pengalaman pertamanya sedang Bening juga berusaha untuk tetap tenang meski sedari tadi wajahnya meringis.


Gara meletakkan Bening di dalam mobil, ia sendiri langsung masuk ke mobil setelah itu. Bening mencoba tetap tenang dengan mengelus perutnya.


"Jagoan, sabar ya, sebentar lagi kita akan sampai ke rumah sakit, kau tentu tak sabar lagi bertemu Papa dan Mama kan?" Gara mengusap perut Bening yang terasa mengencang.


Kemudian ia kembali fokus dengan menyetir. Gara membawa mobilnya melesat cepat dengan luwes dan hati-hati. Sampai di rumah sakit, mereka langsung di sambut para perawat dan pihak keamanan yang membantu mendorong brankar.


Bening dan Gara saling menggenggam jemari mereka yang bertaut.


"Sebentar lagi, Sayang," bisik Gara yang sudah bercucuran keringat menuju ruang persalinan.


Bening segera ditangani setibanya di ruang persalinan itu. Gara pun berada di dalamnya. Ia segera menelepon nyonya besar dan kebetulan pula tuan Wibowo tak ke perusahaan hari ini. Mereka menyambut kabar itu dengan bahagia, mereka segera berangkat ke rumah sakit.


"Pembukaannya lengkap, Dokter!" Asisten dokter berseru kepada dokter yang segera bersiap untuk membantu Bening melahirkan.


"Rasanya mau mengejan, Dokter." Suara Bening begitu lirih.


Dokter mengangguk mengerti, lalu mulai memberi aba-aba. Ia juga sudah menelepon bagian operasi jika nanti melahirkan secara normal mendapatkan kendala sebab usia Bening yang masih begitu muda sangat rentan mengalami masalah ketika melahirkan.


"Sayang, kau kuat, kau hebat. Kau bisa melahirkan anak kita, ayo, berjuanglah," bisik Gara ketika melihat Bening yang mulai terpejam karena lelah.


Bening menguatkan genggaman tangannya kepada Gara. Ia mengangguk, mengejan sekuatnya ketika kekuatannya kembali datang. Bening berteriak keras bersamaan dengan lengkingan suara bayi yang akhirnya keluar dari jalan lahir. Hampir saja Bening kehilangan kesadaran tapi Gara yang mengecup bibirnya membuat ia kembali membuka mata.


"Selamat ya, Pak Gara, bayinya laki-laki."


Gara memeluk Bening, tak kuasa menahan airmatanya yang sudah merembes. Tak ada kata keluar selain suara tangisan Gar yang membuat Bening juga akhirnya menangis. Sekian lama Gara menanti, akhirnya ia bisa mendapatkan keturunan dari perempuan yang awalnya ia beli rahimnya itu.


"Terima kasih, istriku, atas semua pengorbananmu," bisik Gara dengan Bening yang mengangguk pelan. Tuan dan Nyonya besar yang baru saja datang juga tak kuasa menahan haru. Mereka memeluk Gara dan Bening dengan perasaan bahagia tak terbendung. Cucu mereka laki-laki, sungguh ini anugerah luar biasa.