
Akhirnya Bening dan Gara mengantongi izin dari nyonya besar untuk berangkat ke desa, tempat Bening lahir dan tumbuh besar. Sebuah desa yang cukup jauh dari kota besar, dimana penduduknya sebagian besar menggantungkan hidup dengan bertani atau berkebun. Bening lahir di sebuah desa yang jika waktu baru menunjukkan pukul delapan malam, situasi sudah sungguh sepi dan sunyi. Namun, di desa itulah, Bening belajar segala hal. Belajar tentang kerasnya hidup, belajar tentang menerima segala kehendak takdir tapi bukan berarti pasrah. Di desa itu ia diajarkan untuk menjadi seorang perempuan dengan perilaku yang sopan dan santun, lembut dalam bertutur kata tetapi bermental baja.
Mungkin, karena itulah sampai hari ini, Gara masih melihat Bening sebagai perempuan sederhana dan bersahaja. Begitu penurut dan begitu pandai menyenangkan hati orang lain. Sikapnya yang dewasa membuat Gara nyaman dan seringkali membuat Bening sebagai tempat berbagi semua hal. Entah itu hal menyenangkan, entah pula itu hal yang rumit. Bening selalu bisa menjadi pendengar sekaligus penasihatnya. Ya, sosok Bening memang sebening namanya, Gara merasa bahagia bisa mendapatkan Bening sebagai pelabuhan cintanya.
"Alhamdulillah, kalian sudah sampai dengan selamat. Mari masuk, Nak Gara, Bening." Bapak dan ibu menyambut kedatangan keduanya dengan sukacita. Mereka memang sempat dikabari oleh Gara bahwa keduanya akan bertolak ke desa dan menginap di sana. Awalnya, kedua orangtua itu juga tidak begitu mengizinkan mengingat usia kehamilan Bening sudah sungguh tua dan akan memasuki saat-saat melahirkan.
"Alhamdulillah, Pak, Bu." Gara menyahut dengan senyuman pula.
Ibu meninggalkan mereka bertiga di ruang keluarga menuju dapur. Ternyata, bersama seorang pelayan di rumah itu, ibu sudah menyiapkan makanan ringan juga buah yang telah dipotong-potong.
Setelah itu, ibu kembali dengan makanan-makanan yang sudah ia siapkan. Bening menyambut buah-buahan itu dengan sukacita. Gara menikmati makanan lain yang digoreng oleh mertuanya.
"Bening rindu sekali Ibu, Bapak dan juga Dewi. Oh iya, Bu, mana Dewi?" tanya Bening.
"Dewi sedang belajar membuat kerajinan di ujung kampung, Ning. Adikmu bosan jika di rumah terus. Kondisinya juga sudah semakin sehat."
Bening dan Gara mengangguk-angguk paham. Kemudian, mengalirlah berbagai cerita menyenangkan di antara mereka. Namun, beberapa kali di sela perbincangan mereka, karyawan perkebunan bapak mendekat dan memberikan informasi penting tentang perkebunan.
"Omset penjualan dari hasil perkebunan kita sedang naik-naiknya, Nak Gara, karena sekarang bukan cuma sekitaran Banjar yang membeli hasil panen, tetapi sudah sampai ke berbagai kota. Kebun kita yang paling ujung baru saja ditanami buah jeruk dengan kualitas bibit yang paling bagus. Insyaallah dalam beberapa tahun ke depan akan segera memberi hasil," kata Bapak sembari menunjukkan hasil foto-foto perkebunan mereka. Gara dan Bening tersenyum melihatnya.
Bening juga tak hentinya mengulas senyum, melihat bapak dan ibu yang semakin sehat dan tubuhnya pun mulai berisi, tak lagi ringkih seperti dulu kala bekerja tiada henti dengan hasil yang tak sepadan. Bening sudah mengangkat derajat keluarganya dengan cara yang elegan.
"Kata dokter perkiraan kau melahirkan tak lama lagi, Sayang."
"Ya, Mas Gara khawatir Bening akan melahirkan di sini ya?" tanya Bening serius.
"Tidak, kalaupun memang harus melahirkan di sini, tak apa. Yang penting bayi kita dan istriku selamat."
Mendengar itu, Bening tersenyum lagi. Namun, dia masih yakin, ia akan melahirkan di Jakarta seperti saat melahirkan Abi kemarin. Mereka juga hanya akan menginap satu minggu untuk melepas rindu akan kampung halaman.
Tapi ternyata semua perkiraan Bening meleset, karena tepat saat sehari sebelum mereka kembali ke Jakarta, Bening mendapati rasa mulas yang teramat sangat pada perutnya. Rasa mencengkram yang membuatnya tak mampu berdiri sendiri.
Gara yang melihat Bening jatuh begitu saja setelah mandi pagi hari, bergegas mendekati istrinya itu. Saat air mengalir perlahan dari sela paha, barulah dia paham bahwa istrinya akan segera melahirkan.
Gara dan keluarga Bening segera membawa Bening menuju klinik melahirkan. Kelahiran kali akan ditangani seorang bidan yang kebetulan memang bertugas di desa mereka.
"Dia ingin mengikuti jejak bundanya, lahir di desa." Gara tersenyum, menggenggam jemari Bening yang sedikit gemetar tetapi tetap menatap hangat mata suaminya itu. "Berjuanglah, Sayang, puteri kita sudah tak sabar ingin melihat dunia," bisik Gara tepat di telinga Bening yang segera mengangguk dan memulai mengejan.
Bening kira, kelahiran kedua ini akan lebih mudah karena ia sudah pernah melahirkan, tetapi nyatanya, masih sama sakitnya, ia terus berjuang, melahirkan buah hatinya yang kedua, hasil percintaannya dengan Gara.