Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Pembatalan Meeting


Ponsel Gara berdering beberapa kali pagi ini. Saat ini, lelaki itu sedang berada di kamar mandi. Bening yang sudah bersiap akan turun ke bawah sembari menggendong Mentari, menghentikan sesaat langkahnya. Dilihatnya nomor yang tidak disimpan oleh Gara. Karena sudah berdering sedari tadi, akhirnya Bening berinisiatif untuk mengangkat telepon itu.


"Selamat Pagi, pak Gara sedang mandi, apa ada yang perlu disampaikan?" tanya Bening.


Tak ada suara menyahut yang terdengar. Bening mengerutkan keningnya.


"Kalau tidak ada, saya matikan ya."


Hampir saja Bening akan mematikan sambungan telepon, sebuah suara akhirnya terdengar.


"Katakan bahwa Syifa menghubunginya."


Bening yang sekarang diam, ia menaikkan satu alisnya lalu tersenyum kecil. Perempuan ini nekat juga. Begitu pikir Bening.


"Baik, nanti akan aku sampaikan kepada suamiku."


Tak ada sahutan, sambungan telepon itu akhirnya mati. Bening menggeleng-gelengkan kepalanya. Baru sekali ini dia mendengar suara Syifa. Sosok yang sering Gara ceritakan beberapa hari belakangan ini.


Bening kemudian turun, hari ini dia tak ada jadwal kuliah jadi bisa leluasa untuk bermain bersama anak-anak. Tak berapa lama kemudian, Gara turun pula, sudah dengan setelan kerja yang rapi dan membuatnya jadi semakin tampan.


Ia mencium kening Bening kemudian duduk di depan meja makan. Bening terlihat begitu segar, perempuan itu sedang menuangkan nasi goreng kesukaan suaminya itu ke dalam piring. Kedua anaknya juga duduk bersama di meja makan itu tetapi sedang disuapi oleh pengasuh.


"Mas, tadi ada yang menghubungi Mas, tapi karena Mas sedang mandi dan ponselnya selalu berbunyi, akhirnya Bening yang mengangkatnya."


"Oh ya, siapa yang menelepon Mas sepagi ini, Sayang?"


"Coba Mas tebak siapa."


"Ehmmmm ... Mama?"


Bening menggeleng.


"Papa?" tebak Gara lagi.


Bening kembali menggeleng.


"Lalu siapa, Sayang?"


"Syifa."


Gara menarik nafas panjang. Susah sekali meyakinkan perempuan itu bahwa Gara sama sekali tidak tertarik dengannya. Mungkin, dikiranya Gara sudah setuju akan menjalin kerjasama dengan perusahaan perempuan itu, jadi dia berpikir bisa leluasa untuk menghubungi Gara.


"Abaikan saja, Sayang. Mas tidak ada urusan dengannya."


"Dia sangat nekat ya, Mas." Bening jadi terkekeh.


Bening tersenyum lagi mendengarnya. Suaminya tampak lahap sekali menyantap makanannya pagi ini.


"Kau libur, Sayang?" tanya Gara.


Bening mengangguk.


"Kalau begitu, ikutlah dengan Mas ke perusahaan."


"Tapi, bagaimana dengan anak-anak, Mas?"


"Bawa saja, Sayangku. Biarkan anak kita mengenal perusahaannya dari mereka kecil."


Bening perlahan tersenyum mendengarnya. Akhirnya dia mengangguk. Jadilah Gara bersama istri dan kedua anaknya pergi ke perusahaan bersama hari ini. Saat mereka datang, dua anak lucu itu jadi rebutan para staff di perusahaan. Bening hanya tertawa melihat betapa antusiasnya para staff di sana menyambut anak-anaknya.


"Lucu sekali, Bu. Mirip sekali seperti Bu Bening, cantik," puji seorang karyawan kepada Bening sembari menggendong Mentari.


Abi juga membuat para staf Gara itu jadi berdecak kagum. Selama ini, Gara hanya memposting foto anaknya di media sosial dan itu tak banyak. Baru kali ini, mereka melihat dengan jelas rupa menggemaskan anak-anak atasan mereka itu.


Bening dan kedua anaknya kemudian masuk ke dalam. Bening sudah beberapa kali ikut Gara ke perusahaan dan masuk ke ruangannya, tetapi baru kali ini dia membawa serta anak-anak.


"Pak Gara, hari ini ada pertemuan dengan bu Syifa." Safira masuk ke dalam ruangan dan memberikan jadwal pertemuan kepada Gara setelah sebelumnya ia menyapa Bening juga anak-anak.


"Batalkan saja, aku sedang tidak ingin ada pertemuan apapun hari ini."


Safira tampak sedikit terkejut, ia tahu persis, Gara tak pernah membatalkan meeting dengan pengusaha lainnya karena dari meeting itulah biasanya akan muncul banyak ide-ide baru juga kesepakatan penting.


"Apa betul akan dibatalkan, Pak?" tanya Safira memastikan.


"Ya, batalkan saja dan katakan kepada Syifa bahwa aku tidak jadi menjadi partner bisnis untuk perusahaannya."


Semakin terkejut Safira jadinya, tetapi dia tidak bisa berbuat banyak, yang punya kuasa tentu saja adalah Gara. Jadi setelah mendapat telepon dari sekretaris Gara, Syifa merasa tidak terima. Dia tetap ingin datang dan menanyakan kepada Gara mengapa pria itu membatalkan semua kesepakatan yang hampir saja terjadi.


Namun, saat hendak turun dari mobil, ia malah melihat pemandangan Gara dan Bening yang terlihat begitu muda dan segar dengan kedua anak mereka. Gara tampak menggendong Abi sementara Bening menggendong Mentari, keduanya nampak akan meninggalkan perusahaan. Syifa mengurungkan niatnya untuk menemui Gara, dia hanya bisa duduk diam di samping Maya yang hanya melengos karena kesal kepada Syifa yang nekat.


"Sudahlah, Nona, menyerah saja."


Syifa menatap Maya tajam tetapi dia tidak mengeluarkan sepatah katapun.


"Besok saja kita kembali, biar aku tanyakan kepada Gara mengapa dia menolak kerjasama yang aku ajukan kepadanya."


Maya tak menyahut, hanya merasa bahwa Syifa berpura-pura tidak tahu alasannya. Padahal ia yakin betul, Syifa sadar bahwa Gara memang tidak tertarik kepadanya dan tidak suka karena Syifa menjadikan bisnis untuk memulai hal yang seharusnya tidak pernah menjadi niat di dalam hatinya.