Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Dua Anak Cukup, Tiga Kebobolan


Tiga tahun berlalu, kedua anak Bening sudah besar. Abi sudah berusia empat tahun sedangkan mentari terpaut satu tahun lebih muda. Masalah Gara dengan Syifa juga sudah berlalu, pada akhirnya perempuan itu kembali lagi ke Surabaya atas permintaan Maya, asistennya.


Meski Syifa masih sering berusaha menyapa Gara lewat hubungan telepon, tetapi Gara tak lagi mengindahkan perempuan yang terobsesi kepadanya itu. Hal itu sebenarnya sempat dikeluhkan Gara kepada Andi, dan Andi sangat meminta maaf karena sudah salah mengenalkan temannya kepada Gara. Dia sendiri tak menyangka jika Syifa akan nekat untuk merusak rumah tangga Gara juga Bening.


Bening sendiri sudah melupakan semua itu. Dia tahu betul siapa suaminya dan Gara tidak akan pernah menduakan seperti lelaki lain yang mudah tergoda dengan perempuan secantik dan seseksi Syifa.


Bening sedang sibuk menyusun skripsi, empat tahun dia berkuliah sekarang sudah akan di wisuda. Bening memang sedang fokus dengan skripsinya hingga kegiatannya sekarang memang banyak di kampus.


Kadang, kelelahan dia mengejar dosen pembimbing. Terlebih ketika sang dosen ada urusan mendadak dan membuatnya musti menunda lagi pertemuan. Syukurlah, skripsinya tak banyak revisi, hanya ada beberapa catatan dari dosen pembimbing yang harus dia perbaiki di pembuatan skripsinya itu.


"Lelah sekali, Sayang?" tanya Gara saat menjemput Bening sore itu.


"Ya, Mas. Dosennya sedang sibuk, tadi mesti menunggu lagi."


Bening tersenyum kecut sementara Gara hanya tertawa mendengarnya. Dia mengerti, bagaimana repotnya mahasiswa dan mahasiswi yang sedang menyusun skripsi seperti istrinya itu. Dia juga sempat jadi anak kuliahan, jadi tahu betul kerepotan yang tengah mendera Bening saat ini.


"Ujian anak kuliahan itu seputaran tugas dan juga seperti dirimu sekarang ini, Sayang. Sibuk ke sana kemari mengejar dosen pembimbing." Gara terkekeh. Bening tertawa juga. Ini lelah yang menyenangkan baginya.


"Tak apa, Mas, yang penting sebentar lagi kelar kuliahku. Bisa fokus bareng anak-anak. Kasihan, mereka sering aku tinggal karena kesibukan di kampus."


"Anak-anak juga mengerti, Sayangku. Bundanya sedang fokus cari ilmu."


Kata-kata Gara jadi angin penyejuk di tengah keruwetan yang sedang Bening rasakan sekarang. Mereka masih berada di dalam mobil, masih di depan gerbang kampus putih dan besar itu.


"Mas, boleh aku minta sesuatu?" tanya Bening kepada suaminya yang tentu saja langsung mengangguk.


"Tentu, Sayangku. Katakan kepada suamimu ini, apa yang harus dilakukannya untukmu."


Bening tersenyum, lalu dia memejamkan matanya.


"Aku kepengen makan durian, Mas."


Gara melotot, dia membulatkan matanya. Dia sungguh tak suka durian. Baunya yang semerbak membuat Gara mual. Ia menatap istrinya kecut, apa dia bisa membuat penawaran lain?? Mungkin Bening akan menggantinya dengan hal lain yang lebih bisa masuk ke perutnya juga?


"Why, Sayang, kenapa mesti duren?" tanya Gara frustasi.


Bening tertawa jahil, dia betulan tak ingin menggoda suaminya tapi memang sudah membayangkan durian montok itu dengan air liur yang rasanya sudah menetes.


"Pleaseee, Mas, aku mau sekali."


Gara menatap istrinya putus asa, tampangnya jadi lucu. Akhirnya, Gara menarik nafas panjang, demi istri tercinta, maka akan ditahannya bau durian yang bisa membuatnya pusing sampai vertigo itu.


"Baiklah, demi kau yang ku sayang, tak apa. Mari kita cari duren."


Bening bertepuk tangan, mirip sekali dengan Mentari ketika dibelikan barbie yang kemudian kepalanya dia hanyutkan di selokan setiap hujan turun.


"Asyiiikk, makan duren."


Gara geleng-geleng kepala, semoga dia bisa melewati cobaan ini. Dari kecil Gara tidak bisa mencium bau durian, dia bisa mual.


Gara menemani Bening, memilih durian yang bagus dan moontok untuk dimakan oleh istrinya itu.


"Wah, Mas nya tak suka duren ya?" tanya pedagang yang melihat Gara sudah keliyengan seperti orang mabuk.


"Ya, Pak, tapi demi istri saya, saya pasti bisa melewati cobaan ini."


Sedikit dramatisasi tapi hal itu membuat para pedagang terhibur. Gara sedari tadi bersandar di bahu istrinya, sedangkan Bening dengan asyik memakan durian-durian itu. Bening makan lahap sekali, tampak sumringah dan menawarkan Gara sesekali yang disambut pelototan suaminya itu.


Namun, Gara bahagia, meskipun dia mabuk durian, tapi yang penting istrinya bahagia di sela pusingnya dia menghadapi skripsi yang tak kunjung selesai juga. Sebentar lagi, istrinya akan wisuda jadi Gara tak mau Bening stress. Dia memastikan semua hal yang Bening sukai akan diwujudkannya termasuk makan durian sampai mabuk seperti ini.


Ternyata, penderitaan Gara belum berakhir, karena Bening membawa lagi banyak durian ke rumah mereka untuk para satpam juga pengasuh-pengasuh anaknya, dan juga pelayan mereka.


Pesta durian lagi. Gara mabuk lagi.


Setelah satu minggu, gantian Bening yang mabuk. Saat pagi hari, Bening mendapatkan mual muntahnya. Gara tentu saja heran, tak biasanya Bening seperti itu.


Pagi ini kebetulan dia sedang tak ada kegiatan, skripsi hampir rampung karena pertemuan dengan dosen pembimbing sudah lancar tanpa halangan lagi.


"Kenapa, Sayang? Kau salah makan?" tanya Gara cemas melihat Bening sepucat itu.


"Tak tahu, Mas, cuma rasanya mual sekali."


"Ah, Jangan-jangan ..."


Tapi kan mereka selalu antisipasi setiap melakukannya. Gara jadi berpikir bahwa istrinya mengandung lagi. Matanya membulat sempurna, sepertinya memang Bening hamil lagi. Dia segera membawa Bening ke rumah sakit. Dia akan datang terlambat ke perusahaan.


"Aku cuma sakit biasa, sepertinya, Mas."


"Kita periksa saja, Sayang. Mas kok yakin, program pemerintah kita gagal ya?" ungkap Gara dengan mimik lucu.


"Masa begitu ya, Mas? Kan kita sudah sangat hati-hati."


"Ingat tidak kalau sudah di puncak, istriku ini suka lupa sering maksa terus gerak, mana tahu menyembur setengah di dalam sana."


Gara berkata seperti itu, hal itu ternyata terdengar oleh para perawat yang kebetulan berpapasan dengan mereka di koridor. Bening merasakan wajahnya memerah, kemudian dipukulnya dengan gemas lengan suaminya itu.


Pembicaraan itu cukup sensitif, suaminya ini memang ada-ada saja tingkahnya. Kan malu didengar banyak orang. Bening menggamit mesra lengan Gara, mereka masuk ke dalam ruangan dokter kandungan.


"Apa kabar Pak Gara, Bu Bening, lama kita tak berjumpa." Dokter menyapa sekalian berbasa basi.


"Ya, Dokter, sekalinya berjumpa tak lama." Gara ikutan menimpali membuat mereka bertiga tertawa.


Bening sekarang sudah mulai diperiksa, harap-harap cemas dengan isi di perutnya. Apakah sudah ada sesuatu yang bernyawa?


"Wah .... Top cer, Pak Gara. Selamat ya, kandungannya sekarang satu bulan."


Gara dan Bening berpandangan, benar ternyata, program pemerintah gagal mereka jalankan sebab yang satu ini kebobolan!