
Merayu dan Mengancam Gara
Pagi kota Paris disambut dengan suara ketukan pintu berulang kali di kamar hotel yang Gara sewa. Gara membuka mata, mencuci wajah lalu berjalan dengan santa ke depan. Dilihatnya dari lubang pintu, Revi nampak menunggu di luar dengan raut tak sabaran.
Gara tertawa sinis, ia kembali lagi ke dalam tanpa mempedulikan Revi yang masih menekan bel juga mengetuk-ngetuk pintu dengan kesal. Gara tak menggubris.
Sementara di luar, beberapa penghuni hotel menatap Revi dengan jengah. Hotel berkelas itu harusnya tak dihuni oleh tamu yang membuat pagi orang-orang jadi terganggu.
"Permisi, Nona, kami mendapat laporan Nona membuat keributan di sini."
Seorang staff keamanan berbadan tegap layaknya algojo mendekat ke arah Revi yang masih saia keukeh berdiri di depan pintu kamar Gara.
"Ya, maaf!" Revi berdecak sebal lalu kembali melangkah ke kamar sendiri. Ia melihat kontak Gara dan mencoba menghubungi lelaki itu tapi Gara ternyata sudah memblokir semua kontak Revi tanpa tersisa!
"Aaarrgggggh! Kenapa bisa gini sih?!"
Kesal, Revi membanting apa saja yang ada di depannya sekarang. Nafasnya jadi tersengal, tapi kemudian ia ingat semalam sempat mengabadikan video panas mereka walau hanya sebentar. Revi tersenyum licik lagi, tapi terpaksa harus menunggu sampai Gara keluar dari kamar agar ia leluasa untuk berbicara dengan lelaki yang kini secara agama telah menjadi mantannya.
"Enggak! Gara tetap suamiku!"
Denial Revi membuatnya seperti orang kehilangan akal sehat. Saat ini Revi menekan kontak Bening, disambungkannya panggilan.
"Mbak Revi?"
"Ya, aku! Tahu apa yang semalam aku dan Gara lakukan?"
"Biarkan Mbak dan mas Gara saja yang tahu, saya matikan ya, Mbak, saya ngantuk sekali."
"Tunggu! Kau pasti ingin mendengar bagaimana semalam kami melakukannya. Sudah lama sekali kami tidak bercinta, Bening. Semalam, malam yang begitu dahsyat dengan Gara yang tidak mau lepas dariku."
Terdengar Bening menghela nafasnya di ujung telepon. Bening mencoba tersenyum dan menerima apa yang Revi katakan barusan.
"Ya sudah, Mbak, Bening turut senang kalau Mbak Revi juga senang. Selamat siang, Mbak, semoga hari Mbak menyenangkan."
Sambungan telepon itu mati. Revi mengerutkan kening, harusnya ia mendengar Bening menangis, meraung, marah-marah, merasa kalah. Revi jadi kesal sendiri karena harapannya tak sesuai kenyataan. Sementara Bening yang masih memeluk ponselnya hanya menatap langit-langit dengan pandangan menerawang. Ada airmata mengalir di sela matanya meski tak ada isak di sana.
Gara bergegas keluar dari kamar, ia akan bertolak ke Indonesia hari ini. Kegiatan bisnisnya sudah selesai. Namun, baru beberapa langkah ia berjalan di koridor hotel, Revi mencegatnya, menarik lengan lelaki itu.
"Apa lagi?" tanya Gara jengah sambil melepaskan tangan Revi yang masih mencengkeram.
"Please, Gara. Kamu gak bisa giniin aku! Kamu talak aku dalam keadaan mabuk! Itu tidak sah!"
"Aku sadar ketika mengucapkannya, Sela! Aku bahkan ingat waktu juga apa yang kukatakan semalam! Di antara kita sekarang tidak ada hubungan apapun. Aku akan segera menyerahkan berkas ke pengadilan. Aku jadi paham mengapa dulu kau suka keluar negeri untuk pemotretan, kau ternyata tak ubahnya perempuan murahan! Seandainya aku sadar sedari dulu, tentu tak akan terbuang sia-sia waktuku selama ini."
"Gara, dengar! Lelaki itu belum sempat melakukan apapun denganku semalam!"
"I dont care! Aku sama sekali tidak cemburu justru aku berterimakasih kepada lelaki itu karena dia akhirnya aku bisa lebih mudah untuk bercerai secara hukum denganmu. Foto kalian berdua sudah aku kirim ke pengacara, semua sudah diurus. Kita akan bertemu di pengadilan!"
Gara berjalan lagi, tidak menggubris Revi yang tercengang dan terus memanggilnya.
"Aku punya video ini, Gara! Akan aku kirim ke Bening dan semua media!" ancam Revi.
Gara menghentikan langkahnya perlahan, ia mendekat lagi ke arah Revi lalu ia melihat video panas mereka semalam. Walau hanya sebentar, tapi terlihat sekali di sana seolah Gara sedang menikmati apa yang mereka lakukan meski ia sama sekaki tidak menikmatinya.
"Kau mau menggunakan ini untuk mengancamku?" tanya Gara memandang tajam Revi yang mulai tersenyum licik.
"Ya! Kau lihat saja apa yang akan aku lakukan jika kau berani meneruskan niatmu menceraikan aku ke pengadilan!"
Gara memandang Revi semakin tajam, tapi kemudian senyum sinisnya kembali terlihat.
"Lakukan saja!"
Lalu Gara berbalik, meninggalkan Revi yang semakin merasa terabaikan. Revi mengepalkan tangannya, melihat Gara yang sudah menghilang dan masuk ke dalam lift.
Sialnya ia belum bisa kembali hari ini. Masih banyak sekali pekerjaannya di Paris. Revi mengerang keras, ingin rasanya ia membunuh Bening hari itu juga!
"Semua ini karena perempuan kampung itu!"
Revi menendang-nendang dinding dengan kesal, melepaskan kemarahannya dengan kembali masuk ke kamar hotel dan menghambur apa saja yang ada di depannya saat ini.