
Malam ini, Bening memakai dress berwarna peach cerah, rambutnya dibiarkan tergerai indah dengan gelombang di bawahnya. Gara sendiri memakai kemeja santai, membuat tubuhnya yang tinggi atletis itu terpampang.
Gara meraih sekotak perhiasan, benda ini sore tadi dibelinya di tempat perhiasan terkenal. Bening tersenyum, Gara suka memberikannya hal-hal mewah dan indah seperti ini meski ia tak pernah memintanya.
"Hadiah untuk kelulusanmu."
Tangannya menyematkan kalung indah itu, Bening sendiri masih mematut dirinya di depan cermin. Pantulan sinar lampu menjadikan kalung itu semakin indah berkilauan.
"Terimakasih, Mas. Ini indah sekali."
"Tampak begitu memukau di lehermu, Sayang," timpal Gara memuji.
Lalu Gara memeluk Bening dari belakang, keduanya saling menatap di cermin. Perlahan, Gara mengusap perut Bening yang sudah mulai berisi.
"Apa dia jagoan? Atau seorang putri lagi?" tebak Gara di antara wajahnya yang menyeruak di leher Bening.
"Apapun itu, Mas, mereka adalah rejeki dari yang maha kuasa," sahut Bening sembari mengelus pipi Gara dengan lembut.
"Ya, tak sabar ingin melihatmu membuncit lagi."
Bening tertawa kecil mendengarnya.
"Ayo turun, Sayang. Kedua orang tua kita dan Dewi sudah menunggu di mobil."
"Mari, Mas."
Bening menggamit mesra lengan Gara yang membawanya ke bawah. Kedua anaknya juga sudah tampan dan cantik. Seorang supir akan membawa mereka sekeluarga ke sebuah restoran mewah dan Gara sudah memesan ruangan khusus untuk keluarga besarnya.
Di dalam mobil, mereka bercanda. Apa saja bisa jadi perbincangan. Kedua mertua yang akur menjadi pemandangan yang paling Bening syukuri sampai hari ini. Sungguh, nikmatnya sebuah kesabaran karena hasilnya begitu membahagiakan.
Mereka sampai di restoran itu, dua orang pelayan menyambut mereka dengan sopan dan hormat. Restoran itu hanya didatangi kaum elit dengan chef-chef terkenal.
"Silahkan, Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya."
Seorang pelayan membuka pintu ruangan khusus untuk Gara sekeluarga. Pelayan lain mulai menghidangkan makanan yang sudah Gara pesan.
"Kami baru kali ini ke tempat seperti ini, Nak Gara." Bapak tersenyum sekalian memanjatkan syukur.
Mereka juga tersenyum mendengarnya. Memang, meski keluarga bapak dan ibu di kampung juga sudah lebih dari cukup dalam hal materi sekarang, tapi mereka masih hidup dalam kesederhanaan.
Celoteh demi celoteh mulai terdengar. Mereka juga mulai menikmati makanan yang sudah dihidangkan. Anak-anak sudah makan disuapi para pengasuh yang juga diajak makan bersama keluarga besar itu.
Keesokan harinya, mereka kembali bersiap karena akan berekreasi ke pantai yang memiliki sebuah resort. Gara susah booking beberapa kamar untuk mereka. Abi dan Mentari sangat semangat begitu sampai di pantai.
"Ayo kita main air!" Tuan besar dan bapak bersama ibu juga mama mertua mengajak Abi dan Mentari bermain air pantai.
Gara dan Bening melihat itu dari kejauhan. Semilir angin membelai rambut mereka, membuatnya bergerak-gerak kecil. Dewi juga nampak senang bermain bersama keponakannya. Dua pengasuh mereka diajak ikut serta.
"Nanti, rumah kita akan semakin ramai, Sayang. Ramai dengan celotehan anak-anak kita."
"Ya, Mas. Saat itu kita kan tersadar, masa kecil mereka akan berlalu begitu cepat. Tahu-tahu mereka sudah beranjak besar dan dewasa. Kita pun semakin tua."
"Tapi, apakah cintamu akan tetap bertahan untukku, Bening?" tanya Gara serius.
Bening menoleh, kemudian menangkup wajah suaminya dengan kedua tangan. Raut wajah tampan yang membuat hari-harinya selalu berharga.
"Justru akulah yang takut, perempuan-perempuan di luar sana akan menarik perhatianmu."
"Kau lah sebaik-baiknya perempuan, Istriku. Akan sangat tak bersyukur jika aku sampai mengkhianatimu."
Bening tersenyum lalu memeluk Gara perlahan. Gara mendekap istrinya itu lembut dengan angin yang melingkupi mereka berdua.
"Aku tak pernah jatuh cinta seperti saat aku jatuh cinta kepadamu, Bening. Jatuh cinta yang berkali-kali. Mengulangnya setiap waktu tanpa rasa bosan sama sekali."
"Aku lah yang beruntung itu, Mas. Kau lelaki idaman perempuan mana saja, tapi kau memilihku yang hanya gadis desa ini."
"Sebab kau lain, Bening. Kau menyentuh hatiku sampai ke dasar-dasarnya."
Bening mengangguk paham, ia merasa bahagia sekali. Cinta yang tersemat indah, bermekaran setiap waktu. Gara pun sebaliknya, mencintai Bening seperti mengulang detik jam yang memang harus dilakukan. Rasanya, mencintai Bening seperti melaksanakan hal yang wajib baginya.
Mereka menikmati masa-masa indah bahtera rumah tangga yang memasuki usia ke enam tahun. Perjalanan indah, meski kadang ada kerikil tapi tak membuat cinta mereka meredup dan goyah begitu saja. Kuncinya hanyalah saling terbuka dan tidak menyembunyikan apapun juga tidak merespon hal-hal yang berpotensi merusak dari luar sana.
Keduanya bergandengan, membiarkan keluarga mereka menikmati pantai sementara mereka kembali duluan ke resort untuk mengulang kemesraan hanya berdua.
***
Guys, untuk novel baru belum bisa aku upload ya karena materinya ada di handphone aku yang satunya lagi dan sedang diperbaiki. Mungkin dalam beberapa hari ke depan baru bisa up novel baru, kisahnya Nilam.