Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Katanya Seorang Puteri


Lima bulan.


Fase perut yang semakin membuncit semakin nampak terlihat. Bening menikmati setiap prosesnya. Ia juga sekarang jadi rajin ikut kelas yoga khusus ibu hamil. Kalau tak Gara yang menemani, maka nyonya besar yang setia mendampingi. Perkuliahan masih berjalan seperti biasa, sebentar lagi akan kembali libur semester.


Siang itu setelah kembali dari kelas yoga, Bening menunggui Gara berangkat dari air kolam renang, suaminya memang punya rutinitas untuk berenang tiga kali dalam seminggu. Kadang bersama Bening, sembari memadu kasih.


"Kau tak mau turun, Sayang?" tanya Gara kepada istrinya yang hanya menggeleng.


"Tidaklah, Mas Gara, nanti saja. Airnya dingin," tolak Bening halus sembari menyodorkan segelas sari lemon hangat untuk suaminya itu.


"Kalau sudah berdua akan hangat cenderung panas, Sayang," goda Gara kepada Bening yang segera mencubit gemas hidung suaminya itu.


"Itu memang maunya Mas Gara," balas Bening sambil tertawa.


Gara tertawa lebar, ia memang suka menggoda istrinya itu. Di kehamilan kedua, Bening tampak bersinar. Semakin cantik, lebih suka berhias pula.


"Kita ke dokter ya malam nanti. Mas Gara sudah buat janji dengan dokter Sandra, dia akan memeriksa kau dan anak kita."


Bening mengangguk, bulan kemarin memang ia tak check up. Jadi ia memang harus periksa malam ini.


"Mas Gara ingin tanya jenis kelamin anak kita atau mau surprise seperti waktu Bening melahirkan Abi?" tanya Bening iseng. Gara tampak berpikir pula setelahnya.


Memang, di kehamilan pertama, Bening dan Gara sepakat untuk tak diberi tahu apa jenis kelamin anak mereka. Tapi di kehamilan Bening yang kedua ini, hati Gara justru tergelitik untuk lebih dulu tahu.


"Ehmmmm ... Sepertinya, Mas Gara akan meminta dokter memberitahu jenis kelamin anak kita yang kedua ini."


Bening tersenyum. Ia juga satu pemikiran dengan suaminya. Karena itu, ia pun segera mengangguk tanda bahwa ia menyetujui apa yang dikatakan oleh Gara barusan.


Setelah tepat pukul setengah delapan malam, persis sehabis mereka menunaikan sholat isya, Gara dan Bening bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Di sana, dokter memang telah menunggu keduanya.


"Mas Gara jadi deg-degan, tapi semoga sesuai keinginan," ujar Gara ketika mereka sudah berada di dalam mobil, sudah setengah perjalanan menuju ke rumah sakit.


"Mau perempuan atau laki-laki, semoga itu memang yang terbaik yang diberikan oleh Allah untuk kita ya, Mas," sahut Bening menimpali.


Gara mengangguk dan tersenyum. Tak berapa lama kemudian, mereka tiba di rumah sakit. Gara dan Bening bergandengan tangan berjalan di tengah koridor menuju ke ruang dokter kandungan.


Bening segera berbaring untuk dilakukan USG lagi setelah mereka berbincang sebentar dengan dokter tentang berbagai keluhan yang tak terlalu berarti di kehamilan kedua Bening ini. Sembari dokter memeriksa, Gara juga tampak fokus mendengar penjelasan dokter sambil melihat layar monitor.


"Sudah mulai terlihat ya, Pak Gara." Dokter tersenyum, begitu pula dengan Gara.


"Ya, Dokter. Ehmmmm .... Bagaimana dengan jenis kelaminnya, Dok? Apa sudah kelihatan dan bisa diperkirakan?" tanya Gara begitu antusias.


Dokter tersenyum sembari menggerakkan alat di atas perut Bening.


"Sudah kok, Pak, sudah cukup jelas dan sudah bisa diperkirakan."


"Perempuan atau laki-laki, Dok?" tanya Gara lagi, terlihat sekali raut semangat dari lelaki itu.


"Perempuan, Dok?" Gara memastikan dan dokter segera mengangguk.


Gara berseru riang. Sungguh seperti keinginannya, meskipun jikalau yang lahir kelak lelaki dia tetap bersyukur. Namun, sepertinya dugaan dokter memang tak salah, sebab selama hamil anak kedua ini, Bening jadi lebih sering berhias untuknya, juga memakan makanan yang manis tak seperti biasa.


Pulang dari melakukan check up, Bening dan Gara mampir di pinggir jalan karena Bening ingin sekali makan bubur kacang hijau dan kebetulan ada yang menjualnya.


"Mas Gara senang sekali," ujar Bening kepada suaminya itu sebab sedari tadi, Gara tak hentinya tersenyum.


"Ya, sebab anak kedua kita sesuai dengan harapan Mas Gara."


"Tapi baru perkiraan loh, Mas Gara." Bening mengingatkan.


"Ya, tapi minimal sudah sembilan puluh persen, Sayang."


Bening tersenyum, suaminya memang begitu antusias sekali. Mereka berbincang seputar kehamilan Bening dan membicarakan banyak hal menyenangkan.


Setelah selesai, keduanya kembali lagi ke rumah. Mereka menyempatkan diri pergi ke kamar Abi. Putera mereka sudah pulas tidur dengan pengasuhnya yang juga terlelap di samping tempat tidur anak mereka itu.


"Mbak," panggil Bening.


"Iya, Nyonya." Pengasuhnya terbangun dan segera beranjak, merasa tak enak pada Bening dan Gara karena ketiduran.


"Mbak, ke kamar saja, istirahat. Abi juga sudah tidur." Bening tersenyum kepada pengasuh anaknya itu yang segera mengangguk dan keluar dari kamar Abi menuju ke kamar sebelah, tempat dimana ia tidur.


Gara mengelus pipi gembul puteranya lalu mengecup pipi dan kening anaknya itu dengan sayang. Bening menyaksikannya dengan hati begitu hangat.


"Abi, tak lama lagi kau akan punya adik," bisik Gara kepada Puteranya yang sedang terlelap dengan mulut sedikit ternganga itu. "Kata dokter yang periksa adik dan Mama, adiknya Abi perempuan," lanjut Gara lagi sembari mengusap lembut kepala anaknya.


Bening tersenyum lagi, ia sangat suka melihat cara Gara memperlakukan anak mereka, begitu penuh kasih sayang dan perhatian. Apalagi jika mendapat anak perempuan kelak, pasti rumah tangga mereka semakin sejuk.


"Mas Gara tak sabar ingin dia segera lahir, Sayang." Kali ini Gara memeluk pinggang Bening, lalu mengecup perut itu berulang kali dengan lembut.


"Empat bulan lagi, Suamiku, sabar ya," sahut Bening sembari mengusap rambut suaminya itu. Gara mengangguk, lalu mengajak Bening untuk keluar dari kamar Abi dan menutup pintunya. Setelah itu, mereka masuk ke kamar mereka sendiri, menghabiskan sisa malam dengan merajut kemesraan panjang dengan penuh kehangatan.


"Kau cantik sekali, istriku," puji Gara setelah menyematkan selimut di tubuhnya dan Bening yang masih berusaha mengatur nafas agar kembali normal


Gara masih melihat Bening yang tampak menggoda meski dengan tubuh sudah sedikit lebih berisi. Istrinya masih sehangat dan semenyenangkan pertama kali ketika mereka melakukannya.


"Kau tak pernah lelah kan, Bening?" tanya Gara serius setelah mereka selesai dengan aktivitas dewasa itu.


"Bersama Mas Gara, semua hal menyenangkan, mana mungkin Bening akan lelah?"


Gara tersenyum, hatinya selalu terhibur setiap kali berbincang dengan Bening. Bening bukan sekedar seorang istri tapi Gara memaknainya lebih dari itu. Ia seorang istri, sekaligus sahabat yang baik, yang selalu menyediakan telinga untuk mendengar curahan hati Gara dan selalu menyediakan mulut untuk bertutur lembut dan menenangkan Gara ketika sedang dikuasai amarah. Gara berjanji, Beninglah pelabuhan terakhir cintanya setelah gagal bersama yang pertama kemarin dulu.