
Revi juga tak main-main dengan ancamannya saat ini, ia mengirimkan video semalam kepada Bening. Bening belum membukanya karena sepulang dari kuliah tadi memang matanya sedikit mengantuk. Barulah ketika sore menyambangi Jakarta, Bening membuka matanya. Ia segera mandi lalu turun ke bawah dan membantu para pelayan untuk memasak untuk makan malam kelak.
Sebelumnya, Bening singgah ke balkon dan mengangkat jemuran. Asih yang baru saja hendak mengangkat jemuran hanya menunduk lalu mengambil jemuran kering itu dari tangan Bening tanpa berkata apapun.
"Mbak Asih," panggil Bening ketika Asih sudah berbalik.
"Ya,"
"Mau masak bersama di bawah?" tawar Bening, sebab setiap kali ada Bening di rumah, Asih memang jarang ke dapur.
"Ehmmmm, nanti aku akan ke sana."
Bening tersenyum lalu mengangguk. Ia kemudian turun lagi menuju dapur dan mulai sibuk membantu pelayan memasak. Nyonya besar yang baru saja ke dapur langsung mendekati Bening.
"Bening, sudah, biarkan pelayan-pelayan di rumah ini yang masak. Kau istirahat saja. Lihat, perutmu sudah buncit, jangan banyak bekerja."
Bening tersenyum mendengar kekhawatiran mertuanya itu lalu ia menepuk-nepuk punggung tangan nyonya besar seraya tersenyum menenangkan.
"Gak papa, Ma. Bening kuat kok. Lagian ini masaknya yang simpel-simpel aja, ya kan Bu Tuti?"
Bu Tuti hanya mengangkat jempol yang disambut tawa oleh Bening dan nyonya besar. Mereka akhirnya memasak sambil mengobrol. Asih juga mendekat, membantu Bening memotong sayur.
"Gara pulang loh hari ini, kamu udah tahu?" tanya nyonya besar.
"Masa sih, Ma? Mas Gara gak bilang." Bening mengerucutkan bibirnya.
"Kayaknya dia mau kasih kejutan sama kamu."
"Gak kejutan lagi dong, kan Mama sudah bilang."
Nyonya besar tertawa lebar menyadari kekonyolannya sendiri. Membahas Gara yang sedang di luar negeri, Bening jadi ingat saat Revi meneleponnya beberapa jam yang lalu. Ia hanya bisa tersenyum kecil, meski tak dipungkiri, hatinya cemburu tapi ya mau bagaimana lagi, Gara adalah seorang suami dengan dua istri.
"Ah!" Bening sontak melepaskan pisau ketika benda itu tanpa sengaja mengiris jemarinya karena dia keasyikan melamun.
"Bening, haduh, sudah biarkan pelayan yang masak ya. Mari kita obati."
"Kenapa sampai melamun? Apa ada yang kau pikirkan?" tanya nyonya besar setelah selesai membalut luka Bening dengan kasa.
"Tidak, Ma." Bening menggeleng.
"Kalau memang ada yang menggangu pikiranmu, ceritakan saja kepada Mama, agar kau bisa tenang."
"Hanya sedikit pusing dengan tugas kuliah yang menumpuk, Ma." Bening berusaha tetap tersenyum saat mengatakannya.
"Belajar boleh, tapi jangan lupa dengan kesehatan sendiri. Ingat, Bening, ada cucu Mama di dalam sini." Mama mengetuk perlahan perut Bening.
Bening tersenyum lalu meraih jemari ibu mertuanya.
"Bening janji akan menjaga cucu Mama dengan baik."
Nyonya besar membalas senyuman Bening yang menenangkan.
"Ma, Bening ke atas ya, lupa kalau ponsel tertinggal. Siapa tahu mas Gara telepon."
Nyonya besar mengangguk lalu membiarkan Bening naik kembali ke atas. Bening mencari ponselnya yang terselip dekat selimut. Ia membuka ponsel dan menemukan satu pesan.
Bening membuka pesan itu, dari Revi. Isinya membuat Bening menahan nafas. Bening berusaha menyabarkan diri. Ia tahu ikhlasnya sedang diuji, Bening juga tidak mau menghakimi Gara dengan cemburu buta. Pasti Gara akan menjelaskan tentang video ini kelak meski tanpa Bening yang memintanya. Lagipula kembali ke pasal pertama, bahwa Revi adalah istri pertama dan dia juga berhak atas Gara. Namun, mengapa Revi harus mengirimkan video mesra itu kepadanya?
Bening mengatupkan bibirnya, mencoba untuk menguatkan hati dan diri sendiri.
"Biarkan saja, Ning. Jangan egois!" Bening berbisik lirih dalam hatinya sendiri.
Bening tidak berniat membalas pesan itu. Ia segera menghapusnya. Tak perlu menyimpan video syur itu. Di dalam kamar hotelnya, Revi belum berani mengirimkannya kepada media atau sengaja memajang video itu di medsosnya, ia sudah mendapatkan peringatan dari agency karena sering membuat berita miring terkait dirinya sendiri. Jadi, Revi harus menahan keinginannya mempermalukan Gara. Nanti alih-alih Gara yang malu, malah karirnya yang hancur jika ia gegabah.
Revi mencoba menghubungi Bening berkali-kali, tetapi kali ini Bening tak lagi mengangkatnya. Revi menghempaskan ponselnya dengan kesal, sementara Bening sendiri hanya menatap layar yang berkedip-kedip itu dengan tatapan kosong.
"Untuk apa Mbak menelepon Bening lagi? Kalau cerita yang akan Bening dengar sama saja seperti yang sudah-sudah? Apa gak lelah, Mbak?" tanya Bening pada layar ponsel yang masih berkedip-kedip.
Bening menghela nafas berat, ia tidak mau mengingat video tadi. Rasanya cukup menyakitkan melihat lelaki yang dicintai tapi melakukannya juga dengan wanita lain,. walau ia hanya madu, ternyata Bening juga bisa cemburu. Bening mengelus dadanya sendiri, mencoba menenangkan diri atas segala prasangka karena kata Gara, dia kepada Revi tak lagi cinta. Ya ... Harusnya Bening percaya.