
Gara membeku dengan ponsel masih menempel di telinga. Ia kemudian melihat Bening yang sedang menikmati eskrim. Mereka sekarang sedang di salah satu kedai eskrim yang cukup ramai oleh pengunjung. Lalu tadi, papa meneleponnya.
"Mas Gara kenapa jadi tegang begitu?" tanya Bening setelah menyadari perubahan air muka suaminya.
"Bening, ayo menyusul papa dan mama ke rumah sakit." Gara segera berdiri sambil mengajak Bening keluar. Bening masih bingung tapi tak mau bertanya dulu. Setibanya mereka di dalam mobil, barulah Bening bisa bertanya.
"Ada apa ini, Mas Gara? Papa dan Mama kenapa masuk rumah sakit?" tanya Bening dengan raut panik pula.
"Bukan papa atau mama, Sayang. Tapi Sela, Sela minum racun, mau bunuh diri." Sembari menyetir, Gara juga menjelaskan.
Bening menutup mulutnya. Buntut kejadian hari ini ternyata berujung dengan Revi yang nekat menenggak racun serangga untuk mengakhiri hidupnya.
Gara tampak tetap berusaha tenang dengan terus fokus menyetir. Ia juga tidak menyangka kalau Revi akan senekat itu ingin mengakhiri hidupnya.
"Semoga nyonya muda bisa diselamatkan, Mas." Bening bergumam kecil, Gara menoleh lalu mengangguk.
Meski Gara tidak lagi ingin mempertahankan pernikahannya dengan Revi, tetapi dia juga tidak sampai hati mendengar berita ini. Kalau saja Revi mau menyingkirkan rasa egoisnya, tentu saja ia tidak akan setega itu melayangkan kata cerai untuk Revi. Sikap Revi yang luar biasa keterlaluan lah yang telah membuat Gara marah besar. Apalagi, Revi sampai bertindak kasar kepada Bening.
Mereka sampai di rumah sakit kemudian. Di sana, terlihat kedua orangtuanya juga manager Revi.
"Gar, tadi aku ke tempat kalian, mau antarkan barang dia yang ketinggalan di lokasi syuting, sewaktu aku datang, rumah kalian pintunya terbuka. Revi tidak menjawab panggilanku dan aku menemukannya sudah berbusa di dapur." Mbak Yuki menjelaskan kepada Gara yang segera mengangguk.
"Makasih, Mbak Yuki."
"Untuk beberapa minggu ke depan biarkan Revi di rumah saja, sampai dia pulih betul baru aku akan menemuinya lagi. Gara, Revi tampak murung akhir-akhir ini. Di lokasi syuting dia juga tidak fokus. Saya harap dia segera pulih."
Gara lagi-lagi tak menyahut, hanya diam tapi mengangguk. Bening sendiri menatap Revi dengan banyak alat medis di tubuhnya itu. Kondisi perempuan itu kritis tetapi Racun bisa segera dinetralkan karena manager membawanya cepat.
"Gara," panggil tuan besar. Gara mendekat.
"Untuk sementara, jaga emosimu ya. Papa tahu kamu pusing menghadapi semua ini. Tapi kalau sudah begini juga bahaya. Revi nekat mengakhiri hidupnya seperti ini."
"Gara bingung, Pa."
"Tenangkan dulu diri kamu. Papa yakin semuanya akan berlalu. Jangan buru-buru mengucapkan perpisahan sekarang ini. Kondisinya sedang genting. Biarkan sementara Bening aman bersama kami dan kau turunkan egomu untuk merawat Revi."
"Bening, nanti ikut pulang ya bersama Mama dan Papa. Biarkan Gara menjaga Revi di sini."
"Baik, Ma." Bening mengangguk. Ia juga menatap Gara yang terlihat begitu lelah di balik sikap tenangnya. Bening kemudian mendekati Gara dan mengusap rambut suaminya itu lembut. Gara duduk di kursi, meraih pinggang Bening yang sedang berdiri lalu memeluknya erat, merebahkan kepalanya di perut Bening. Gara tak peduli pada orang-orang yang lewat.
"Mas Gara, temani nyonya muda ya." Bening berkata lirih meski tak ingin pula dia membiarkan Gara seorang diri saat ini.
"Ya, Sayang. Kau pulang ya, istirahat."
Bening mengangguk lagi. Gara masih memeluk pinggang Bening cukup lama setelah itu, hampir beberapa menit berlalu, baru dis melepaskan Bening.
"Mas Gara juga nanti istirahat ya. "
Gara mengangguk lalu membiarkan kedua orangtuanya membawa Bening pulang ke rumah. Bening menoleh, menatap Gara yang masih enggan melepaskan pandangannya dari Bening yang semakin menjauh. Gara teringat pula dengan tespack yang sempat mereka beli sebelum singgah ke kedai eskrim tadi.
Bening bilang, dia sudah telat menstruasi. Hal itu membuat Gara sangat semangat membeli tespack sampai tiga biji. Rencananya, besok dia akan menunggu Bening di depan kamar mandi untuk melihat hasilnya.
Setelah malam larut dengan Gara yang menunggu di depan ruang ICU, ia melakukan panggilan video dengan Bening. Nampak wajah Bening yang cantik sedang tersenyum dalam keremangan malam.
"Sebentar lagi tidur ya, Bening," kata Gara sambil menatap Bening rindu. Ingin rasanya ia memeluk Bening hingga mereka terlelap malam ini.
"Ya, Mas Gara."
"Sayang ... besok jangan lupa."
"Ehmmmm ... " Bening tampak mengingat tapi kemudian dia segera mengangguk. "Bening akan telepon Mas Gara begitu hasilnya keluar."
Gara mengangguk lagi lalu setelah memberi kecupan dari jauh, ia mematikan sambungan telepon. Gara kemudian menatap Revi yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit dari kaca di tengah pintu.
"Besok, mungkin benihku sudah bersemayam di rahim Bening, Sela. Mari nikmati takdir kita, aku sudah melakukan yang terbaik selama kita berumah tangga." Gara mendesis pelan, lalu kembali duduk di tempatnya semula dan mulai memejamkan mata.
Revi memang sekarat, Gara memang kasihan tapi tak lagi menemukan cintanya untuk perempuan itu.