Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Nyonya dan Tuan Besar yang Berbahagia


"Mas Gara akan segera pulang, Bening. Tidak sabar mau memeluk kamu."


Bening mengangguk, ia juga tidak sabar dengan hal itu. Kemudian setelah mengecup Bening dari jauh, Gara mematikan sambungan telepon. Kepada perawat yang bertugas di pagi itu, ia meminta mereka mengawasi keadaan Revi. Ia sendiri tidak lagi bisa menahan rasa rindu dan bahagia kepada Bening. Akan dikecup dan dipeluknya Bening sesampainya nanti di rumah.


Gara melajukan mobilnya dengan cepat, membelah jalanan Jakarta yang mulai macet dengan banyak manusia di dalamnya. Perjalanan Gara pagi ini penuh dengan semangat.


sementara di rumah megah nyonya besar, Bening sudah mulai menyiapkan sarapan. Tuan dan nyonya besar juga sudah terbangun. Nyonya besar sedang di taman belakang, dengan matras khusus ia sedang melakukan olahraga ringan.


"Ma, ini sari lemon hangatnya." Bening menyajikan minuman kesukaan nyonya besar itu di atas meja.


"Terima kasih, Bening. Apa sudah ditetesi madu?" tanya nyonya besar sambil melakukan perenggangan.


"Sudah, Ma, sesuai takaran yang biasa Mama inginkan."


"Good. Setelah memasak, kau mandi ya, lalu bersantailah."


Bening mengangguk, tadinya dia ingin menyampaikan kepada nyonya besar bahwa dia sudah hamil. Namun, Bening mengurungkannya. Biar nanti saja setelah tuan besar juga sudah di meja makan.


Bening melangkah riang ke kamar, ia segera mandi karena tak ingin menyambut Gara dengan bau bumbu dapur di tubuhnya. Hari ini, Bening bisa merasakan apa yang calon-calon ibu rasakan. Ia mengusap lembut perutnya yang masih rata, tersenyum ketika menyadari bahwa sebentar lagi dia akan menjadi seorang ibu di usia yang relatif masih sangat muda.


"Anak papa Gara, anak mama Bening." Bening tersenyum menghibur diri sendiri di saat ia sadar nanti ketika bayinya lahir, kemungkinan dia bisa menjaga dan merawat anak itu sangat kecil. Revi tidak akan membiarkan Gara melanjutkan pernikahan mereka setelah ia melahirkan. Bening akan kembali meraih kebebasan sebagai seorang perempuan muda meski telah menyandang status sebagai janda.


Lalu Bening tergugu, menangis tersedu-sedu saat sadar mungkin dia tidak akan sepenuhnya rela jika tak bisa merawat dan melihat bayinya tumbuh. Apalagi ketika menyadari bahwa dia sudah jatuh cinta kepada sang pemilik kehormatannya itu.


"Bening, kau di dalam?" Suara ketukan pintu di depan kamar mandi membuat Bening segera tersadar dari tangisan. Ia segera membasahi wajahnya dengan pancaran air, lantas membuka sedikit pintu. Gara ternyata sudah menunggunya di sana.


Gara merangsek masuk, lalu menutup lagi pintunya. Ia meraih Bening, memeluk lalu ******* bibir istri keduanya itu dengan semua perasaan yang sudah meledak hebat.


Bening bisa merasakan airmatanya kembali mengalir dan menyatu bersama pancaran air. Sungguh bohong jika dia tidak jatuh cinta kepada Gara.


"Bening, I Love u," bisik Gara sambil merengkuh tubuh Bening di bawah air yang dingin itu.


Bening tak sanggup menjawab, ia hanya memeluk Gara erat, menumpahkan semua perasaan yang sudah meluap-luap. Gara melepas pakaiannya yang sudah basah lalu mulai menyatukan tubuh mereka berdua. Bening hanya bisa mengerang tertahan, merasakan indahnya surga dunia itu bersama suami halalnya.


Setelah selesai dengan pelepasan yang kesekian di dalam kamar mandi itu, Gara mencium perut Bening, lalu memeluk pinggang Bening penuh perasaan.


"Hai, Sayang, ini Papa. Tumbuh dan tenang dengan nyaman ya di dalam perut Mama. Nanti, Mama akan membawamu ke mana-mana, karena Mama juga akan kuliah. Jangan buat Mama mual dan capek ya, kau sayang Mama kan? Sama, Papa juga sangat sayang Mama," kata Gara sambil berbicara di depan perut Bening.


Bening tak mengatakan apapun selain hanya tersenyum sembari mengusap kepala Gara yang tengah berada di depan perutnya itu. Lalu Gara berdiri lagi, memberi kecupan di kening Bening.


Setelah mandi, Bening dan Gara yang sudah rapi turun kembali ke ruang makan. Kedua orangtuanya sudah menunggu di sana. Mereka menyambut Bening dan Gara untuk makan bersama.


"Ma, Pa, aku punya kejutan buat Mama dan Papa pagi ini. "


"Oh ya, kejutan apa itu?" Papa bertanya dengan antusias sembari memasukkan makannya ke dalam mulut.


"Bening sudah hamil."


Hening sesaat tapi kemudian, tuan besar refleks berdiri. Ia menatap Bening dan Gara bergantian, sama halnya dengan nyonya besar yang sedang mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Bening hamil? Bening, kau sudah hamil?!" tanya tuan besar sambil menatap istrinya dengan mata berbinar-binar.


Bening dan Gara mengangguk. Tuan dan nyonya besar saling berpandangan beberapa saat tapi kemudian mereka saling berpelukan, berseru dengan riang. .


"Putera bungsuku hebat! Ti, Ti!" Nyonya besar berseru kepada kepala pelayan.


"Iya Nyonya, saya Nyonya!"


"Ke pasar, Ti! Ajak Diman belanja buat acara malam nanti!"


"Acara apa Nyonya?" tanya bu Tuti tidak mengerti.


"Menantuku hamil! Bening hamil, aku dan suamiku bakal punya cucu!"


Nyonya berseru riang lalu memutari meja, meraih Bening ke dalam pelukannya. Tuan besar juga sudah memeluk Gara. Gara meraih jemari Bening, memegangnya dengan mereka yang saling memeluk tuan dan nyonya besar. Euforia itu sampai ke perusahaan, acara makan-makan mendadak dibuat hari itu juga. Bening juga tak lupa akan segera mengabari kedua orangtuanya di desa sana.