Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Bumil Kelelahan


Setelah beberapa minggu ini, kegiatan perkuliahan Bening tidak terlalu padat karena seringnya dosen tidak bisa hadir. Namun, di beberapa minggu setelahnya, justru dosen sedang bisa mengajar dan melaksanakan jam perkuliahan lebih banyak. Karena itu, jadi Bening juga lebih sering berada di kampus saat ini, ketimbang berada di rumah bersama dengan Abi. Namun, ia bisa merasa tenang karena selama ia sibuk di kampus, seringkali Abi dijemput oleh mertuanya untuk dibawa ke rumah.


Pengasuh anaknya itu juga sudah kembali dari kampung halaman dan sudah kembali bekerja lagi dengan Bening. Usia kandungan sudah hampir memasuki ke dua bulan lebih itu nyatanya tak melulu membuat Bening dalam kondisi yang selalu fit, meskipun dia sudah mengkonsumsi banyak vitamin penguat kandungan juga vitamin untuk sistem imun dirinya sendiri.


Mungkin karena aktivitas perkuliahan yang cukup padat itu pula, akhirnya Bening menjadi sedikit kelelahan dalam beberapa hari ini, tapi ia tidak pernah mau mengatakannya kepada Gara. Dia tidak ingin Gara juga ikutan panik dan cemas jadi Bening hanya menyimpan rasa lelahnya itu sendirian.


Sampai suatu malam ketika Gara baru saja naik ke kamar mereka di lantai atas, dia tidak melihat adanya Bening. Lelaki itu memanggil-manggil istrinya dan tidak pula mendapatkan sahutan. Akhirnya Gara pergi ke kamar mandi dan betapa terkejutnya dia ketika menemukan Bening sudah merosot jatuh di bawah wastafel. Perempuan itu nampak tak sadarkan diri hingga Gara mengangkat tubuh Bening lalu membawanya turun ke bawah.


"Nyonya muda kenapa, Tuan?" tanya pengasuh Abi yang kebetulan pula baru selesai dari kamar mandi bawah. Saat itu ia berpapasan dengan Gara yang membawa Bening turun di dalam gendongannya.


"Pingsan, Mbak. Saya pergi ke rumah sakit dulu, tolong jaga Abi."


"Baik, Tuan. Apa nyonya dan tuan besar perlu dihubungi?" tanya pengasuh itu lagi kepada Gara yang juga tampak cemas melihat Bening yang sudah tidak sadarkan diri.


"Jangan dulu, sudah malam. Nanti mereka panik. Tidak apa-apa, saya akan segera pergi ke rumah sakit."


Gara kemudian dengan cepat dan hati-hati memasukkan Bening ke dalam mobil. Ia juga membawa mobilnya dengan cepat tapi berusaha untuk tetap tenang.


Sesampainya di rumah sakit, para perawat UGD juga staff keamanan bergegas mendekati Gara dan langsung membawa Bening ke dalam ruangan pemeriksaan. Bening segera diperiksa dan Gara menunggunya dengan cemas. Tak lama kemudian, dokter keluar dari ruang pemeriksaan didampingi serang perawat, menghampiri Gara.


"Istri saya kenapa ya, Dokter? Bagaimana kondisinya? Tadi saya menemukannya pingsan di kamar mandi rumah kami," ujar Gara dengan wajah yang cemas, tetapi ia tetap berusaha untuk tenang saat ini.


"Tidak apa-apa, Pak. Kebetulan sekali karena istri bapak ini sedang hamil, apa lagi masih hamil muda, sepertinya dia kelelahan. Nampaknya istri anda beraktivitas cukup padat beberapa hari terakhir."


"Dia memang memiliki jadwal kuliah yang cukup padat beberapa hari ini, Dokter. Tapi benar-benar tidak apa-apa kan istri saya? Saya merasa sangat khawatir dan bagaimana dengan kandungannya?"


"Baiklah, Dokter, lakukan apapun yang penting istri saya cepat sehat."


Dokter mengangguk, kemudian mulai menginstruksikan kepada perawat untuk menelepon bagian ruangan yang kosong dan Gara memilih uangan VIP untuk istrinya itu. Malam itu juga, akhirnya Bening mulai di rawat inap. Beberapa jam kemudian, akhirnya Bening terbangun dari pingsannya. Awalnya yang terlihat adalah cahaya lampu yang terang dan itu sempat membuat ia tidak kuasa untuk membuka mata, namun setelah ia mendengar suara Gara yang memanggilnya perlahan, Bening membuka sempurna matanya dan menoleh kepada suaminya itu.


"Syukurlah, kau sudah bangun, Sayang," ujar Gara sambil mengecup kening Bening. Bening sendiri masih heran mengapa ia berada di ruangan ini dan barulah ia sadari bahwa sekarang ia sedang berada di rumah sakit.


"Bening kenapa ya, Mas?" tanya Bening masih tidak mengerti.


"Kau pingsan. Sewaktu Mas Gara naik ke kamar kita, Mas Gara tidak menemukanmu barulah ketika Mas Gara pergi ke kamar mandi, Mas sudah melihatmu pingsan di bawah wastafel. Kata dokter, kau kelelahan." Gara menjelaskan dengan pelan dan lembut.


Bening tampak berpikir sebentar, tapi kemudian dia ingat sebelum dia pingsan dia memang sedang membersihkan wajahnya. Lalu tidak berapa lama kemudian, kepalanya tiba-tiba saja pusing dan pasokan udara tiba-tiba saja menjadi tidak selancar sebelumnya. Setelah itu, dia tidak tahu apapun lagi sampai akhirnya dia terbangun dan berada di dalam rumah sakit ini.


"Apa kau mau cuti kuliah dulu?" tanya Gara dengan serius. Bening meraih jemari Gara kemudian dia menggeleng


"Tidak apa-apa, Mas Gara. Memang kebetulan hari ini, Bening kelelahan karena aktivitas di kampus cukup padat. Ini salah Bening sendiri, karena tidak langsung istirahat selepas kuliah. Tapi setelah ini Bening janji tidak akan seperti ini lagi, lebih baik tidak usah cuti kuliah, Mas, Bening bisa menjalani kuliah seperti biasa. Tapi harus mengubah pola istirahat ketika sudah pulang kuliah."


Gara tampak berpikir keras, kemudian dia mengelus istrinya itu dengan jemarinya sendiri. Jujur saja saat ini, dia sangat khawatir dengan istrinya itu.


"Baiklah, kalau kau memang tidak ingin kuliah, tapi Mas Gara benar-benar berharap kau bisa menjaga kesehatan atau pulang dari kampus kau tidak perlu lagi masak dan mengerjakan tugas rumah ya. Sepertinya saran dari mama itu benar, harus ada pembantu di rumah kita."


Jadi demi untuk menghormati keputusan suaminya itu dan karena Gara memberikan pengertian kepadanya untuk tidak cuti kuliah lagi saat ini, akhirnya Bening setuju untuk mengambil satu pembantu dari rumah ibunya. Di rumah mereka memang saat ini Bening tidak bisa membiarkan dirinya terlalu lelah, demi bayi yang ada dalam kandungannya, juga demi kesehatannya sendiri dan tidak ingin Gara nanti berpikir yang macam-macam dan tidak fokus di perusahaan karena selalu memikirkan dirinya yang sering kelelahan akhir-akhir ini.


Gara akhirnya bisa tersenyum dan bernapas lega saat ini karena tidak ada masalah kesehatan yang berarti selain kelelahan yang menimpa Bening. Gara juga akan selalu memberikan perhatian kepada istrinya itu, yang memang saat ini sedang hamil muda dan kebetulan pula sedang menjalani kegiatan perkuliahan yang padat-padatnya. Gara juga tidak bisa memaksa Bening untuk cuti kuliah, karena ia tahu istrinya itu ingin segera lulus dari perkuliahannya.