Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Ospek!


Sekarang Gara dan Bening sudah tinggal di rumah baru. Rumah yang dibelikan Gara atas nama Bening itu terasa damai dan tentram dengan cinta yang meliputi Gara juga istri keduanya itu. Malam ini, Bening dan Gara baru saja selesai membeli perlengkapan untuk persiapan ospek besok.


"Heran, makin tahun kok masih ada perpeloncoan kayak gini!" Gara ngedumel sedari tadi ketika mereka mencari bahan untuk ospek, Gara tak henti menggerutu. Dia hanya memikirkan Bening yang sedang hamil dan nekat mau ikut ospek.


"Gak papa, Mas Gara. Sebagai calon mahasiswi yang baik, Bening ikut aturan yang berlaku. Lagipula engga enak, kalau Bening tidak ikut sementara teman-teman yang lain terpaksa ikut."


"Mas Gara cuma takut nanti kau dikerjain sama senior-senior di sana. Apalagi ..." Gara menghentikan kata-katanya, saat dia ingat bahwa Dani adalah salah satu panitia ospek.


Gara bukannya tak pernah kuliah, dia sudah lebih dulu melewati masa-masa itu. Dia juga ketua BEM dulunya. Menggoda mahasiswi baru apalagi yang cantik seperti Bening adalah kerjaan mereka dulunya. Jadi, feelingnya tentang ospek yang akan diikuti Bening tidaklah bagus. Namun, melihat Bening yang sangat ingin ikut, akhirnya dia mengalah.


"Apalagi apa, Mas Gara?" tanya Bening penasaran.


"Gak papa, Sayang. Besok kalau ada yang jahilin atau godain kamu, langsung telepon Mas ya, biar Mas Gara pecahkan kepalanya."


Bening tertawa. Suaminya memang akan berkata sesuai kata hati. Namun, itulah yang membuat Bening suka Gara.


"Iya, Mas Gara, Bening yakin kok, gak bakal kenapa-kenapa."


Gara mengangguk sambil tersenyum lalu mengusap puncak kepala Bening.


"Ya sudah, habis ini, Bening istirahat. Besok kan mesti bangun pagi."


"Iya, Mas Gara juga ya, kan ada meeting penting."


Gara menepuk keningnya, dia hampir saja lupa dengan meeting penting besok kalau tak Bening ingatkan. Padahal rencananya, Gara akan menunggu sampai Bening selesai ospek. Dia benar-benar punya perasaan tidak enak dengan ospek yang akan diikuti Bening itu.


Jadi semalaman, Gara uring-uringan. Dia memandang Bening yang sudah tidur. Wajah polos Bening membuat Gara tergerak untuk mengusapnya perlahan dengan jari telunjuk. Ia ingat saat pertama bertemu Bening secara tak sengaja di pelataran rumah sakit saat sedang mengawasi proyek di Banjar. Tak menyangka pula pertemuan-pertemuan selanjutnya malah terjadi di kediaman ibunya sendiri. Bening yang memakai seragam pelayan saat itu terlihat menarik di mata Gara juga memancing sisi lelaki dewasa dalam dirinya.


Keretakan hubungan rumah tangga dengan Revi akhirnya membuat Gara membuka mata, ada perempuan lain yang ternyata mampu mengusik pikirannya siang dan malam dan itu adalah Bening. Meski usianya masih sangat muda tetapi cara berpikir Bening, juga pembawaannya yang tenang, membuat Gara penasaran hingga berhasrat ingin memiliki. Kini, gadis belia itu sudah sah menjadi istrinya. Bening sukses membuat Gara yang sempat mati rasa dengan perempuan karena ulah Revi, kini jadi jatuh cinta berkali-kali setelah ada Bening dalam hidupnya.


"Mas Gara, kenapa belum tidur?" tanya Bening, memecah lamunan panjang Gara.


Gara tersenyum kecil lalu merapatkan tubuhnya dan mendekap Bening di depan dada.


"Cuma kepikiran, besok kamu bakal aman apa engga kalo Mas Gara gak lihat."


"Aku berlebihan kah Bening? Apa kau nyaman aku perlakuan seperti ini? Dulu, kepada Revi juga aku begini. Serba takut, tapi itu malah membuatnya risih dan semakin berusaha membebaskan diri."


"Bening suka Mas Gara perhatikan seperti itu, rasanya seperti diistimewakan. Terima kasih ya, Mas Gara," gumam Bening, membuat Gara perlahan tersenyum mendengarnya.


Malam semakin beranjak larut, Gara dan Bening tidur dengan saling mendekap satu sama lain. Pagi hari sekali setelah menuntaskan subuh, Bening langsung memasak untuk Gara juga mempersiapkan kebutuhan ospeknya. Ia juga sudah memakai kemeja putih dan rok selutut sesuai syarat ospek. Rambutnya sudah di ikat dua kiri dan kanan. Papan nama Bening bertuliskan Bebek Sawah.


Bening segera naik ke atas dan membangunkan Gara yang menggeliat lalu menatap Bening yang sudah rapi. Ia memeluk Bening seraya memajukan bibir.


"Kiss morning," kata Gara.


Bening mengecupnya perlahan dengan Gara yang menikmatinya. Lalu Gara beranjak menuju kamar mandi sedang Bening menyiapkan baju kerja Gara.


"Mas Gara, aku tunggu di bawah ya," seru Bening kepada Gara yang masih berada di dalam kamar mandi.


"Ya, Sayangku. Nanti Mas menyusul."


Bening turun, menunggu Gara sembari meminum susu hamilnya. Tak berapa lama kemudian, Gara turun dengan sudah bersetelan rapi dan tampan.


Mereka menikmati sarapan pagi dengan berceloteh banyak hal. Setelah itu, mereka berangkat. Bening turun dari mobil setelah sampai di kampus dengan sudah banyak sekali calon mahasiswa baru yang memakai seragam hitam putih sama seperti dirinya.


"Ingat ya, kalau ada yang macam-macam, langsung telepon Mas Gara."


"Iya, Mas Gara. Mas Gara hati-hati ya perginya, Bening masuk ya, Mas."


Gara mengangguk dengan sedikit tak rela. Ingin rasanya dia tinggal agar bisa melihat Bening. Namun, meeting kali ini sangat penting karena itu adalah partner bisnis tuan Wibowo. Dia tidak mau mengecewakan papanya jika harus membatalkan meeting hari ini. Jadi akhirnya, Gara melaju juga, meninggalkan Bening yang sudah masuk dalam barisan bersama mahasiswa lain.


"Itu bukannya cewek yang Dani taksir?" Seorang mahasiswa memakai almamater kampus menunjuk Bening.


"Iya, dia yang aku cari selama ini. Tiap malem yang aku dengar dari Dani cuma cewek itu. Nanti kerjain!" perintah gadis berambut pirang dengan name tag Rosalina itu.


Apalagi dari kejauhan, dia melihat Dani tak henti menatap Bening lekat.


"Cari-cari kesalahan cewek itu, biar kita bisa leluasa seret dia ke belakang!" perintah Rosa kepada dua temannya.