Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Bukan Suami, Tapi Sudah Jadi Mantan


"Ujian tengah semester bentar lagi ya, Bening?" tanya nyonya besar saat mereka sedang sarapan pagi. Bening sudah rapi dengan dress simpel selutut karena sebentar lagi dia akan berangkat ke kampus. Gara juga nampak tampan dengan setelan kerjanya. Tuan Wibowo sedang berbincang pula bersama Gara membahas masalah perusahaan.


"Ya, Ma. Setelah itu libur cukup panjang."


"Ehmmmm, bagus, kau bisa istirahat dan fokus dengan kehamilanmu dulu."


Bening tersenyum lalu mengangguk. Ia melihat Gara yang nampak serius berbincang dengan ayah mertuanya. Sekilas ia mendengar Gara membahas tentang berkas perkara yang sudah dilimpahkan ke pengadilan agama.


Sidang akan digelar tak lama lagi untuk memutus secara sah perceraian Revi juga Gara. Sudah hampir dua minggu sekembalinya Gara dan Revi dari luar negeri. Revi sendiri masih berusaha meraih Gara ke dalam hidupnya lagi dengan berbagai cara. Namun, Gara tentu saja bergeming, bahkan memerintahkan staff keamanan untuk mengusir Revi jika berani datang ke perusahaannya.


"Kita berangkat dulu ya, Ma, Pa." Gara dan Bening pamit.


Kedua orangtua itu mengangguk lalu meneruskan acara makan mereka.


"Papa tahu tidak, Revi itu memang sungguhan tidak bisa mengandung lagi, Gara menunjukkan surat medisnya kepada Mama."


Tuan Wibowo menghentikan sesaat kegiatannya menyuap makanan ke mulut lalu ia menatap istrinya lekat.


"Karena terlalu lama menunda, akhirnya Tuhan pun menjadikannya tertunda selamanya," sahut tuan Wibowo akhirnya sambil menghela nafas.


Nyonya besar mengangguk setuju.


"Mama rasa keputusan Gara menalak Revi tak salah. Untuk apa bertahan dengan hubungan yang penuh dengan racun seperti itu?"


"Kau benar, Sayang. Sudah saatnya Gara bergerak bebas. Selama ini, dia terbelenggu dengan semua kelakuan Revi. Lagipula sudah ada Bening."


Keduanya kemudian sama-sama tersenyum, membayangkan akan segera menimang cucu yang akan lahir beberapa bulan lagi. Sungguh tak sabar rasanya.


"Papa berangkat juga ya, Ma." Tuan besar mengecup pipi istrinya sekilas lalu nyonya besar mengantar suaminya sampai ke depan.


Rasanya, keluarga mereka kini benar-benar damai. Namun, ketika siang hari saat nyonya besar sedang berada di dalam ruang pribadinya, bu Tuti mengetuk pintu dan mengatakan jika Revi berada di bawah.


"Mau apa dia, Ti?" tanya nyonya besar tenang sambil melepas kacamata karena dia tadinya sedang membaca novel.


"Nona Revi hanya berkata ingin bertemu Nyonya."


"Ya sudah, biarkan dia masuk ke sini."


Akhirnya kepala pelayan itu segera turun lagi lalu mempersilahkan Revi melangkah menuju ruang pribadi mantan mertuanya.


Revi masuk ke dalam dengan membawa tentengan berupa kue brownies kesukaan nyonya besar. Ia berjalan dengan anggun.


"Duduklah." Nyonya besar mempersilakan perempuan itu.


"Ma, aku bawa ini buat Mama."


Nyonya besar mengangguk lalu membiarkan Revi meletakkan benda itu di meja. Nyonya besar masih menunggu perempuan yang bukan lagi menantunya itu untuk berbicara.


"Mama tentu tahu mengapa Revi sampai ke sini."


"Mama tidak tahu, kau belum mengatakan apapun. "


"Ma, aku gak mau bercerai dengan Gara. Aku sangat mencintai suamiku."


Nyonya besar nampak menarik nafasnya panjang lalu menghelanya berat. Ia menatap intens mantan menantunya selama lima tahun itu lalu menggeleng pelan.


"It's to late, Revi. Kenapa tidak dari dulu berusaha membahagiakan dan berbakti kepada Gara, puteraku?" tanya nyonya besar dengan segudang kekecewaannya.


Revi hanya menunduk, ia tidak bisa melepaskan Gara.


"Aku hanya butuh sedikit lagi waktu untuk bisa menghadirkan cucu untuk Mama juga papa dan anak bagi Gara."


"Revi, terima saja kenyataan. Gara sudah menjatuhkan talaknya untukmu, kalian sudah bukan suami istri lagi secara agama. Tinggal menunggu sidang di pengadilan agama yang akan mensahkannya pula secara hukum."


"Enggak, Ma, aku masih istrinya!" Revi masih berkeras, merasa Gara menalaknya tidak sah karena dalam pengaruh alkohol.


"Apapun yang kau katakan, semuanya sudah terlanjur terjadi. Tidak ada lagi yang bisa diselamatkan dari pernikahan kalian. Lagipula, kami pun sudah tahu jika kau sudah tak bisa lagi mengandung."


Revi terdiam seribu bahasa. Ia memandang nyonya besar dengan kilatan marah tapi tak bisa berbuat apapun. Lalu dengan masih menahan kemarahannya, ia berdiri dan berbalik, melangkah meninggalkan ruang pribadi nyonya besar dengan masih dikuasai emosi menggila.


"Heran, bukannya sekarang harusnya dia senang karena tak ada lagi yang akan menghalanginya menjadi superstar?" tanya nyonya besar kepada diri sendiri sambil menggelengkan kepalanya.


Bagaimana pun juga, nyonya besar tetap harus mengatakan hal menyakitkan itu. Karena benar, sekarang tak ada lagi hubungan apapun di antara mereka dengan Revi. Revi bukan lagi istri Gara, puteranya yang berarti dengan jelas dan pasti, menjadikan dia juga otomatis bukan lagi sebagai menantunya.


Lagipula, nyonya besar sendiri seperti tak melihat penyesalan sama sekali di wajah Revi barusan. Yang ada hanya kemarahan, marah karena tak semua orang kini mau menuruti lagi semua kemauannya. Marah karena kini dia merasakan kalah dengan perempuan muda yang dulunya hanyalah seorang pembantu di rumah megah itu.