
Masih susah untuk bernafas dengan lapang, Nilam menekan dadanya. Berulang kali dia berusaha meyakinkan diri bahwa inu semua mimpi. Dugaannya Bening yang menjadi simpanan sugardady ternyata tak terbukti. Sahabatnya menjadi istri dari seorang pria dengan status yang resmi. Hanya saja yang salah bagi Nilam saat ini adalah kenapa harus suami Revi? Apa dia saja yang belum terlalu paham dan mengerti. Dia paham betul siapa Bening, sosok yang tak pernah tega menyakiti orang lain. Jadi pasti ada alasannya bukan?
"Kenapa harus suami mbak Revi, Ning?" tanya Nilam serak. "Kau ... tidak merebutnya secara sengaja, bukan?" sambung Nilam lagi.
Bening menarik nafas panjang. Sebenarnya, dia sudah yakin, pasti Nilam akan berpikir seperti itu.
"Menurutmu seperti itu, Lam?" Bening malah balik tanya.
Nilam jadi menggaruk kepalanya yang tak gatal. Lalu sebutan apalagi yang pantas?
"Menurut cerita mbak Revi, kau yang menggoda suaminya, lalu merebutnya dan akhirnya kalian menikah."
"Terus kau percaya? Kau baru kenal mbak Revi barang beberapa hari. Kau kenal aku dari kita masih kecil sekali."
Nilam menarik nafasnya panjang dan kasar . "Ya kau cerita kalau begitu, Ning."
Bening menyandarkan diri di sofa, tatapannya menerawang jauh sekali. Kembali ke desa, ketika dia masih polos dan tidak mengerti apa itu cinta. Lalu tiba di Jakarta yang punya seribu satu pesona juga segudang tantangan. Di sana lah kisah itu bermula, menjadi pembantu orang kaya yang puteranya dilema karena tak kunjung punya keturunan.
Sembari berkisah, Nilam menyimak dengan seksama. Wajah Bening terlihat tenang ketika menceritakan semuanya. Tatapannya juga masih menerawang hingga akhirnya Bening meraih jemari Nilam lalu meletakkannya di atas perut.
"Ada bayi mas Gara di sini, Lam. Sesuatu yang tidak bersedia mbak Revi berikan untuknya. Yang dia nanti sepanjang hari dan tahun yang dipinta siang dan malam.
"Jadi betul, mbak Revi sengaja tak memberikan suami kalian anak hingga akhirnya dia tertarik menjadikannya pembeli rahimmu?"
Bening mengangguk. Nilam mengangguk-angguk juga. Semuanya mulai jelas.
"Sebenarnya aku tak menyukai poligami, sebab pasti sakit jika perempuan harus berbagi hati dengan orang lain. Tapi di sisi lain, cerita kalian ini rumit. Kalau di posisi kau, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama. Mbak Revi jelas salah karena sudah menunda kehamilannya. Apalagi mas Gara itu ganteng banget."
"Kau pernah melihatnya dimana, Lam?" tanya Bening penasaran.
"Aku sempat tengok wallpapernya mbak Revi. Foto dia sama suami kalian itu lagi berdua. Makanya aku syok berat lihat foto itu," tunjuk Nilam pada foto pernikahan Bening dan Gara yang besar terpampang.
"Ya gak gimana-gimana. Mau menyebutmu pelakor juga gak tepat. Kau bukan sengaja datang lalu merebut lelaki itu."
"Aku lega, Lam, bisa menceritakan semuanya padamu. Memang itulah kenyataannya. Cuma, gimana kalau mbak Revi tau kau adalah sahabatku. Aku tahu dia benci banget sama aku, pasti dia juga bakal benci dengan semua yang berhubungan denganku."
"Aku gak bisa memastikan itu sih, cuma tadi sempat kepikiran juga. Tapi aku sama dia kerja profesional kok. Urusan kalian bukan urusanku. Cuma ya sementara ini aku gak bakal ngomong apapun tentang kau yang kenal baik aku. Kecuali dia tanya ya baru aku jawab. Kalau mau dipecat juga silahkan ajalah, gampang aku balik ke kafe remang-remang," jawab Nilam santai.
Bening memukul lengan sahabatnya itu gemas. Dia meraih jemari Nilam.
"Lam, nanti aku minta carikan kau pekerjaan ya sama mas Gara. Sementara ini, bertahanlah dulu sama mbak Revi."
"Udahlah gak usah dipikirin. Kan aku bilang aku kerja profesional. Aku kenal kau udah lama, dia gak profesional banget kalau seandainya memecatku karena kita sahabatan."
Bening mengangguk-angguk. Ia yakin, Nilam masih Nilam yang dulu. Tidak akan pernah membencinya. Nilam sosok yang pemikir meski suka bicara tanpa blak-blakan.
"Ya sudah, mau masak apa kita hari ini Lam?" tanya Bening kemudian.
"Apa ya, yang berkuah enak kali ya, Ning. "
"Hmmmmm aku punya bahan buat masak tomyam."
"Ayo kalo gitu. "
Keduanya beranjak menuju dapur dengan langkah riang. Mereka mula memeriahkan dapur dengan celotehan dan kisah indah mereka ketika di desa. Sementara, Nilam tidak akan menceritakan apapun kepada Revi. Dia memilih berpura-pura tidak tahu saja tentang hubungan segitiga atasannya itu dengan Bening dan suami mereka.
Gagal niat Nilam cari sugardady melalui bening, lah sugardady Bening ternyata suami atasannya juga. Namun, Nilam tentu saja tidak akan menodai persahabatannya dengan Bening. Mereka orang desa dan sudah sahabatan lama, tidak lucu kalau nanti kembali ke desa dengan pura-pura tidak kenal. Nilam hanya mengerti, berarti Bening memang sudah mendapatkan jodohnya walaupun jodohnya ternyata suami orang lain. Ya, biarlah saja, Nilam tak mau ambil pusing. Dan Bening pun tak perlu merasa sungkan kepada Nilam.
Setidaknya, Nilam tidak menudingnya pelakor seperti teman-teman kampusnya yang mulai mencium cerita poligami di antara Bening, Revi dan Gara.