
Bening dan Gara pulang dari mall setelah puas berkeliling dan membeli cukup banyak barang. Dress-dress cantik dan simpel sudah banyak Bening beli dan bawa pulang. Nyonya besar memang sedikit cerewet karena ia sangat memperhatikan Bening yang sedang hamil. Bening tidak boleh pakai celana jeans, Bening tidak boleh tidak pakai jaket kalau sedang keluar dan sederet wejangan lain yang selalu Bening dengar hampir setiap hari melalui telepon.
"Lagi apa sih, Mas Gara?" tanya Bening ketika melihat Gara memotret dress yang ia beli untuk Bening.
"Nih, kirim ke mama biar gak bawel lagi." Gara tertawa sambil menunjukkan foto-foto yang baru saja dia ambil dan sudah terkirim ke nyonya besar yang membalasnya dengan emoticon jempol.
"Mas Gara sama mama itu dekat sekali ya, Bening suka melihatnya."
Gara mendekat ke arah Bening lalu merangkul istrinya itu. Ia mengajak Bening duduk di balkon atas sambil menikmati senja.
"Iya, Bening. Anak laki-laki mama cuma Mas Gara, bungsu lagi, gimana mama gak sayang banget? Dari dulu juga, apapun yang terjadi sama Mas Gara, mama paling paham. Makanya, Mas Gara sangat ingin memberikan mama dan papa cucu. Walaupun mereka sudah mendapatkan masing-masing satu dari kakak-kakak Mas Gara, tapi tetap saja, mereka ingin sekali mendapatkannya dari Mas Gara juga. Apalagi, kakak-kakak semuanya tinggal di luar negeri, hanya Mas Gara yang di Indonesia menghandle perusahaan papa. Tumpuan harapan mereka hanya Mas Gara."
"Terus, kalau seandainya anak kita nanti perempuan, apa mama dan papa akan kecewa ya, Mas Gara?" tanya Bening tiba-tiba takut.
Gara tersenyum lantas merebahkan kepala Bening ke bahunya.
"Tidak, Bening. Perempuan dan laki-laki sama saja. Mereka akan menerimanya dengan tangan terbuka."
Bening jadi bernafas lega mendengarnya. Ia kemudian memeluk Gara, menikmati semilir angin sore bersama suaminya itu.
"Oh iya, nanti malam ada acara pagelaran seni punya temannya Mas Gara. Kita datang ya, tidak enak kalau tidak hadir."
"Iya, Mas Gara, Bening ikut semua yang Mas Gara ingin lakukan."
"Good, Bening. Mas Gara sayang kamu."
Bening memandang Gara dengan sejuta keharuan. Dia juga sayang kepada lelaki itu. Bening tidak mau kehilangan Gara. Ia memeluk Gara erat.
Acara pagelaran seni itu banyak dihadiri oleh para pengusaha dan pejabat juga beberapa artis terkenal. Gara dan Bening nampak serasi dengan Gara yang berkemeja ketat sementara Bening memakai dress polos semata kaki berwarna putih gading.
"Mas Gara, aku mau ke toilet ya."
"Oke, ayo Mas Gara antar. "
Baru saja hendak mengantar Bening, rombongan pengusaha menghampiri Gara membuatnya tak enak meninggalkan mereka.
"Tidak apa, Mas, biar Bening sendiri, toiletnya juga tidak jauh," bisik Bening dan akhirnya Gara mengangguk setuju lalu membiarkan Bening berlalu dari tempat itu.
Bening mencari toilet ke sana kemari dan menemukannya di belakang ballroom. Ia segera masuk ke dalam lalu menuntaskan rasa ingin pipisnya. Setelah itu Bening keluar lagi dan pergi ke wastafel untuk menguncir rambutnya yang terurai. Saat itulah ia melihat seseorang masuk ke dalam toilet dan kebetulan pula orang itu melihat cermin.
"Nilam!"
Keduanya sama-sama berbalik. Bening langsung memeluk Nilam erat. Sudah lama mereka tidak bertemu. Nilam tampak terkejut melihat Bening yang sangat cantik.
"Apa kabar kau, Lam?" tanya Bening setelah melepas pelukannya.
Nilam menunduk perlahan. "Aku baik, Ning. Cuma, aku sana Toni sudah putus."
Ada lega dan sedih di saat bersamaan ketika Bening mendengar hal itu.
"Lalu kau sama siapa ke sini, Lam?" tanya Bening penasaran. Ia tak mau lagi membahas perihal Toni.
"Sama atasanku, Ning. Dia artis terkenal."
Bening mengangguk-angguk. Nilam kemudian memandangnya heran.
"Terus kau dengan siapa, Ning? Sorry, tapi ini kan tempat orang kaya, Ning."
Bening tersenyum mendengarnya, ia tahu Nilam pasti mengira dia masih jadi pembantu. Namun, Bening tidak mau membahasnya.
"Iya, kebetulan ikut suami, Lam."
Nilam tampak diam seaaat. Dia memincing lalu tertawa.
"Kau udah nikah, Ning?"
"Ya sudah, Lam."
"Serius, Ning?" tanya Nilam tak percaya. Namun, Bening mengangguk.
Baru saja hendak membalas Bening, teleponnya berdering. Dari Revi.
"Aduh, sorry Ning, nih aku mesti cepet. Oh iya, minta nomermu biar kita enak komunikasi ya."
Bening mengeluarkan ponselnya, Nilam terbelalak melihatnya. Itu ponsel mahal sekali. Ia hampir tak berkata-kata. Namun, ia segera pergi setelah Bening menyimpan nomor ponselnya dan dia menyimpan nomor Bening.
Di perjalanan menuju atasannya, Nilam hampir tak habis pikir melihat Bening tadi. Ia akan mencari tahu hoki apa yang sudah dihasilkan Bening sekarang. Dia merasa tersaingi, masa pembantu seperti Bening bisa memakai pakaian dan ponsel mahal seperti itu. Sempat terlintas dalam benak Nilam Bening jadi simpanan orang kaya saat ini.