Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Lepas Empat Puluh Hari


Akhirnya waktu yang Gara tunggu-tunggu datang juga. Rasa tak sabar untuk segera sampai di desa mertuanya. Rasa tak sabar mau melepas rindu kepada istrinya. Bening sedari perjalanan tadi mengingat sang suami untuk pelan-pelan saja membawa mobil, Gara hanya tersenyum menanggapi. Ia tahu istri kesayangannya itu sedang mencemaskannya yang terlalu bersemangat untuk menjemputnya pulang. Ia takut Gara ngebut gila-gilaan.


"Jangan ngebut loh, Mas, pelan saja yang penting selamat sampai tujuan." Bening kembali mengingatkan suaminya yang masih berteleponan dengannya itu.


"Tenang, Sayang, ini juga sudah pelan."


"Ya sudah, Bening matikan teleponnya ya, biar Mas bisa fokua menyetirnya."


"Ya, Sayang. Mas akan segera sampai."


Bening mematikan sambungan telepon itu kemudian meletakkan ponselnya lagi. Sekarang dia sedang membantu ibunya mengepak barang ke dalam koper. Mentari sedang tenang dalam gendongan Dewi.


"Tak terasa akhirnya kau harus kembali lagi ke Jakarta, Nak. Ibu pasti kangen berat lagi."


Bening tersenyum lantas mengelus lembut lengan perempuan yang sudah melahirkannya itu.


"Nanti kalau ada kesempatan dan mas Gara sedang tak terlalu sibuk, Bening pasti ke sini lagi, Bu."


"Alhamdulillah kau mendapatkan suami yang baik, Nak. Ibu dan bapak sangat bahagia melihat kebahagiaanmu. Kami merasa nak Gara itu benar-benar lelaki yang bertanggungjawab lagi sayang dengan keluarganya."


"Ya, Bu, itulah mas Gara, dia lelaki baik. Bening bersyukur ada jodoh dengannya."


"Bukan cuma nak Gara saja yang begitu baik, tapi juga kedua mertuamu. Biarpun mereka dari keluarga kaya raya, tetapi mereka berbudi luhur. Baik dan ramah kepada semua orang. Pesan Ibu dan bapakmu, jangan pernah kau mengecewakan mereka ya, Bening."


"Bening mengerti, Bu. Sungguh akan tak tahu diri jika Bening melakukan hal-hal yang bisa membuat mereka kecewa kelak. Bening akan berusaha untuk menjadi istri dan menantu yang baik bagi mereka, tentu itu tak lepas dari doa Ibu dan bapak juga, karena apalah arti perjalanan hidup Bening, jika tak mendapat doa dari kedua orangtua. Tak ada guna Bening, Bu."


Ibu menarik Bening ke dalam pelukannya. Bening itu anak berbakti, sudah sedari kecil tulus ikhlas hatinya membantu kedua orangtua. Sekarang, hingga dewasa pun hatinya tetap begitu jernih dan patuh kepada kedua orangtuanya. Apalagi sekarang melalui Bening, Gusti Allah mengangkat derajat mereka seperti sekarang.


Setelah selesai mengepak pakaian dan barang-barang Bening juga Mentari, Bening bersantai di balkon bersama adiknya. Ibu mengambil alih gendongan, membiarkan dua kakak beradik itu berkisah sebelum Bening kembali pulang ke Jakarta.


Beberapa jam kemudian, Gara sampai di depan rumah Bening. Kedatangannya selalu saja menarik perhatian para orang desa. Bertepatan dengan kedatangan Gara, bapak kembali dengan mobil pick upnya.


"Pak, baru saja padahal aku ingin menemui Bapak di perkebunan." Gara menyalami mertuanya itu dengan takzim lalu memeluknya sesaat.


Gara mengangguk. Menyapu seluruh ruangan setelah ia masuk, Gara mendengar seruan Bening yang muncul dari arah belakang. Gara merentangkan tangannya, tak malu kepada mertuanya yang hanya melihat itu dengan senyuman bahagia pula.


"Ya ampun, aku rindu sekali dengan anak Bapak ini," kelakar Gara kepada ayah mertuanya yang segera disambut ibu dan Bening juga Dewi dengan tawa mereka.


"Tak rindu ini, Nak Gara?" tanya ibu sembari tersenyum sambil mengarahkan pandangan ke Mentari.


Gara mendekat, meraih puterinya yang tampak membuka mata, menatap ayahnya dengan lucu. Gara menciumi puterinya itu dengan lembut dan penuh kerinduan.


"Kita akan segera pulang, Sayang," katanya kepada puteri tercinta.


"Biar Mentari dengan mbok Sum dulu. Ibu dan Bening sudah menyiapkan makanan untuk Nak Gara."


"Buat Nak Gara saja toh Bu?" tanya bapak dengan lucu.


"Yo buat semuanya, Pak!"


Mereka tertawa lalu bersama-sama menuju meja makan. Memang saat ini Gara sudah lapar. Ia juga makan dengan lahap. Semangat hidupnya kembali setiap kali ia dan Bening berdekatan.


Mungkin ia akan beristirahat barang dua jam lalu mereka akan kembali pulang ke Jakarta. Setelah makan dan mandi, Gara mengajak Bening untuk beristirahat sebentar menemaninya. Beruntung Mentari tak rewel, anak itu begitu tenang di gendongan nenek dan kakeknya sekarang.


"Kangen sumpah," bisik Gara kepada Bening yang balas memeluk Gara di atas tempat tidurnya.


"Sekarang sudah bersama lagi, Mas," balas Bening.


"Ya, Mas tidak kuat kalau harus berjauhan seperti ini lagi, Sayang. Bisa pusing tujuh keliling."


"Tidak akan lagi, Mas."


Gara mengangguk, lalu kembali memeluk Bening erat, mengajaknya istirahat sebelum nanti akan kembali melanjutkan perjalanan pulang ke Jakarta.