Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Kembang Perawan


Bening menatap ke hamparan luas sawah-sawah yang mulai terlihat ketika mobil mulai memasuki kawasan pelosok Banjar. Para petani yang kini mulai kembali disibukkan dengan bertani setelah hampir dua minggu hujan merendam sawah mereka, menatap terkagum-kagum pada dua mobil mewah yang masuk ke desa terpencil itu.


Bening sendiri sedari tadi hanya diam di samping nyonya besar. Bening sengaja tak naik di mobil yang sama dengan Gara. Gara di depan bersama tuan Wibowo sementara Bening bersama nyonya besar di mobil yang lain yang dikendarai supir. Gara juga tak henti melirik kaca, melihat mobil di belakang yang membawa Bening.


"Aku gugup sekali, Pa. Bahkan lebih gugup dari saat aku melamar Sela dulu."


Tuan Wibowo tertawa kecil sembari membuka kaca mobil. Ia membalas lambaian para petani dengan mengangkat tangannya sendiri. Suasana desa yang begitu asri, membuat Gara dan tuan Wibowo merasa rileks.


"Gara, jangan begitu. Bagaimanapun, Revi pernah kau minta dengan begitu mesranya dahulu." Tuan Wibowo mengingatkan Gara, meski ia kurang menyukai Revi, tapi ia tahu betul, bagaimana dulu Gara mati-matian ingin meminang perempuan itu.


"Ya, aku tentu tidak akan melupakan itu, Pa. Tapi sungguh, aku jauh lebih gugup sekarang." Gara membuat pengakuan lagi.


Di dalam mobil lain, bersama nyonya besar, Bening hanya menatap para petani dari dalam. Ia tidak berani membuka kaca jendela meski nyonya besar tidak melarangnya.


"Kau gugup, Bening?" tanya nyonya besar.


Bening menoleh, tersenyum, lalu mengangguk.


"Sangat, Nyonya."


"Kau sungguh siap menjadi istri puteraku, memberikannya keturunan di usiamu yang masih sangat muda ini?" tanya nyonya besar lagi, seolah sedang mencari keyakinan Bening. Ia tidak mau gadis itu terpaksa melakukannya.


"Saya sudah memutuskan yang terbaik, Nyonya." Bening menjawab dengan tenang.


Nyonya besar itu mengangguk. Kemarin, Bening sudah mengabarkan lagi kepada orangtuanya bahwa hari ini mereka akan tiba. Rupanya, tetangga yang rumahnya lebih luas, dengan senang hati menyiapkan ruang untuk menyambut calon besan. Tidak mungkin mereka akan menyambut mereka di dalam kontrakan sempit itu.


Dan ketika mereka sampai, betapa terkejutnya orang desa, manakala dua mobil mewah berhenti. Lalu turunlah dua lelaki gagah disusul nyonya besar, supir juga Bening. Para tetangga memekik tertahan, melihat Bening semakin cantik parasnya selama di Jakarta.


Bening menunduk, mengangguk hormat kepada para tetangga yang menyambutnya suka cita. Tidak ada yang tidak suka dengan Bening di desa itu. Sosok kembang perawan yang tak banyak ulah, suka membantu tetangga dan sangat berbakti kepada kedua orangtuanya.


"Bapak, Ibu."


Luapan rindu itu mengalir di sela mata Bening kala ia merengkuh ringkih tubuh kedua orangtuanya. Lalu ia pun tak lupa merah Dewi, sang adik yang nampak pucat tetapi tetap berusaha tersenyum kepada semua yang datang.


"Tuan, Nyonya." Selayaknya orang kampung yang penuh tata krama, ibu dan bapak nampak rendah diri, menyalami orang kaya yang akan segera jadi besan mereka. Pakaian sederhana kedua orangtua Bening membuat hati nyonya tersentuh. Ia segera merangkul ibu Bening, begitu pula tuan Wibowo yang memeluk bapak dengan penuh senyum wibawa.


Kini, tatapan orang desa tertuju pada Gara. Tidak ada lelaki setampan itu di desa mereka. Tubuh atletis dambaan wanita yang terbentuk dengan rajinnya dia berolahraga, juga tatapan setajam elang yang mampu membius siapa saja. Hampir tak bisa dipercaya jika calon suami Bening begitu sempurna.


"Kita bisa mulai acaranya?" tanya tuan Wibowo kepada semua orang yang hadir dan menyaksikan acara lamaran itu.


"Silahkan, Tuan besar." Bapak menyahut dengan tenang. Baju batik dengan kopiah hitam membuat ia jadi lebih bersahaja. Beberapa kali pandangan bapak dan Bening bertemu, senyum tersungging di bibir tua itu, membuat Bening diliputi haru.


Bapak dan Ibuku harus bahagia. Itulah sumpah Bening sejak dia kecil dan ia akan segera mewujudkannya melalui pernikahan ini.


"Putera kami, Anggara Dewa, sudah mantap meminta kesediaan Bapak Sukir dan Ibu Sukma untuk merelakan Bening Anjani sebagai menantu kami. Kami telah membawa satu set perhiasan sebagai mahar, juga beberapa dokumen yang telah ditandatangani Bening juga putera kami terkait beberapa harta benda yang telah tertulis yang dihadiahkan untuk Bening sekeluarga. Kami juga akan menjamin, kehidupan yang layak bagi Bening setelah ia sah menjadi menantu kami."


Acara itu selanjutnya berlangsung lancar dengan telah ditetapkannya hari pernikahan dan ijab kabul Bening juga Gara. Tiga hari dari sekarang, mereka akan mempersiapkan acara itu. Atas permintaan Bening, acara itu akan dilaksanakan dengan sederhana. Tak lupa kegiatan menyantuni anak yatim piatu juga para janda di sana.


Kini, Bening dan Gara sedang duduk di saung dekat sawah. Mereka bersisian. Semilir angin membelai wajah mereka. Selama di desa, Gara dan keluarga akan menginap di rumah kepala desa yang tak lain adalah rumah keluarga Dani.


"Nyonya muda tidak datang, Tuan?" tanya Bening lirih.


"Tidak, Bening. Biarkan saja."


"Tuan yakin akan menikahi saya?" tanya Bening lagi, kali ini mereka saling menoleh. Bening ingin meyakinkan dirinya sendiri, Gara tidak akan menyesal dengan keputusannya.


"Aku sangat yakin, Bening. Bening, aku tidak akan menunda kehamilanmu," kata Gara sambil menyandarkan tubuhnya di saung itu.


"Aku paham, Tuan Gara. Tentu, aku sudah menyiapkan rahim ini untukmu."


Gara mengangguk lalu tersenyum.


"Bening, jangan lagi panggil aku Tuan."


"Aku harus memanggil Tuan dengan sebutan apa?" tanya Bening heran.


"Senyamanmu, asal jangan Tuan."


Bening nampak berpikir sejenak sebelum akhirnya dia menoleh lagi.


"Baiklah, Mas Gara."


Gara tergelitik, ingin sekali dikecupnya bibir ranum dan merah itu. Namun, ia mesti bersabar, menunggu sampai akad telah terucap dan Bening sah menjadi istrinya.


"Bening ...."


"Ya, Mas Gara ..."


"Jawab jujur ya, kalaupun memang tidak, aku tidak akan kecewa."


Bening menunggu.


"Apa kau masih suci? Maksudku apa kau masih menjaganya?"


Bening tidak terkejut dengan pertanyaan itu. Memang selama mereka telah membicarakan tentang pernikahan, Gara belum pernah sekalipun menanyakan hal yang sensitif itu.


"Mas Gara lah yang akan mendapatkannya."


Senyum di wajah Gara terukir. Ia memang tidak salah memilih istri lagi. Kembang perawan itu akan segera menghangatkan ranjang dinginnya selama ini.