
Bening menata makan malam yang akan dihidangkannya untuk Gara sekeluarga. Asih tampak masih menyimpan rasa iri kepada Bening, tapi sekarang tidak berani lagi mengganggunya. Bahkan ketika Bening sedang sendiri di dalam dapur, Asih yang juga kebetulan ingin minum hanya diam saja. Bagaimana pun, sekarang Bening juga merupakan istri tuan muda.
Beberapa pelayan membantu Bening membawa lauk yang sudah dimasaknya hari ini ke meja makan. Ketika sedang menata masakan terakhir, ia mendengar suara berdeham. Bening menoleh, ia melihat Revi sedang bersandar pada dinding dekat pintu dapur. Bening pun tak tahu entah kapan perempuan itu datang.
"Gara mana?" tanyanya ketus.
Bening mendekat, meletakkan piring lauk terlebih dahulu.
"Ada, Nyonya muda. Sedang mandi di kamar."
Revi melengos lalu meninggalkan dapur menuju ke kamar. Revi mungkin belum tahu kalau Bening sudah satu kamar dengan Gara di rumah itu, dia tak lagi tidur di kamar pembantu seperti dulu.
Bening mengatupkan bibirnya, meski merasa sedikit cemburu saat Revi menuju kamarnya dan Gara, tapi Bening tidak mau membiarkan dia terlena dengan perasan itu. Bagaimana pun, Revi adalah istri pertama Gara.
"Ada Revi, Ning?" tanya nyonya besar membuat Bening sedikit terlonjak dari lamunan.
"Iya, Ma. Tapi sudah naik ke kamar Mas Gara."
"Pasti mau bertengkar lagi. Mama pusing, Bening. Dua manusia itu kalau berada di rumah ini pasti kerjaannya hanya ribut! Revi egois, Gara emosian," keluh nyonya besar sembari membetulkan lengan dress rumahannya yang terlipat.
"Semoga tidak lagi ya, Ma." Bening hanya menanggapinya seperti itu.
"Entahlah, Bening. Sudah berkali-kali diingatkan, Revi itu bebal. Ngakunya mencintai putera ku, tapi kasih cucu pun tak mau. Papa apalagi, sudah malas mengurusi Revi. Untung sekarang ada kau."
Bening dan nyonya besar kemudian pergi ke meja makan. Semenjak Bening tinggal lagi di rumah itu, tuan dan nyonya besar hanya ingin makan masakan Bening. Istri kedua putera mereka itu sangat pintar meracik bumbu hingga masakannya selalu terasa sedap.
Revi turun bersama Gara dengan menggamit erat lengan lelaki yang tampak jengah itu, tapi tetap membiarkan Revi bertindak semaunya. Bening melihatnya sekilas, pandangannya dan Gara jadi bertemu. Bening tersenyum kecil, Gara sendiri merasa risih dengan Revi yang akhir-akhir ini semakin menempel padanya. Membayangi setiap pergerakan Gara bahkan sampai ke rumah kedua orangtuanya.
"Sudah masak?" Tuan besar turun dari tangga menuju meja makan dengan sangat semangat.
"Sudah, Pa, sesuai pesanan Papa, sop ayam kampung." Bening menunjukkan masakannya dan disambut antusias oleh ayah mertuanya itu.
"Pasti sangat enak, Papa sudah tak sabar."
Semua orang sudah berkumpul untuk makan malam tapi Bening segera melangkah setelah itu selesai menata lauk pauk yang menggugah selera itu.
"Bening, mau kemana?" tanya Gara kepada Bening yang sedang menuju ke belakang.
"Bening makan di belakang saja bersama para pelayan yang lain, Mas." Bening menjawab sambil tersenyum kecil. Revi menatapnya sinis.
"Makan di sini, Bening. Kau kan istriku. Ayo." Gara menatap Bening lembut begitu pula nyonya besar yang memintanya untuk makan bersama.
Gara menatap Revi tajam lalu kembali mengalihkan pandangannya ke depan Bening.
"Ayo, Sayang. Makanlah bersama di sini, lagipula, kata Mama ada yang ingin dibicarakan sekalian dengan rencana kuliahmu."
Revi mendelik mendengar Gara yang begitu lembut memperlakukan Bening. Hatinya terbakar cemburu buta. Ingin rasanya ia menumpahkan kuah sayur panas itu ke kepala Bening kalau tak ada orang yang melihat mereka saat ini.
"Baik, Mas."
Mas? Revi hampir tersedak makannya sendiri mendengar panggilan dari Bening untuk Gara. Ia kembali melihat Bening dengan tatapan membunuh.
"Jadi Mama sudah bicarakan sama Gara tentang rencana kuliahmu, Bening." Nyonya besar membuka percakapan.
"Ya, aku sudah mendengarnya, Sayang. Sekarang, Mas tanya, apa Bening betulan mau kuliah?" tanya Gara lagi.
Bening ragu tapi dia tak urung mengangguk juga pada akhirnya.
"Bening betulan ingin melanjutkan kuliah, Mas."
"Tak tahu diuntung! Aji mumpung!" dengus Revi yang segera mendapat tatapan tajam lagi dari Gara.
"Kau pulang saja, Sela, kalau hanya untuk menyela setiap kata-kataku saat ini!" ancam Gara yang membuat Revi akhirnya jadi bungkam.
Nyonya dan tuan besar hanya saling berpandangan, mereka tidak mau terlalu mencampuri urusan rumah tangga puteranya kendati mereka juga jengah dengan Revi saat ini.
"Iya, Mas, Bening mau kuliah." Bening akhirnya memberanikan diri untuk mengungkapkan kejujuran dari dasar hatinya itu.
"Baiklah, besok ikut Mas ke kampus ya, kita urus semua berkas-berkasnya. Kebetulan ini adalah bulan penerimaan mahasiswi baru."
Bening mengangkat wajahnya, ia tersenyum bahagia. Suaminya setuju dia melanjutkan kuliah. Sementara itu, Revi melihatnya dengan pandangan benci yang amat kentara tapi tetap menahannya untuk tak bersuara.
"Aku mau tidur di sini malam ini." Revi mengalihkan perhatian semua orang.
"Gak bisa. Kau pulang saja, rumahmu di sana!" balas Gara.
"Gak mau, Gara. Aku pengen di sini sama kamu!"
"Itu kamar aku sama Bening. Bening tidur di sana selama ini."
Revi menatap keduanya tanpa mengeluarkan suara lagi. Namun, sepanjang acara makan malam, Bening tak nyaman karena Revi selalu melihatnya.Tatapan Revi menyiratkan benci juga ancaman untuk Bening.