Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Wisuda


Kepada seluruh calon wisudawan wisudawati diharapkan untuk segera berkumpul di area ballroom ....


Suara dari pembawa acara yang begitu teratur dan enak didengar itu terdengar ke seluruh penjuru. Berbondong-bondong pada calon wisudawan wisudawati memasuki area ballroom. Mereka sudah didandani begitu apik dan bersahaja.


Penampilan para perempuan terlihat elegan dengan kebaya modern juga rambut yang dibentuk sedemikian rupa. Di antara mereka saat ini, duduk dengan tenang Bening Anjani. Perempuan cantik yang kini tengah mengandung buah hatinya yang ketiga nampa begitu cantik dengan kebaya kuning gading yang pas dan kontras di tubuh indahnya. Hanya sedikit perutnya terlihat menonjol, tapi malah menambah sisi kecantikan alami yang dia miliki.


Hiasan natural dengan lipstik merah muda, rambut digelung dengan hiasan yang semakin membuatnya tampak istimewa. Ia sedang tersenyum, menatap Gara yang juga tengah menatapnya dari kejauhan. Di samping Gara duduk dengan tenang mama dan papa mertua, ada kedua orangtua Bening pula tidak lupa Dewi di sebelah mereka.


Gara merinding seketika, mengingat kali pertama bertemu Bening dalam pakaian seragam khas pembantu di rumah ibunya. Bening belia yang baru beranjak dewasa, yang pertama kali menyentuh hatinya sejak pertama berjumpa. Sejenak, Gara jadi terbawa euforia dalam hatinya sendiri kala terkenang kisah manis awal mula jatuh cinta kepada gadis desa itu.


Sekarang si cantik jelita yang seringkali bertutur lembut kata-katanya itu sudah akan menjadi alumni di sebuah universitas ternama di negeri ini. Bening Anjani. Seiring pembawa acara memanggil namanya, mata Gara fokus pada sang istri yang tengah menaiki panggung untuk menerima ijazah dan penyematan toga.


"Mama khawatir Bening keseleo, kenapa kampus harus memaksa para mahasiswi memakai high hill seperti itu?" tanya nyonya besar nampak kesal. Sebetulnya, Gara pun berpikiran sama, hanya saja Bening sepagi tadi sudah meyakinkannya bahwa dia tidak apa-apa.


"Enggaklah, Ma, sepatu Bening tidak terlalu tinggi dibanding teman-temannya yang lain. Lagipula, kalau pakai teplek malah tidak matching dengan kebayanya." Gara terkekeh disambut pelototan mamanya.


Sekarang sudah sesi acara selanjutnya. Ada beberapa pesan-pesan dari para dekan dan dosen-dosen. Gara dan Bening saling berpandangan dari kejauhan saat Bening sudah duduk kembali di kursinya.


Gara mengacungkan jempolnya, Bening tersenyum. Acara demi acara terlewati kini tinggallah sesi berfoto bersama. Gara membiarkan Bening bersama teman-teman seangkatannya, tak berapa lama kemudian, istrinya mendekat.


Gara segera merentangkan tangan, memeluk Bening begitu erat dan mengecup kening istrinya itu.


"Selamat ya, Sayang."


"Makasih, Mas." Bening menyahut sembari mengecup pipi suaminya.


Ibu dan mama mertua juga ikut bergantian memeluk dan memberi selamat kepada Bening. Saat berpelukan dengan ibunya, Bening hampir saja meneteskan air mata.


"Selamat ya, Nak. Cita-cita berkuliah lalu menjadi sarjana sudah terwujud. Musti panjatkan syukur dan terima kasih kepada Gusti Allah."


"Iya, Bu. Alhamdulillah, berkat doa ibu juga suami dan mertua. Aku sangat bersyukur bisa berada di tahap ini."


"Semoga menjadi keberkahan setiap harinya setiap apapun yang kau kerjakan, puteriku.


"


"Aku ke sana dulu, ya, Mas."


"Ya, Sayang. Nikmati hari-hari terakhir bersama teman-teman."


Bening mengangguk lalu bergabung bersama teman-temannya. Gara melihat dari kejauhan. Ia ikut tersenyum melihat rona bahagia di wajah Bening.


Setelah itu, Bening kembali lagi kepada keluarganya. Selama beberapa hari kedua orangtua Bening juga Dewi akan menginap di Jakarta. Dan mama mertua meminta mereka menginap di rumah megahnya saja.


Gara dan Bening juga menyambut baik hal itu. Mungkin dalam beberapa hari ke depan mereka akan banyak melakukan perjalanan untuk membawa kedua orangtua Bening berjalan-jalan.


"Rencananya mau piknik ke pantai yang agak jauh dari Jakarta, Gar. Mama dan papa ingin sekali mengajak besan untuk menikmati suasana pantai selama mereka di sini."


"Ide bagus, Ma. Aku punya tempat rekomendasi. Nanti kita ke sana ya."


"Ya, sekalian menginap saja, pasti seru kita satu keluarga pergi beramai-ramai. Apalagi Abi dan Mentari pasti suka bermain di pantai."


"Besok kita berangkat, Ma. Tapi malam ini, aku mau mengajak semuanya untuk makan malam bersama di restoran langganan ku merayakan Bening yang sudah wisuda."


"Good. Baiklah, lakukan apapun, Mama pasti mendukung."


Gara tersenyum lantas segera memberitahukan Bening tentang rencananya untuk dinner keluarga malam ini.


"Aku setuju saja, Mas. Terimakasih ya Mas selalu berusaha menyenangkan kedua orangtuaku setiap mereka ke Jakarta."


"Sama-sama, Sayang. Ya sudah sekarang kita pulang ya. Nanti malam baru keluar lagi.


Bening mengangguk. Mereka pulang dengan hati bahagia seiring gelar baru yang telah Bening dapatkan sekarang, seorang sarjana.