Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Menanti Hari Kelahiran


Karena sudah hatam bagaimana rasanya melahirkan, Bening sekarang menyambut masa-masa akan melahirkan dengan santai dan tenang. Ia tak lagi merasa ketakutan walau sakit melahirkan itu memang nyata adanya.


Hari ini, dengan perutnya yang membuncit, ia sedang berjalan-jalan mengelilingi kompleks ditemani pelayan. Gara sedang tak ada, suami Bening itu sedang di luar negeri untuk satu kepentingan, perginya juga bersama dengan papa mertua.


Tapi, setiap hari Bening selalu mendapatkan telepon dari Gara. Gara selalu memantau istrinya melalui sambungan telepon, ia khawatir meninggalkan Bening yang memang sudah hamil tua saat ini.


"Maaf jika harus meninggalkanmu di saat begini, Sayang."


"Tak apa loh, Mas, aku paham kok. Lagipula, ini adalah kehamilan ketiga, aku sudah belajar banyak di saat hamil pertama dan kedua." Bening menyahut menenangkan suaminya.


"Ya, tapi sering kepikiran, bagaimana kalau kau akan melahirkan saat Mas tak ada di sisimu?"


Nada suara Gara memang terdengar gusar, Bening tersenyum mendengarnya.


"Percayalah, Mas, aku dan anak kita di dalam sini baik-baik saja. Kalau pun memang harus melahirkan tanpa Mas, kan ada Mama di sini. Mas harus fokus dengan kerjaan dulu. Aku tahu itu sangat penting, sampai papa juga ikut."


"Ya, kau betul, Sayang. Semoga saja aku segera kembali sebelum kau melahirkan ya."


Bening selalu merasa bahagia setiap kali diperhatikan sebegitu detail oleh Gara, suaminya itu. Dari pertama mereka menikah hingga kini akan mendapat anak ketiga, Gara tetap saja sama, tetap memanjakannya.


Tapi rupanya tebakan Gara maupun Bening kali ini sama-sama meleset, karena di suatu pagi setelah perbincangan itu Bening mendapatkan kontraksi pertamanya. Bening diantar oleh supir dan juga pelayan yang membawa kedua anak Bening menuju rumah sakit. Nyonya besar sudah dikabari dan segera menyusul ke rumah sakit itu.


"Tahan ya, Bening," kata nyonya yang besar saat ia sudah datang dan langsung menggenggam jemari menantunya itu.


"Iya, Ma, aku nggak apa-apa kok," kata Bening sembari meringis menahan rasa sakit di perutnya. Kendati sudah akan melahirkan untuk ketiga kali tetap saja rasa sakit itu masih sama tetapi Bening tetap berusaha untuk melahirkan anaknya dengan baik.


"Kaua pasti bisa walaupun tak ada Gara, kan ada Mama di sini ya. Sebentar lagi Mama akan menghubungi kedua orang tuamu agar mereka tahu bahwa kau sudah melahirkan hari ini."


Bening mengangguk kemudian mengikuti instruksi dokter untuk mulai mengejan dengan baik. Bening juga sudah mulai mempelajari cara mengejan yang baik hingga tidak terjadi lagi episiotomi. Dia juga sering mengikuti kelas yoga hamil selama kehamilan ketiganya ini, artinya dia memang benar-benar siap untuk melahirkan.


"Jangan lupa atur nafasnya ya, Bu, kalau capek kita istirahat. "


Bening mengangguk, ia mulai bisa mengatur nafasnya dengan baik, mulai mengatur kapan akan mengejan dan akan beristirahat. Hal itu memudahkannya melahirkan kali ini,, anaknya yang ketiga ini juga sepertinya ingin segera cepat keluar.


Setelah berjuang hampir dua puluh menit di ranjang persalinan, lengkingan anak ketiga Bening lahir dengan selamat. Nyonya besar segera memeluk Bening yang balas memeluk ibu mertuanya itu. Anak ketiga Bening laki-laki lagi.


"Kau sedang tidak sibuk, Gara?" tanya mama mertua kepada Gara ketika Bening sedang dipindahkan oleh para perawat dan juga asisten dokter ke ranjang yang lebih bersih.


"Selamat ya, Gara, anak ketigamu sudah lahir. Bening baru saja melahirkan anak ketiga kalian."


"Bening sudah melahirkan?" tanya Gara dengan berbinar-binar. Nyonya besar bisa merasakan kebahagiaan yang meliputi putranya itu. "Mana, Bening, Ma? Aku ingin bicara," lanjut Gara lagi. Hal itu segera dituruti oleh nyonya besar yang segera memberikan ponsel itu kepada Bening yang baru saja dipindahkan.


"Mas Gara," sapa Bening dengan suara yang sumringah pula walaupun dia baru saja selesai bertaruh nyawa di ranjang persalinan itu.


"Sayang, kau sudah melahirkan? Mas bahagia dan sangat terkejut mendengarnya, juga maaf karena tidak bisa mendampingimu saat melahirkan hari ini ya," ungkap Gara dengan nada menyesal. Bening segera menenangkan suaminya itu tentu saja dia tidak marah kepada Gara.


"Mas, aku tidak apa-apa. Anak kita sudah lahir dengan selamat, Alhamdulillah dan dia laki-laki lagi, seorang jagoan untukmu."


"Aku sangat bahagia, Sayang, tak lama lagi kami akan segera kembali ke Indonesia. Kau beristirahatlah dengan baik ya Sayangku. Mama akan menemanimu selama aku berada di luar negeri. Sekarang berikan lagi ponselnya kepada Mama, Mas ingin melihat putra kita." Gara berkata dengan semangat sementara Bening segera menurutinya. Ponsel itu kemudian beralih lagi kepada ibu mertuanya yang segera mengubahnya menjadi panggilan video.


Terlihat di video itu Gara dan juga ayah mertua Bening nampak semangat melihat putra ketiga Gara. Ia mirip dengan Gara juga tampan sekali.


Gara tak sabar ingin segera kembali ke Indonesia untuk berkumpul bersama anak-anak juga keluarganya. Ia memang seorang pebisnis handal yang mempunyai jam terbang tinggi tetapi di manapun keberadaannya ia selalu merindukan Bening dan juga anak-anak. Keluarga memang nomor satu bagi Gara.


"Kau fokuslah dulu bersama Papa di sana, Gara. Mama akan membantu mengurus Bening. Kau tidak perlu khawatir, percayakan semuanya kepada Mama, oke."


"Aku selalu bisa mengandalkan Mama. Aku hanya sangat bahagia saat ini, Ma, tidak menyangka akan mendapatkan anak ketiga dari Bening."


"Itu memang harapan kita sedari dulu, akan banyak suara anak-anak apalagi Mama dan papa sudah tua, Gara, kami pasti akan sangat senang dengan kehadiran banyak cucu. Terima kasih ya karena kau dan Bening sudah mewujudkannya untuk kami," ungkap nyonya besar dengan tulus.


Bening tersenyum mendengar percakapan ibu mertua dan suaminya itu, dia juga bahagia saat ini. Mentari juga Abi sedang mendekatinya, mereka menciumi pipi Bening satu persatu sebagai ungkapan rasa terima kasih karena sudah melahirkan adik mereka dengan baik.


Bening juga sangat bahagia, usianya masih relatif muda tetapi dia sudah dipercaya untuk memiliki tiga anak yang lucu-lucu yang menjadi pelipur lara ketika hati kedua orang tuanya lelah. Bening menatap putranya yang saat ini sedang dibersihkan oleh perawat yang sedang bertugas di dalam ruang persalinan itu.


"Nah, Bening, sudah bisa disusui," kata nyonya besar lalu menyerahkan putra ketiga Bening itu kepada Benjng untuk disusui segera.


"Maaf , Ibu Bening, apa sudah mempersiapkan nama untuk bayinya?" tanya seorang asisten dokter kandungan kepada bening yang segera mengangguk. Ia dan Gara memang sudah mempersiapkan nama bagi anak mereka.


"Namanya Galih Syailendra Ninggara."


Ya, ketiga anak Bening dan Gara memang menyandang nama belakang mereka berdua. Kebahagiaan mereka sudah lengkap dengan adanya Abi Syailendra Ninggara, Mentari Ninggara dan juga Galih Syailendra Ninggara. Kedua orang tua Bening juga baru saja dikabari oleh nyonya besar dan mereka juga sangat bahagia mendengar berita kelahiran anak ketiga Bening juga Gara sekarang ini Mereka akan mempersiapkan untuk segera bertolak ke Jakarta. Kebahagiaan itu memang sudah lengkap, Entahlah Gara ingin menambah anak lagi atau tidak, tapi sepertinya tidak lagi karena tiga anak rasanya sudah lebih dari cukup. Semoga saja mereka tidak kebobolan lagi.