
"Sudah, Sayang. Mas tahu, kau tidak seperti itu. Itu fitnah yang sangat keji. Aku memang menyayangi kau, Bening, bukan karena ilmu pelet atau ilmu sihir. Sela benar-benar sudah keterlaluan! Tunggulah disini, Bening. Biar aku memberi pelajaran kepadanya."
Bening tak sempat mencegah Gara untuk memberi perhitungan kepada Revi yang sekarang sedang berdiam diri di belakang. Nyonya besar tampak sedang menceramahinya. Namun, Revi hanya diam saja.
"Ma, biarkan aku yang mengurusnya!" Gara berkata dengan tatapan tajam terarah kepada Revi yang nyalinya langsung menciut.
"Jangan lagi memakai kekerasan, Gara. Biar bagaimanapun, dia seorang perempuan, dia juga adalah istrimu."
Gara tak menyahut, hanya diam. Walau rasanya Gara ingin sekali menampar wajah dan mulut Revi sekali lagi untuk menuntaskan rasa jengah dan marahnya kepada perempuan itu.
"Kamu tega menampar aku tadi? Sekarang, kamu mau menamparku lagi?" tanya Revi sambil berdiri di depan Gara, berusaha mencari lagi keberanian dalam dirinya.
"Oh, kau menantangku rupanya! Aku tidak mungkin akan berlaku kasar kepadamu, kalau kau juga tidak berlaku menggelikan seperti tadi!"
"Demi gadis kampung itu kamu tega menyakitiku, Gara! Aku ini istri kamu, sebelum dia, aku yang lebih dulu menjadi istri kamu!"
"Ya, tapi kau sendiri yang membuat aku muak dengan sifatmu, Sela. Hanya karena termakan omongan pembantu itu kau tega memasukkan pasir ke mulur Bening! Kau juga tega meraup wajahnya dengan pasir kotor itu!"
"Dia memang kotor, Gara! Perempuan apa namanya yang tega merebut suami orang lain dan menggodanya hingga lelaki itu akhirnya menikahi dia! Apa namanya kalau bukan kotor?!" teriak Revi berang. "Kalau dia memang tidak memakai pelet, berarti dia menggunakan kemal*annya untuk menjeratmu!"
"Jaga mulutmu! Kau harus tahu satu hal, Bening menikah denganku, dalam keadaan suci, akulah yang merenggut keperawanannya! Dia tidak pernah menggodaku! Bahkan ketika aku melihatnya di rumah ini untuk pertama kali, aku lah yang lebih dulu jatuh hati kepadanya!"
Pertengkaran itu akhirnya kembali pecah. Revi mengepalkan tangannya, merasa bahwa Gara tak lagi memperhitungkan keberadaannya sebagai istri.
"Jatuh hati katamu?"
"Ya, aku jatuh hati kepadanya, aku menikahi Bening bukan semata-mata karena aku menginginkan anak, aku menginginkannya juga! Dia, yang punya semua hal yang tidak kau punya, Sela!"
"Ohooo kau membandingkan aku dengan dia yang kampungan itu, hah?! Apa yang aku tidak punya dibandingkan dia?!" tantang Revi dengan mata sudah memerah.
"Waktu! Dan sekarang kau menambahnya dengan satu hal: Kau tidak bisa mengandung lagi karena produk-produk kecantikan yang kau gunakan selama ini."
Gara membungkam Revi dengan kalimat-kalimat itu. Tanpa terasa, airmata Revi mengalir. Benar, semua karena kesalahannya. Semua karena ulahnya sendiri. Namun, Revi tak mau kehilangan Gara. Dia tidak rela kehilangan lelaki yang begitu dicintainya.
"Lalu apa lagi yang membuatku harus bertahan denganmu, Sela? Tidak ada bukan? Lebih baik kita ... "
"Enggak! Hentikan, Gara! Sampai kapanpun aku gak akan mau berpisah dari kamu!"
Gara duduk di depan Revi, pandangannya begitu lelah, mengisyaratkan bahwa dia sudah betulan tak ada lagi rasa dengan perempuan yang sudah lima tahun menjadi istrinya itu. Dulu cinta membelenggu Gara begitu kuat kepada Revi, tapi setelah menjalani biduk rumah tangga berdua kurang lebih lima tahun ini, yang Gara rasa hanyalah sebuah kehampaan. Lalu Bening datang, bagai angin segar dan membawa cinta kembali untuknya.
"Sampai Kapanpun aku gak akan mau berpisah dari kamu, Gara. Kamu ingat kan janji kamu sama ibuku dulu. Jangan lupa itu, sebelum mamaku meninggal, kamu berjanji akan selalu menjagaku. Kamu gak boleh lupa itu."
Lalu Revi berlari, diraihnya tas lalu ia segera pergi keluar. Gara sendiri terdiam. Betul, lima tahun yang lalu Gara meminta Revi kepada mamanya, satu-satunya orang yang menyayangi Revi saat itu. Dia berjanji kepada mertuanya yang telah tiada itu, dia tidak akan meninggalkan Revi apapun yang terjadi.
Gara hampir lupa tentang janji itu kalau saja tidak Revi ingatkan tadi. Namun, bagaimana bisa dia mempertahankan perempuan yang bahkan tak pernah menghargainya sebagai seorang suami?
Gara menggeleng, dia tidak boleh termakan kata-kata Revi yang menahannya dengan janji di masa lalu. Dia tetap akan menceraikan Revi. Keputusannya sudah bulat.
"Mas Gara ..."
Gara menoleh, menemukan Bening sudah berganti pakaian dan sudah segar kembali.
"Jangan pecat mbak Asih. Dia sudah minta maaf kepada Bening."
Gara menggeleng, itu juga sudah menjadi keputusannya. Dia muak melihat Asih yang selalu mencari masalah dengan Bening.
"Tidak bisa, Bening. Mas tetap akan mendepaknya dari rumah ini."
Nyonya besar hanya menggeleng melihat kelakukan pelayannya itu. "Itu terserah puteraku, Sih. Kau juga sudah keterlaluan, sudah aku bilang jangan bikin ulah lagi."
"Saya menyesal, Nyonya, Tuan muda. Bening, maafkan aku." Tergugu Asih menangis. Tak menyangka tuan muda yang selama ini acuh tak acuh kepada siapapun itu sekarang betulan ingin memecatnya.
"Mas Gara, Bening sudah memaafkan Mbak Asih. Tolong Mas Gara juga begitu. Kasihan."
Gara menatap Bening sendu, mengapa istri keduanya itu begitu pemaaf. Gara akhirnya melihat Asih yang sedang menangis.
"Satu kesempatan lagi."
Asih mengangkat wajahnya, senyum mulai terukir.
"Terima kasih, Tuan muda. Saya masih bisa kerja kan?"
"Ya, dengan satu syarat yang harus kau penuhi sekarang."
"Apapun akan saya lakukan, Tuan."
Gara diam sesaat dengan Asih yang masih menunggu. "Berlututlah di depan Bening, tunjukkan penyesalanmu!"
Asih tersentak kaget. Nyonya besar dan Bening tak kalah kagetnya. Bening menggeleng, dia tidak bisa seperti itu.
"Baik, Tuan muda, saya akan berlutut untuk Bening."
Baru saja hendak berlutut, Bening segera menahan Asih. Dia menggeleng pelan.
"Jangan seperti ini, Mas Gara. Jika Mbak Asih melakukan itu, Bening akan dihantui rasa bersalah seumur hidup Bening. Sebab kalau ingin berlutut, maka Mbak Asih bisa melakukannya di depan Tuhan dan juga ibu yang sudah melahirkannya, bukan kepada Bening."
Asih hanya bisa menangis mendengar itu. Sekarang dia betulan yang mau pergi dari rumah itu, rasanya tak ada lagi muka melihat Bening yang sudah menyelamatkan harga dirinya.
"Kau selamat." Gara mendesis lalu membawa Bening ke dalam dan menjauh dari Asih.
"Kembali bekerja, Sih. Ingat, jangan diulangi lagi." Nyonya besar hanya bisa menggeleng menatap Asih yang masih tertunduk lesu.
Lalu beberapa jam kemudian, telepon rumah berbunyi. Bu Tuti dari belakang mengangkatnya dan seketika membeku kaget. Ia segera menutup telepon dan menuju ke ruang keluarga dimana tuan dan nyonya besar sedang bersantai.
"Duh, Gusti ... Nyonya, Nyonya!"
Nyonya besar jadi kaget, dia menoleh.
"Apa sih, Ti? Jangan ngagetin begitu!"
"Mati, Nya! Mati, Ada yang mau mati!"
"Tuti, bicara yang jelas, kalau tidak saya potong gaji kamu!" ancam tuan besar yang sudah gregetan.
"Itu, Tuan besar. Non Revi!"
"Kenapa Revi?!"
"Bunuh diri, Nya! Menenggak racun serangga! Sekarang kritis di rumah sakit."
"Ya Tuhan!" Nyonya besar dan tuan Wibowo segera beranjak, tak lupa mereka juga menelepon Gara yang sedang di luar bersama Bening.