Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Mari Berlibur


Semakin hari Abi semakin pintar, bocah yang sudah berusia satu tahun lebih itu lebih banyak berada di rumah sang nenek daripada di rumah Gara. Gara sendiri maklum karena kedua orangtuanya memang sudah lama menginginkan kehadiran seorang cucu. Namun, Bening juga sebisanya untuk tetap berada di sisi sang putera setiap hari. Jadi kalau seandainya Abi menginap di rumah mertuanya, maka Bening akan berada di san hingga Abi tertidur barulah nanti dia pulang ke rumah bersama Gara.


Gara juga semakin hari semakin terlihat berbahagia. Setiap hari Bening akan dihujani dengan cinta yang begitu banyak dari lelaki itu. Sore hari ini ketika keduanya sedang berenang di kolam renang mereka, Gara merapat ke istrinya yang bersandar di tepi kolam. Beberapa kecupan di bibir Bening sudah Gara berikan, sembari bercanda mereka menghabiskan sisa sore itu di kolam renang.


"Mas Gara punya kejutan untukmu, Sayang."


"Setiap hari bertemu dengan Mas Gara adalah kejutan."


"Kali ini kejutannya akan membuatmu suka."


Bening tampak mengerutkan dahi, berpikir kira-kira apa lagi kejutan dari sang suami untuknya. Gara selalu menghadiahkan Bening banyak barang mewah jadi sepertinya kejutan yang akan diberikan suaminya itu kali ini pun sama saja.


"Biar Bening tebak, apakah kalung?"


Gara menggeleng.


"Ah pasti gelang?"


Menggeleng lagi Gara dengan senyuman jahilnya.


"Apa, Mas Gara? Bening jadi penasaran."


"Sebentar, Mas Gara ambilkan."


Bening membiarkan suaminya itu naik lalu menghilang ke dalam rumah. Setelah beberapa saat menunggu, Gara kembali tapi tak ada barang di tangannya hanya selembar amplop.


"Apa itu, Mas Gara?" tanya Bening yang sudah benar-benar penasaran.


"Bukalah, Sayang. Semoga istriku suka."


Bening menerima amplop putih itu lalu sedikit menepi dan mengeringkan tangannya dengan handuk kemudian ia membukanya perlahan. Mata Bening kemudian terbuka sempura melihat isi amplop itu, dua buah tiket perjalanan ke luar negeri.


"Bolivia?" tanya Bening sumringah.


Gara segera mengangguk cepat dengan senyuman mereka di wajahnya.


"Aah ... Terimakasih, Mas Gara." Bening memeluk Gara erat sekali.


Bening memang sudah lama ingin ke Bolivia karena setelah ia menonton sebuah film hongkong yang tokoh utamanya pergi ke Bolivia dan melihat cermin dunia.


"Ini betulan ya, Mas Gara?" tanya Bening masih tak percaya dengan kejutan dari suaminya.


"Ya betul, Sayangku." Gara mencubit gemas hidung mancung Bening.


Bening terlonjak kegirangan membuat Gara juga senang melihatnya. Ia membiarkan Bening merasakan kebahagiaan itu di sisa senja. Dilihatnya Bening yang terbungkus cahaya senja yang sinarnya memantul di dalam kolam renang.


Gara sudah benar-benar mencintai Bening seutuhnya. Tak ada perempuan yang mampu membuatnya merasakan hal semanis ini selain Bening.


Gara kemudian masuk lagi ke air kolam, ia kembali merengkuh Bening, merasakan indahnya berada di dekat istrinya itu. Pernikahan mereka diselimuti kebahagiaan setiap harinya. Bening istri yang pandai menjaga diri dan kehormatannya. Gara bukannya tak tahu, di kampus banyak sekali pemuda yang mencoba mendekati Bening, tetapi Bening tidak pernah menggubris mereka. Bening lebih tertarik untuk segera pulang ke rumah jika perkuliahannya telah selesai.


Meski di rumah ketika Gara belum pulang, ia hanya mendapati Bening berselimutkan mukena selepas solat ashar dan tertidur di mushola rumahnya. Atau ketika dia pulang, Bening sedang tertawa sendiri menonton tayangan komedi di televisi.


Dan yang paling sering Gara lihat adalah, dapur yang selalu penuh dengan masakan-masakan baru setiap harinya. Bening benar-benar wanita idaman Gara. Dia berbanding terbalik dengan Revi yang suka kelayapan dan suka meninggalkan Gara seorang diri. Jadi Gara memang sudah berjanji, akan mencintai dan menyayangi Bening sampai ia menutup usianya kelak.


"Kita akan pergi berdua?" tanya Bening.


"Ya, biarkan Abi bersama mama dan papa. Abi masih terlalu kecil untuk terbang keluar negeri."


Bening tersenyum lantas mengangguk. Ia dan Gara kemudian naik dan masuk ke dalam rumah karena maghrib akan segera menyambangi Jakarta dan sekitarnya.


Pasangan suami istri itu lalu membersihkan diri lagi di kamar mandi dengan sedikit bermesraan lalu menunaikan ibadah menghadap sang pencipta bersama. Bening mensyukuri semua hal yang telah terjadi di dalam hidupnya selama ini. Ia bersyukur bisa menjadi pendamping Gara dan tidak akan pernah mengkhianati suaminya yang baik hati itu.


"Doaku untukmu, Bening." Gara mengusap puncak kepala Bening yang masih berbalut mukena setelah mereka selesai solat dan setelah Bening mencium punggung tangan suaminya dengan takzim.


"Doa Bening untuk Mas Gara, untuk keluarga kita dan untuk putera kita."


Gara tersenyum mendengarnya lalu meraih wajah istrinya dan mencium kening Bening dengan penuh perasaan. Sesempurna itu kasih Gara kepada Bening, sesempurna itu pula cinta telah mengikat keduanya dalam rumah tangga yang utuh dan bahagia.