Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Back To Kampus!


Tiga bulan terlewati, Bening sudah memasuki semester pertengahan. Dia beruntung, setiap melahirkan selalu bertepatan dengan waktu libur panjang. Meski terlambat beberapa minggu, tetapi sekarang perkuliahannya berlangsung lancar saja. Bening rutin memompa asinya agar bisa disimpan di dalam lemari es. Para pengasuh juga sudah paham dengan tugas mereka. Abi sekarang tidak lagi rewel, sudah punya adik nampaknya semakin penurut anak itu.


Gara siaga, mengantar Bening kemanapun. Sesekali keluar berdua walau sebentar dan hanya untuk pergi ke kedai eskrim langganan istrinya. Sekarang, Bening semakin bersemangat, antara peran sebagai istri juga ibu sekaligus mahasiswi yang baik. Memang agak merepotkan tetapi Bening menikmatinya.


"Sayang, hari ini pulang cepat?" tanya Gara saat Bening akan turun dari mobil dan masuk ke dalam kampus.


"Sepertinya begitu, Mas."


"Baiklah, kabari Mas ya kalau sudah selesai."


"Pasti, kan selalu begitu, Sayang."


"Ya, cuma sedikit berbeda karena Mas ingin menghabiskan waktu lebih banyak denganmu. Kau akan Mas bawa ke perusahaan, nanti istirahatlah di sana sebelum kita kembali ke rumah."


Bening terkekeh, dia tahu suaminya ingin waktu berdua dan tanpa diganggu. Akhir-akhir ini, hasrat Gara memang sedang membumbung tinggi. Jadi Bening pasti akan menuruti semua keinginan suaminya itu.


Mereka berpisah untuk beberapa jam ke depan, kebetulan pula, di perusahaan, jadwal Gara juga sedang lenggang. Tak ada pertemuan dengan rekan bisnisnya, dia benar-benar free dan ingin menikmati waktu hanya berdua dengan Bening.


Setelah selesai, Bening segera mengabari suaminya itu yang segera menjemput Bening. Sepanjang perjalanan menuju perusahaan, Gara terlihat bersemangat dan sumringah. Bening hanya tersenyum melihat suaminya itu.


"Tak apa kan, Sayang?" tanya Gara, ia tak ingin Bening merasa terpaksa harus menemaninya, meladeninya dan melayaninya kelak setibanya mereka di perusahaan.


"Tidak apa, Mas. Bening suka kok."


Gara mengangguk senang, tentu saja Bening akan selalu suka meski kemanapun Gara membawanya. Gara juga sudah mengatakan kepada Safira dan stafnya yang lain untuk tidak mengganggunya.


Waktu berdua itu dimanfaatkan dengan baik oleh Gara dan Bening yang kadang memang sulit mendapatkannya ketika sudah di rumah, apalagi Mentari sedang rewel-rewelnya saat ini.


"Mas tidak lapar?" tanya Bening setelah mereka selesai dengan aktivitas dewasa itu. Di dalam sebuah ruangan khusus milik Gara, mereka masih berselimut.


"Baiklah, Sayang."


"Bagaimana kuliah hari ini? Apa ada yang mengganggu atau sekedar bersiul genit kepadamu?" tanya Gara lagi.


Bening tersenyum mendengarnya, Gara seperti sedang mengintrogasi anak gadis yang sedang puber saja.


"Kuliah hari ini seperti biasanya, Mas, hanya banjir ucapan selamat karena Bening sudah melahirkan lagi. Kalau digoda lelaki lain, pasti ada juga, Mas, tapi Bening tidak menggubrisnya kok."


Gara mengangguk-angguk. Dia percaya Bening. Istrinya itu paling patuh dan pasti tidak akan pernah bersikap nakal di luar sana.


"Baguslah, kau semakin cantik, Sayangku. Pasti banyak kumbang nakal yang berusaha untuk menggodamu di luar sana."


"Tapi, Mas Gara percaya Bening, bukan?" tanya Bening.


Gara mengangguk mantap. Dia memang tidak pernah berpikir yang tidak-tidak jikalau Bening sedang di kampus karena dia memang sangat percaya kepada istrinya itu.


"Bening itu sangat bersyukur punya suami seperti Mas Gara, juga sudah bersumpah untuk selalu setia jadi tak mungkin Bening akan nakal di luaran sana, apalagi mengkhianati suami yang sudah begitu baik seperti Mas. Bening selalu menjaga kehormatan sebagai seorang istri di luar sana, Mas." Bening menjelaskan dengan senyuman menenangkan. Gara mengelus rambut istrinya itu.


Bening masih seperti dulu, seperti awal jumpa dan awal mereka membina rumah tangga. Istrinya selalu menyikapi semua hal dengan bijaksana. Ia tak perlulah meragukan Bening jika itu tentang kesetiaan.


"Ya, Mas yakin denganmu, Bening. Kau tak sama dengan yang lain. Kau adalah hal yang paling Mas percayai."


"Karena itu, Mas, walau ada saja yang berusaha untuk meruntuhkan kesetiaan kita, yang harus kita lakukan adalah terus mengingat pasangan kita. Agar tak mudah goyah dan percaya kepada setiap prasangka. Pasangan yang bijak akan selalu menghormati hubungan dengan memupuk pondasi kejujuran juga kesetiaan. Bening baru pertama jatuh cinta dan selalu berharap juga berdoa, Mas Garalah yang pertama dan terakhir itu. Bening tidak berharap akan bertemu dengan orang-orang baru. Mas Gara sudah lebih dari cukup, anugerah dari Allah yang akan selalu Bening syukuri keberadaannya."


Hati Gara jadi meleleh mendengarnya. Bening sungguh membuat Gara terpesona dari segala sisi. Padahal usianya masih sangat muda, tetapi kedewasaan seperti sudah begitu lekat dengan sikapnya. Bening paham batasan dalam berteman apalagi dengan laki-laki sekalipun kehidupan di kampus kadang juga penuh romansa, yang sejujurnya jadi ujian juga untuknya yang masih muda itu. Namun, sekali lagi, bagi Bening Gara adalah anugerah, pun sebaliknya, jadi tak ada yang bisa menggoyahkan perasaan mereka.