Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Nomor dan Pesan Baru


Wajah Gara jadi terbayang-bayang, suara lelaki itu terngiang-ngiang. Syifa jadi tak bisa tidur tenang satu hari kemudian, ingin rasanya mengenal Gara lebih dekat tapi itu suami orang. Namun, jujur saja, Syifa memang sedang naksir berat dengan Gara. Entah mengapa pula jadi tak sabar membayangkan untuk segera pindah ke Jakarta dan menghandle perusahaan keluarganya di sana.


"Ya, harus jadi rekan bisnisnya kalau begitu," kata Syifa bergumam.


Namun, sekali lagi, ia sadar betul bahwa Gara adalah lelaki beristri dengan dua anak pula. Namun, ia agaknya cukup percaya diri bahwa Gara semudah lelaki lain, buktinya, lelaki itu sudah menikah dua kali, artinya Gara tak setia bukan? Seperti itulah yang ada dalam pikiran Syifa sekarang.


Dia tak tahu cerita yang sebenarnya, Gara menikah lagi bukan karena dia pria gatal, tapi pernikahannya yang pertama memang gagal. Dia jatuh cinta kepada Bening, dan takkan jatuh cinta lagi kepada perempuan lain.


Seperti saat ini, Gara malah semakin mesra dengan Bening. Lelaki itu akan bersiap untuk ke bandara dan berangkat pulang. Setiap hari tak bosan Gara dan Bening mengulang kemesraan mereka walau saat ini hanya bisa melalui telepon saja.


"Mas berangkat dulu ya, Sayang. Sudah tak ada lagi kegiatan di Surabaya ini, lagipula, malas sekali rasanya di sini terlalu lama."


Mood Gara memang tak terlalu bagus beberapa hari ini, selain karena dia rindu berat dengan Bening, dia risih selalu bertemu dengan Syifa yang selalu ikut Andi ketika sedang nongkrong bersama.


Kepulangan Gara ke rumah orangtuanya juga sudah ditunggu oleh kedua orangtuanya juga Abi. Abi senang sekali saat Gara datang ke rumah dengan membawa mainan untuk puteranya itu. Semakin besar, wajahnya Abi semakin mirip dengan Gara, menduplikat betul ketampanan sang ayah.


"Sudah selesai urusan di Surabaya, Gar?" tanya nyonya besar.


"Sudah, Ma,"


"Tapi wajahmu kusut saja Mama lihat, apa ada hal yang tak menyenangkan selama kau di sana?"


Gara menoleh, ibunya tahu saja. Gara mengangguk, bicara apa adanya kemudian, cerita mengenai Syifa bergulir.


"Ya wajar, puteraku tampan kok, makanya banyak perempuan suka modus!"


Gara berdecak. "Ya kalau aku bujang tak apalah mau cari perhatian, Ma, ini sudah kukatakan aku sudah punya anak sudah ada istri tetap saja kecentilan. Dikiranya aku suka mungkin."


Nyonya dan tuan besar tertawa mendengar Gara yang menggerutu.


"Lagipula, kau kan sedang kangen berat sama Bening." Tuan besar menimpali.


"Nah, itu juga masalahnya, Pa."


Semakin lebar tawa kedua orangtuanya. Gara pun akhirnya mau tak mau jadi ikut tertawa. Dia merasa jadi cukup kekanakan memang karena sering uring-uringan selama tak ada Bening di sisinya, padahal tak lama lagi, Bening sudah bisa kembali lagi.


Namun, agaknya malam ini tak ada pesan dari istrinya itu dan beberapa kali Gara mencoba menghubungi Bening, panggilannya tidak diangkat. Sepertinya Bening memang sudah tidur.


Tak berapa lama, ponselnya berdering, ia sudah begitu semangat untuk mengangkatnya tapi ternyata suara itu adalah suara Ibu mertuanya.


"Maaf, Nak Gara, Bening sudah tidur. Sepertinya kelelahan, seharian ini banyak di perkebunan. Apa mau ibu bangunkan?" tawar ibu mertuanya itu kepada Gara.


"Tak usah lah, Bu, biarkan saja Bening beristirahat. Nanti besok biar aku hubungi lagi," kata Gara akhirnya, padahal dia ingin sekali melihat istrinya itu malam ini sebelum dia tertidur.


"Ya sudah, Nak Gara juga istirahat ya, nanti Ibu sampaikan kepada Bening kalau malam ini Nak Gara menelepon."


"Iya, Bu, selamat malam," ujar Gara kepada Ibu mertuanya itu kemudian mematikan sambungan telepon.


Akhirnya Gara kembali berbaring di samping anaknya. Selama Bening tak ada di sisinya, memang Abi lah yang tidur bersamanya Gara, memeluk putranya itu. Namun, saat ia akan memejamkan mata dan menyusul anaknya untuk tidur, ponselnya berdering lagi, tapi kali ini bukan sebuah panggilan melainkan hanya sebuah pesan.


Sebuah pesan dari nomor tak dikenal. Gara mengerutkan kening, ia tak sembarangan memberikan nomor ponsel kepada orang lain. Jadi saat ia melihat nomor tidak dikenal, dia merasa heran tetapi akhirnya dibukanya pula pesan itu. Kening Gara semakin berkerut ketika ia membaca pesan yang diawali dengan sapaan selamat malam itu.


Ini nomorku, Syifa. Aku sengaja memintanya dari Andi karena nanti mungkin akan perlu denganmu, Gara. Maaf aku mengganggu tidurmu karena aku baru tahu bahwa kau sudah kembali ke Jakarta.


Gara menarik nafas panjang sesaat. Ia tidak ingin meladeni perempuan manapun termasuk Syifa, jika bukan tentang bisnis, apalagi di jam-jam malam seperti ini. Jadi ia hanya membacanya dan tidak membalas pesan itu. Gara kemudian meletakkan kembali ponselnya, mensenyapkan suara lalu kembali menyusul anaknya tertidur.


Selamat malam, Gara, maaf ya jikaaku mengganggu malammu. Selamat beristirahat.


Gara menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Syifa masih mengiriminya pesan semacam itu. Ia sama sekali tidak tertarik dengan perhatian yang diberikan oleh perempuan itu. Gara lagi-lagi tidak berusaha untuk menjawabnya. Tadi dia membiarkan ponselnya dalam keadaan senyap, tetapi dia takut nanti Bening terbangun tengah malam hari dan meneleponnya. Jadi ia menghidupkan lagi suaranya dan bertepatan saat itu pesan masuk dan itu lagi-lagi dari Syifa.


Akhirnya Gara simpan nomor itu dengan satu tujuan dan untuk membuat sifat sadar bahwa dia sama sekali tidak tertarik untuk meladeni perempuan manapun termasuk dirinya. Gara kemudian memposting foto dalam sebuah story chat, foto dirinya dan Bening dalam pose mesra, begitu banyak foto yang dipajang oleh Gara di sana. Syifa melihat itu dan itulah yang diinginkan Gara saat ia menyimpan nomor perempuan itu. Setelah ia selesai dengan tujuannya, Gara kembali menghapus kontak Syifa.


"Aku ini pria beristri, bukan pria bujang. Jadi tidak pernah mau dan tidak akan tertarik dengan perempuan lain." Gara bergumam dengan kesal sembari meletakkan ponselnya lagi di atas nakas.


Jika Syifa masih berani mengiriminya pesan apa pun lagi, maka Gara takkan pernah membacanya, tapi langsung menghapus pesan tersebut tanpa sempat akan membukanya.


Tinggal lah Syifa yang merasa diabaikan oleh lelaki itu. Namun, sepertinya dia tidak gentar karena dia sangat menantikan dirinya segera pindah ke Jakarta setelah ada aba-aba dari ayahnya. Ia yakin bisa meluluhkan hati lelaki yang disukainya kendati lelaki itu sudah beristri. Tetapi sekali lagi, Gara bisa memastikan dirinya tidak akan mudah tergoda oleh perempuan seperti Syifa, apalagi Bening lebih segalanya dari perempuan itu. Bening jelas lebih segar, lebih muda dan juga memiliki semua hal yang tidak dimiliki perempuan lain yang bagi Gara, Bening adalah paket lengkap. Jadi untuk apa menambah hal lain yang tidak perlu?