Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Empat Puluh Hari di Desa


Nyonya dan tuan besar sampai setelah menempuh perjalanan cukup jauh hingga beberapa jam. Mereka langsung menuju klinik persalinan di mana Bening sedang dirawat saat ini. Bening memang belum diperbolehkan pulang oleh bidan, sang bidan meminta Bening untuk menginap barang dua hari agar kondisinya terpantau.


Semua keluarga juga setuju, apapun itu untuk kepentingan Bening mereka pasti menurutinya. Nyonya dan tuan besar tak henti menimang-nimang cucu kedua mereka. Walau datang setelah ia lahir, tetapi mereka tetap senang. Mereka juga memberi ucapan selamat kepada Bening dan Gara.


"Cantik ya, Pa," kata nyonya besar kepada suaminya yang segera mengangguk. Kedua orangtua Bening kebetulan sedang kembali ke rumah mereka untuk mengambil beberapa potong baju Bening juga Gara.


Gara saat ini juga sedang menemani Bening, setia berada di sisi istrinya yang tengah menyantap makanan bergizi dari klinik. Rasa lapar memang menyerang Bening setelah beberapa jam ia melahirkan anaknya.


"Makan yang banyak, kalau ada yang Bening mau, nanti Mas Gara belikan," ujar Gara sembari mengelus puncak kepala Bening yang segera mengangguk.


Bening sendiri sudah merasa lebih baik, meski **** ************* masih terasa ngilu kendati tidak mengalami tindakan jahit. Tetap saja, ada nyeri yang tertinggal di sana. Masa empat puluh hari pun masih tetap harus dijalani oleh Bening.


"Mas Gara, apa tak masalah kalau Bening empat puluh hari berada di desa ini?" tanya Bening tak enak hati. Pasti Bening pun memikirkan perasaan kedua mertuanya.


Gara tersenyum lalu mengangguk, ia mengerti kekhawatiran Bening. Bening juga pasti merasa tak enak dengan kedua mertuanya. Pasti ia juga memikirkan perasaan kedua mertuanya.


"Tak apa, Bening, jangan pikirkan itu. Kau harus fokus dengan pemulihanmu. Mama dan Papa juga maklum. Kami di sini barang seminggu akan menemanimu. Lalu, akan kembali ke Jakarta untuk menanti kepulanganmu lagi kelak di sisi kami. Lagipula, sepertinya cucu keduaku memang ingin lahir dan berada cukup lama di desa ini."


Nyonya besar menyentuh pundak Bening, seraya berkata dengan lembut dan penuh pengertian. Tuan besar juga mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh istrinya.


"Giliran ya, Pak, Bu," sambung tuan besar sambil menepuk-nepuk pundak besannya yang disambut tawa seisi ruangan itu.


Jadi sudah sepakat semuanya jika selama empat puluh hari ke depan, Bening akan berada di desa. Gara dan kedua orangtuanya harus kembali ke Jakarta satu minggu ke depan karena masih banyak sekali tanggungjawab di Jakarta yang harus diemban.


"Kalau kangen Abi nanti video call saja, Sayang. Jaman sekarang semakin canggih, kalau sudah bertatapan muka walau hanya lewat panggilan video, sudah mengobati rasa rindu."


Tersenyum lagi Bening mendengar kalimat menyejukkan suaminya itu. Sudah sedemikian baik Tuhan merahmati kehidupannya saat ini. Bening mensyukuri semua hal baik yang terjadi padanya kini. Ia dikelilingi orang-orang baik yang telah menjadikannya keluarga. Bening tak akan pernah menyia-nyiakan semua nikmat yang Tuhan beri. Kehadiran dua anak dalam hidupnya kini semakin melengkapi kepingan kebahagiaan.


Kalau saja ada perselisihannya dengan Gara, yang kadang memang sering terselip di dalam hubungan mereka, Bening selalu berusaha untuk mendewasakan diri dengan mengalah dan memberi pengertian kepada suaminya. Karena itulah, Gara semakin mencintai istrinya itu. Sikap Bening yang tenang membuatnya jatuh cinta berkali-kali setiap hari kepada perempuan itu. Sungguh, sungguh berbeda Bening dengan Revi yang pernah melukainya dengan segala keegoisan.


Dua hari kemudian, mereka kembali lagi ke desa. Bening dikunjungi banyak tetangga yang membawakan berbagai macam perlengkapan bayi. Meski Gara sudah mencukupi semua kebutuhan bayinya, tetapi mereka dengan senang hati menerima pemberian dari para tetangga sekitar.


"Wah, banyak sekali ini minyak telon."


Bening tertawa mendengar suaminya mengangkat barang-barang pemberian tetangga di desa itu. Kebanyakan memberi bedak, minyak telon dan juga bedong bayi.


"Adat di desa ini memang masih cukup kental, Mas Gara. Jangan heran kalau saat mereka berkunjung ada saja wejangan untuk Bening."


"Ya, Sayang. Tapi, Mas Gara justru senang. Di kota, tidak ditemukan keakraban begini dengan tetangga."


"Kalau di desa, apalagi ada yang sehabis melahirkan, para tetangga akan menjadi orang yang paling perhatian, Mas Gara. Lihat saja tadi, ibu diberikan berbagai rempah-rempah untuk mandi Bening selama empat puluh hari ini."


Gara mengangguk, memang sangat kontras dengan kehidupan di kota. Beberapa hari ini juga Gara melihat Bening dimandikan oleh ibu mertuanya dengan beberapa rempah yang dicampur dengan air hangat. Kalau kata orang desa, hal itu bertujuan untuk mengeluarkan angin-angin di dalam badan perempuan yang baru selesai melahirkan. Intinya, itu hal baik untuk kesehatan sang ibu.


Bening menurut saja, begitu pula Gara. Namun, Gara pasti rindu istrinya karena Bening akan cukup lama berada di desa itu.