Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Tiga Tespack Season Dua


"Mbak Safira benar, Bening sudah lewat masa menstruasi tanpa menstruasi."


"Nah, kan! Saya bilang juga apa, Bu. Ayolah, saya temani ke dokter kandungan." Safira nampak bersemangat sekali. Dia suka anak-anak. Abi juga menempel sekali dengannya saat ini. Anak atasannya tampan sekali dan juga lucu.


"Ehmmmm, bagaimana kalau Mbak Safira temani Bening ke apotik saja dulu. Biar Bening beli tespack saja dulu."


"Ide bagus juga kok, Bu. Mau sekarang?" tanya Safira.


"Sebentar lagi ya, tanggung." Bening menunjukkan lupis yang sudah hampir habis berapa biji.


Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya Safira dan Bening keluar dari rumah. Dengan masih membawa Abi yang kebetulan pengasuhnya saat ini sedang cuti itu, Bening duduk tenang di samping Safira di dalam mobil.


Diam-diam, Safira mengamati Bening. Istri atasannya itu sekarang bertambah cantik saja. Padahal sudah punya anak dan kemungkinan akan bertambah lagi anaknya, tetapi wajah dan tubuhnya masih begitu awet muda dan terjaga. Dia juga kerap melihat kemesraan Gara dan Bening ketika Gara sengaja membawa Bening ke perusahaannya. Mereka tampak serasi dan terlihat sekali cara Gara memperlakukan Bening bak ratu.


"Nah, itu apotiknya, Bu."


Bening mengangguk lalu turun bersama Safira menuju ke sana. Bening langsung membeli tiga Tespack untuk nanti langsung uji coba.


"Sudah, ayo pulang lagi," ajak Bening kepada Safira yang langsung gerak cepat membuka pintu bagi istri atasannya itu.


Bening mengucapkan terimakasih kemudian kembali diantar ke rumah oleh sekretaris suaminya itu.


"Mbak Safira bisa kembali sekarang, terima kasih ya kue lupis dan sudah ditemani ke apotik barusan."


"Sama-sama, Bu Bening. Apa saya perlu kasih tau pak Gara tentang kemungkinan bahwa Ibu mungkin sedang mengandung saat ini?"


"Eh, tidak usah, Mbak. Biarkan menjadi kejutan untuk suami Bening. Lagipula, belum tentu hasilnya akan positif."


Safira mengangguk, lalu ia pamit pulang ke perusahaan lagi. Bening sendiri langsung menuntun puteranya untuk masuk ke dalam rumah.


"Sayang, Mama mau ke kamar mandi ya. Abi main dulu sendiri ya, Nak." Bening membawa puteranya ke ruang tengah dan segera menutup pintu kaca penghalang yang membatasi bagian belakang dengan kolam renang. Ia takut nanti Abi akan berlarian ke sana karena anaknya sudah begitu lincah berlarian ke sana kemari.


Setelah memastikan keamanan untuk puteranya, Bening segera pergi ke kamar mandi. Jantungnya mulai berdebar-debar menantikan hasil tespack yang baru saja dicelupnya dari wadah yang sudah tertampung urin.


"Semoga saja hasilnya positif." Bening berharap-harap cemas dengan hasil dari alat uji coba itu. Setelah beberapa saat, Bening mengangkat benda itu, melihatnya dengan perasaan berkecamuk.


***


Gara pulang tepat pukul lima sore. Saat dia masuk, ia sudah disambut Bening yang sudah cantik dan wangi setelah mandi. Istrinya itu juga sudah berganti pakaian dengan dress rumahan baru yang membentuk tubuh indahnya. Gara selalu saja terpancing hasrat setiap kali melihat Bening.


"Baru aja tidur, Mas Gara, sepertinya capek habis bermain seharian."


Giliran Gara yang garuk-garuk kepala mendengar anaknya sore sekali sudah tidur. Alamat nanti malam, Abi akan mengajaknya begadang dan dia pasti akan kesulitan bermesraan dengan Bening.


"Oh iya, Bening ada kejutan untuk Mas Gara."


"Kejutan?"


Bening mengangguk cepat.


"Apa, Sayang?" tanya Gara antusias.


"Kalau dikasih tahu sekarang, tidak kejutan lagi, Suamiku."


Gara tertawa mendengarnya. Akhirnya bersama Bening, ia naik ke kamar mereka. Bening memintanya untuk menutup mata. Jadi sekarang, Gara menutup matanya, menantikan kejutan apa yang sedang dipersiapkan oleh istri tercintanya itu.


"Mas Gara sudah tidak sabar, Sayang. Apa kejutannya?"


"Sekarang, Mas Gara buka mata perlahan ya."


Kabur, pandangan Gara jadi tak seterang awalnya dan sedang menyesuaikan dengan cahaya kamar. Gara mengerutkan kening ketika di depannya saat ini ada tiga benda bergaris. Bergaris dua!


Gara membuka matanya sempurna, membulat lucu membuat Bening tertawa.


"Sayang, ini betulan??" tanya Gara setengah memekik.


Bening mengangguk cepat, dengan senyum yang mengembang indah ia meraih jemari Gara lalu meletakkannya di atas perutnya yang memang sudah sedikit berisi tanpa Bening sadari.


Gara membungkuk lalu mencium perut Bening dengan lembut.


"Aku bahagia sekali, Bening."


Bening mengusap kepala suaminya itu. Gara mengangkat Bening lalu mengajaknya berputar-putar. Bening tertawa lepas dengan tingkah suaminya itu. Ini berita yang paling ditunggu oleh Gara dan kedua orangtuanya. Mereka segera menelepon bapak dan ibu di kampung yang juga memekik bahagia mendengar berita kehamilan kedua Bening.


"Buat mama dan papa biar kita kasih kejutan tespack ini ya."


Bening mengangguk, setuju dengan rencana suaminya. Kebetulan pula malam nanti mereka akan kedatangan mama dan papa yang akan makan malam di rumah mereka itu. Gara benar-benar merasakan bahagia tiada akhir bersama Bening yang rela kehilangan masa mudanya untuk mengabdi dan memberikan keturunan yang banyak untuknya. Bening bukan pencetak anak untuknya, tapi yang benar adalah, Bening seorang perempuan hebat yang sudah membuat Gara jatuh cinta dan mabuk kepayang juga seorang ibu yang tangguh di usia yang masih begitu muda. Kebahagiaan Gara lengkap dengan adanya Bening setelah luka berkepanjangan yang pernah Revi berikan untuknya di masa lalu.