Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Kedatangan Bening ke Perusahaan


Karena perintah dari suaminya untuk datang ke perusahaan, akhirnya Bening diantar Diman meluncur ke tempat itu. Sekarang, Bening sudah di lobby perusahaan. Dia tentu bingung, tak tahu harus kemana setelah ini. Baru saja hendak menelepon Gara, seorang staff keamanan mendekati.


"Maaf, Adik ini mau cari siapa?" tanya pak satpam dengan kening berkerut melihat seorang gadis cantik dan masih sangat muda dengan pakaian santai khas abege daatang ke tempat itu.


Bening juga bingung harus menjawab apa sebab tentu saja tak semua orang tahu bahwa dia sudah menikah dengan Gara. Pada acara makan-makan di perusahaan pun para karyawan mengira bahwa Revi lah yang sudah hamil.


"Ehmmmm ... Saya mencari pak Gara," kata Bening tak enak hati.


"Memang sudah ada janji ya, Dik?" tanya pak satpam lagi. Dia tentu heran, sebab biasanya yang mencari Gara adalah para pebisnis bukan gadis abege begini.


"Sudah kok, Pak."


"Kalau begitu, Adik tunggu di sini dulu ya. Duduk saja dulu disitu biar resepsionist sambungkan telepon ke ruangan pak Gara langsung."


Bening segera mengangguk dengan satpam yang segera menunjuk Bening kepada resepsionist yang bertugas. Tampak wajah keheranan dari resepsionist itu tapi setelah itu dia langsung menyambungkan telepon ke ruangan Gara.


Tak berapa lama kemudian, raut wajah sang resepsionist terlihat tegang. Ia menatap pak satpam dengan pandangan tak percaya.


"Kenapa? Kau seperti lihat hantu!" sergah pak satpam kesal.


"Pak, cepat antarkan saja gadis itu ke ruangan bos."


"Loh, tapi nanti kita kena semprot kalau sembarangan antar orang ke ruangan si bos!"


"Itu istrinya pak Gara!" pekik resepsionist itu antar percaya dan tidak.


"Weleh, jangan ngarang! Istri pak Gara kan yang model terkenal itu! Itu bocah kau bilang pula bininya pak Gara!"


"Itu beneran istri bos! Istri keduanya, cepat antar ke atas, Pak!" Resepsionis mendorong pak satpam yang masih melongo menuju ke arah Bening yang masih setia menunggu.


"Lah! Ini beneran?" tanya pak Satpam semakin tak percaya tapi melihat resepsionist yang segera mengangguk mantap, akhirnya pak satpam segera mendekati Bening lagi.


"Mari, Dik, Mbak eh, Bu, mari saya antarkan ke ruangan pak Gara." pak satpam jadi kikuk dan tak enak hati karena sempat menyebut Bening sebagai bocah.


"Bening, Pak, panggil saja begitu." Bening tersenyum lalu mengikut pak satpam masuk ke dalam lift menuju lantai di mana ruangan luas milik Gara berada.


Setibanya di lantai atas, semua karyawan menoleh dan melihat Bening yang hanya memberi senyum sopan. Mereka bertanya-tanya, siapa gadis muda yang sedang berjalan bersama pak satpam menuju ke ruang bos besar.


"Sebentar saya ketuk ya." Pak satpam mulai mengetuk pintu ruangan Gara.


"Masuklah."


"Kenapa masih di situ, Sul? Keluarlah dan jangan lupa tutup pintunya."


"Eh, iya, Pak Gara, saya permisi."


Setelah pintu tertutup, satpam itu langsung dikerubungi oleh para staff yang penasaran. Mereka juga sama terkejutnya dengan pak satpam.


Di dalam ruangannya, Gara tengah memangku Bening. Ia menyibak rambut istrinya itu ke belakang telinga. Bening hanya diam menikmati sentuhan suaminya.


"Jadi tadi ketemu siapa di kampus?" tanya Gara sambil melingkarkan kedua tangannya di pinggang Bening.


"Bertemu panitia juga bang Dani, Mas."


Kening Gara berkerut, dia kurang suka dengan pemuda bernama Dani itu. Dia tahu dari sorot mata pemuda itu,


Dani menyukai Bening.


"Jangan dekat-dekat dia ya, aku tahu dia menyukaimu," ujar Gara sembari terus membelai rambut Bening.


"Tidak kok, Mas Gara. Lagipula, Bening hanya menganggap bang Dani sebagai teman, karena kami satu desa."


"Tapi dia menyukaimu, Sayang. Aku bisa melihatnya sangat jelas."


"Bening tidak akan macam-macam, Mas Gara, percayalah."


Gara tersenyum lantas mengangguk lalu mengecup bibir Bening lembut. Nafas lelaki itu mulai memburu setiap kali ia mereka berdekatan seperti ini. Bening sendiri sadar bahwa Gara memiliki hasrat yang cukup besar untuk bercinta. Bening mulai bisa mengimbangi suaminya itu, dari Gara dia belajar banyak hal.


"Huh, aku seperti benar-benar haus melakukannya setelah menikah denganmu, Bening." Gara menghembuskan nafas kasar, ia kadang tak enak hati karena hampir setiap malam akan menjelajahi Bening. Bercinta dengan Bening sangat menyenangkan juga menghadirkan candu bagi Gara sendiri, mungkin karena itulah dia suka mengulanginya.


Namun, setelah Gara selesai dengan dua benda favoritnya, lelaki itu kembali menurunkan kaus yang Bening pakai.


"Kenapa Mas Gara berhenti?" tanya Bening heran.


"Kau sedang hamil muda, Sayang. Mas harus bisa menahan diri."


"Kalau melakukannya pelan-pelan, pasti tidak apa-apa kok, Mas."


"Ya, tapi nanti saja, Sayang. Hari ini, Mas akan membawa mu untuk ke dokter kandungan. Kita periksa ya, agar kita tahu perkembangan anak kita."


Bening hanya mengangguk, dia akan selalu menuruti semua yang Gara katakan selama itu demi kebaikan mereka. Bening kemudian perlahan turun dari pangkuan suaminya. Gara menggenggam jemari Bening dan membawanya ke luar dari ruangan. Para staff hanya diam melirik, mereka sama sekali tak menyangka jika atasan mereka sudah menikah lagi dengan gadis yang masih sangat muda dan ranum yang hari ini telah dibiarkannya datang ke perusahaan. Seolah Gara ingin semua orang tahu bahwa Bening adalah istrinya.