
Sepertinya, Bening kurang puas dengan nama yang diberikan oleh suaminya untuk puteri mereka. Terlalu singkat, meski maknanya dalam dan luas. Jadi setelah satu minggu usia Mentari, Bening yang sudah mulai bisa berjalan dengan leluasa dan sedang membantu sebisanya mengepak koper sang suami yang akan bertolak lagi ke Jakarta besok, memulai perbincangan tentang itu.
"Nampaknya ada yang tengah mengganggu pikiranmu, Sayang. Ada apa, katakanlah." Gara menangkap raut yang tampak berpikir itu. Gara memang selalu tahu saja jika Bening sedang gelisah.
"Memang ada, Mas, hanya saja, Bening kok takut ya mau bilang ke Mas."
Kening Gara jadi berkerut mendengar hal itu. Berarti hal ini cukup serius. Gara meletakkan baju yang tadi ia pegang ke dalam koper kemudian menghadapkan wajah Bening ke arahnya.
"Bicaralah, Sayang, semua hal kalau dipendam nanti jadi luka."
Bening tersenyum lalu menunduk sebentar. Ia menatap suaminya masih dengan gundah. Takut menyinggung perasaan Gara, tetapi juga gelisah jika tak disampaikan uneg-uneg hatinya.
"Loh, kok diam? Apa mau digelitik dulu baru mau ngomong?" Gara mulai menggelitik dengan pelan sisi pinggang perut Bening.
"Nanti jahitannya lepas loh," keluh Bening sembari menghentikan tawanya.
Gara jadi gelagapan berusaha menenangkan Bening yang pura-pura kesakitan. Namun, kemudian dia tersadar sesuatu.
"Kan tak ada yang sobek, Sayang!"
Bening tertawa mendengar nada kesal suaminya itu. Kemudian ia kembali mendapatkan rasa tenangnya dan mulai berbicara dengan lembut kepada suaminya itu.
"Sebetulnya, memang ada yang mengganggu pikiran Bening, Mas. Ehmmmm ... Apa nama puteri kita cuma Mentari saja. Kok Bening rasanya kurang bagaimana ya?"
"Oh, jadi itu yang menganggu pikiranmu, Sayangku. Baiklah, sekarang, Mas ingin mendengar mungkin kau punya refrensi nama yang lebih panjang untuk puteri kita." Gara bertopang dagu lalu mendengar satu persatu referensi nama yang Bening usulkan.
Namun, Gara kebanyakan menggeleng.
"Begini saja, bagaimana kalau perpaduan nama kita berdua."
"Perpaduan nama kita berdua, Mas?" tanya Bening heran.
"Ya, ada Bening, ada Gara."
"Mentari Ninggara?" tanya Bening kemudian Gara mengangguk.
Kedua orang tua dan mertua pun sudah diberi tahu mengenai hal itu. Malam itu, mereka makan bersama dengan suasana kekeluargaan yang kental. Bening dihidangkan makanan bergizi yang sedikit berbeda dengan makanan Gara dan yang lainnya.
"Wah, rindunya Bening makanan pedas itu, Bu." Bening menunjuk sambal ayam buatan ibunya.
"Sabar ya, Nak, kasihan nanti cucu Ibu jadi kepedasan."
Semuanya tergelak dalam tawa. Meski hal itu sebenarnya mitos, tetapi tetap saja Bening menghormati kepercayaan keluarganya yang sudah lebih berpengalaman dalam mengurus bayi. Konon, kata orang jaman dahulu, kalau ibu memaksa untuk makan pedas, maka asi yang dihasilkan juga akan terasa pedas.
"Betul, Bu, bisa sakit perut terus nanti cucu kita." Nyonya besar menimpali.
Mereka tertawa bersama di sela sesi makan malam bersama itu. Dewi sendiri hanya tersenyum mendengar celotehan dan candaan dari keluarganya dan keluarga iparnya itu. Dalam hati Dewi bersyukur dan berharap suatu saat bisa mendapatkan lelaki sebaik kakak iparnya pula, meski tak kaya dan mengapa, yang penting mau menerimanya yang sakit-sakitan itu.
"Dewi, sudah lebih bersemangat ya," kata papa mertua Bening membuat lamunan Dewi jadi buyar..
"Baik, Pa, Alhamdulillah."
Tuan besar mengangguk. Ia juga suka Dewi, anak itu sopan sekali. Memang, wajahnya selalu nampak sedikit lebih pucat dari orang kebanyakan. Tetapi terapi rutin yang sudah sering dilakukan Dewi dengan fasilitas rumah sakit yang memadai sudah membuatnya jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Semua berkat Mbak Bening," kata Dewi merendah. Bening segera meraih jemari adiknya itu lalu menggenggamnya erat.
"Semua karena kau sudah berjuang, Wi. Mbak hanyalah seorang yang mendukungmu, menyemangatimu. Jaga kesehatan ya."
Dewi mengangguk lalu balik menggenggam erat jemari kakaknya itu. Mereka kembali melanjutkan sesi makan. Besok, suami dan mertua Bening akan kembali ke Jakarta.
Malam harinya, setelah selesai mengasihi puterinya yang kemudian tertidur lelap, Bening dan Gara saling mendekap di pembaringan.
"Cukup lama aku tidak akan melihatmu, Sayang. Kau harus menjaga dirimu dengan baik ya. Jangan bandel, jangan melakukan pekerjaan rumah dulu."
"Iya, Mas, aku pasti lebih merindukanmu kelak. Mas juga harus menjaga diri ya? Mas tidak boleh telat makan dan harus banyak istirahat juga."
"Tentu, kita saling mengabari ya, agar tak cemas satu sama lain."
Bening mengangguk, lalu keduanya menutup malam itu dengan saling memberi kehangatan sekedarnya. Empat puluh hari cukup lama bagi Gara. Tak mudah tak ada Bening di sisinya, apalagi waktu tak bisa dipercepat sekejap mata. Pasti Gara akan rindu berat.