
Pulang dari melakukan check up kandungan dan mendapatkan hasil yang tak diduga-duga, Bening dan Gara jadi saling lihat-lihatan selama mereka di dalam mobil. Mereka masih sedikit syok, tak percaya dan juga bahagia di saat yang bersamaan. Gara tak hentinya tersenyum dalam kebahagiaan mendadak hari ini.
"Mas, dari tadi senyum-senyum, seperti orang sedang kasmaran saja," tegur Bening sembari menoleh dan terkekeh kepada suaminya itu.
"Ya bagaimana tak senyum-senyum, Sayang, Mas masih syok betulan dengan kehamilanmu yang ketiga ini."
"Mas lah tersangkanya."
Gara tertawa mendengarnya. Ia meraih jemari Bening dengan tangan lain sibuk menyetir.
"Rejeki, Sayang. Abi dan Mentari mungkin memang harus punya adik."
Bening tersenyum hangat ke arah suaminya itu. Ia balas menggenggam jemari Gara dengan lembut dan penuh perasaan. Mereka saling bertatapan dengan Gara yang akan tetap fokus untuk menyetir.
"Jadi program pemerintah kita gagal ya, Mas." Bening tertawa lagi saat ia mengatakan itu kepada Gara.
"Ya, Sayang. Dan kau akan kembali berjuang di ranjang persalinan juga Mas yang akan berjuang kembali untuk melihat kau sedang melahirkan kelak. Sebenarnya sungguh Mas tak tega melihatmu kesakitan setiap kali melahirkan, Sayang. "
"Tak apa, Mas. Itulah kodrat perempuan. Aku sebagai istrimu juga pasti tak akan mengeluh. Hamil dan melahirkan adalah rejeki dari Allah. Kita patut mensyukuri."
"Kau sangat dewasa, Sayang. Mas semakin mencintaimu."
Bening tersenyum bahagia menatap Gara. Mereka rencananya sekarang akan pergi ke rumah orangtua Gara dahulu. Mereka akan memberitahu kabar membahagiakan ini lagi. Mama dan papa Gara pasti bahagia juga dengan kabar ini.
Gara jadi terkenang saat dulu masih beristrikan Revi, memberi satu anak saja perempuan itu enggan, tapi Tuhan menggantinya dengan sosok yang lebih segalanya. Bening di usianya yang masih sangat muda itu tak pernah keberatan walau harus terus mengandung untuk Gara.
Bahagia senantiasa terpancar dari mata indah Bening. Ia tanpa sadar jadi mengelus perutnya. Syukurlah, sekarang sudah akan selesai kuliahnya jadi ia bisa lebih fokus lagi mengurusi anak dan suami. Meski begitu, Bening tetap punya cita-cita ingin punya usaha juga. Karena dia suka memasak, rasanya ingin membuat usaha di bidang kuliner suatu saat nanti.
Mereka segera tiba di kediaman kedua orangtuanya Gara. Disambut begitu hangat oleh mama mertua membuat Bening dan Gara juga jadi tak sabar ingin segera menyampaikan berita membahagiakan itu.
"Kalian nampak bahagia sekali, ada apa ini?" tanya nyonya besar sembari merangkul Bening.
Sembari berjalan menuju ke taman belakang, tempat dimana mereka biasa bersantai dan berbincang, Gara bertatapan kembali kepada Bening.
Nyonya besar itu ikut saja apa kata puteranya, semakin ke sini dan tambah tahun usia pernikahan Gara juga Bening, mereka juga senantiasa terlihat sumringah. Hal itu tentu membuat nyonya besar semakin lega menjalani masa tuanya. Anak mereka sudah bahagia dengan Bening.
"Ada berita bahagia buat Mama juga papa. Oh iya, papa mana, Ma?" tanya Gara.
"Papa baru saja keluar, tadi ada tamu jadi sekalian mereka keluar bersama."
"Sayang sekali, padahal tadi aku berharap ada papa juga. Tapi tak apalah, nanti Mama kan bisa menyampaikan kepada papa."
"Iya, Gara. Lalu ada apa sih ini? Jangan main teka teki, Mama lagi gak mau mikir."
Bening dan Gara tertawa mendengarnya.
"Mama bakal punya cucu ketiga dari aku. Bening sudah hamil lagi."
Hening sesaat, nyonya besar tampak sedang mencerna perkataan puteranya barusan. Namun, kemudian dia menatap Bening dan Gara bersamaan.
"Kalian serius???" tanyanya dengan tampang berbinar-binar.
"Mana pernah Gara bohong sama Mama sih?"
"Alhamdulillah. Berkah buat kalian berdua. Mama bahagia sekali, sebentar, Mama tinggal dulu mau telepon papa."
Gara dan Bening berpandangan, melihat nyonya besar sedikit berlari ke dalam rumah yang luas itu. Mereka takut mama tersandung lalu terjatuh. Tapi syukurlah, mama mertua masuk ke dalam rumah dengan selamat. Gara dan Bening menarik nafas lega lalu saling memandang lagi, kali ini dengan begitu hangat.
"Lihatlah, bahagia sekali Mama. Mama tidak pernah pusing mau punya banyak cucu, karena dia suka anak-anak. Kedua kakakku tidak pernah mau tambah anak, Sayang. Bahkan sudah begitu sibuk di luar negeri sampai jarang sekali menelepon papa dan mama padahal mereka pasti rindu dengan cucunya."
"Tak apa, Mas, kita maklumi saja, mungkin kakak-kakaknya Mas sibuknya sibuk yang bermanfaat. Sekarang ada kita, kita lah yang harus menyenangkan mereka di masa tuanya."
"Begitu pun aku, Bening, aku juga akan berusaha untuk adil kepada orangtuamu, aku tak akan menahan jika sewaktu-waktu kau ingin pulang ke desa dan mengunjungi mereka. Jangan rusak baktimu kepada orangtua hanya dengan tak mengunjungi mereka hanya karena sekarang kau sudah punya keluarga sendiri. Bagaimanapun, orangtua adalah harta paling berharga dalam kehidupan kita."
Bening tersenyum lalu mengangguk, dikecupnya pipi Gara, Gara membalasnya dengan kecupan sayang di kening. Lalu mereka mengelus perut Bening bersama. Tak apa banyak anak, nikmat yang wajib untuk disyukuri.