Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Antar Jemput


Tiba di hari Bening akan mengikuti test tertulis. Dia sudah rapi dengan kemeja berwarna maroon dengan celana panjang berwarna hitam berbahan licin. Pakaian itu pas di tubuhnya yang indah. Gara baru saja keluar dari kamar mandi, melihat Bening sudah segar seperti itu, darahnya jadi berdesir. Bening bak berlian yang mulai terlihat kilaunya.


Ia sempurna seperti gadis-gadis muda dengan tubuh indah, kulit seputih susu juga wajah yang cantik nan ayu. Kalau sudah bertutur, setiap orang akan tenang mendengarnya, apalagi Gara. Istrinya yang baru saja akan menapak usia delapan belas tahun itu kerap menjadi tempat Gara bermanja.


Seketika rasa takut menghantam Gara, melihat Bening yang begitu memikat. Ia yakin, di kampus kelak banyak yang akan naksir Bening. Apalagi ada Dani, Gara tidak suka pemuda itu. Ia kerap melihat tatapan penuh cinta dari Dani untuk Bening. Gara yang masih memakai handuk di pinggangnya, mendekat lalu memeluk Bening dari belakang.


"Kok udah cantik gini sih?" tanya Gara, seperti tidak rela Bening akan pergi walau hanya untuk keperluan yang benar-benar penting.


"Kan mau test tertulis hari ini, Mas Gara."


"Hemmmmm ...."


Bening menoleh, ia merasa suaminya seperti tidak suka Bening pergi.


"Bening cuma ke kampus untuk test tertulis aja kok. Nanti langsung pulang deh."


"Iya, aku tahu, Sayang. Tunggu di bawah ya, aku ganti baju dulu."


"Bening minta diantarkan pak Diman aja, Mas. Mas Gara kan ada meeting penting hari ini."


"Gak papa, Sayang. Aku tungguin ya sampe testnya selesai."


Bening tersenyum lantas mengusap pipi Gara lembut dan penuh perasaan kemudian dia mengangguk. Gara lalu melepaskan Bening yang sudah membawa tas dan memeluk buku di depan dadanya. Segar sekali istrinya itu. Gara hampir tak bisa melepaskannya kemana-mana.


Gara mengusak rambutnya, dia takut sekali kehilangan Bening. Gara jadi mematut dirinya sendiri di cermin, dia sekarang memang sudah cukup dewasa, usianya dua puluh delapan tahun terpaut sepuluh tahun dari Bening. Namun, dia masih oke. Masih bisa lah bikin gadis-gadis menggelepar seperti ikan lele tanpa air jika melihatnya. Gara menyugar rambutnya, dia dan Bening serasi. Gara jadi percaya diri lagi.


Ia segera memakai baju yang sudah disiapkan oleh Bening sebelum dia keluar dari kamar mandi tadi. Gara secepatnya turun setelah selesai dan rapi. Ia nampak tampan dengan style bos muda masa kini.


"Makan dulu, Gara." Nyonya besar menyapa putera bungsunya yang membalas dengan senyuman.


"Bening dianter pak Diman?" tanya nyonya besar.


"Aku yang antar dong, Ma," sambar Gara cepat.


"Ya sudah, palingan nanti Bening telepon pak Diman ya kalo testnya sudah selesai."


"Aku tungguin loh, Ma," sambut Gara lagi.


Tuan Wibowo menatap istrinya, mereka saling pandang lalu geleng-geleng. Anaknya sedang terserang bucin maksimal. Bening sendiri hanya tersenyum.


Mereka kembali makan dengan tenang. Pagi tadi, Gara mendapat telepon dari Revi, hari ini dia akan syuting di luar kota, Gara mengizinkannya dengan mudah tak ada lagi drama seperti dulu, di mana Gara akan protes dan tidak mengizinkan Revi pergi meski pada akhirnya ia tetap ditinggal juga. Sekarang, Gara sudah masa bodoh. Bukan bermaksud kejam dan tidak perduli, sebab dulu Gara sudah pernah melakukan itu, hanya saja kepeduliannya malah tidak dihargai sama sekali.


Selesai dengan sarapan, Gara dan Bening pamit pergi ke kampus. Gara mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Mereka akan tiba tak lama lagi. Setelah Gara sampai di depan gerbang, mereka bisa melihat banyak calon-calon mahasiswa dan mahasiswi yang akan ikut test hari ini. Beberapa mahasiswa memakai almamater juga terlihat, sepertinya mereka adalah para pengurus organisasi kemahasiswaan semacam BEM di kampus itu. Dan terlihat pula Dani di sana.


Tadinya, Gara akan menunggu di dalam mobil, tapi dia jadi mengubah rencana. Jadi dia ikut turun dan akan menunggu tepat di taman kampus yang berseberangan dengan kelas yang akan dipakai untuk test tertulis itu.


"Ning." Dani memanggil.


Bening menyahut dengan tersenyum sementara Gara juga ikut melihat pemuda itu. Pandangan keduanya bertemu. Ia segera merangkul Bening, membuat Dani segera mengalihkan pandangan ke arah lain. Aroma persaingan itu mulai terendus.


"Bening masuk ya, Mas Gara."


"Iya, Sayang. Mas Gara tunggu di sana ya." Gara menunjuk bangku di bawah pohon akasia di tengah taman. Bening mengangguk lalu segera bergabung dengan calon mahasiswa lain di dalam kelas itu.


Sementara Dani sedari tadi tak lepas memandang Gara begitupun Gara yang menantang Dani lewat sorotan matanya.