
Sesuai janji Gara, pagi ini ia akan mengajak Bening kembali menjelajahi Bolivia. Ia akan membawa Bening terbang menuju Uyuni, sebuah kota kecil yang ada di Bolivia juga. Dari Ibukota Bolivia, La Paz, mereka akan terbang menggunakan pesawat menuju ke sana. Karena kalau menggunakan jalur darat, perjalanan akan memakan waktu cukup lama tujuh hingga sembilan jam. Gara tidak mau Bening nanti kelelahan di tengah perjalanan.
Saat sampai, mata Bening membulat sempurna. Inilah cermin dunia yang sering dibicarakan oleh orang-orang. Bening memandangnya tanpa berkedip, sungguh ia sangat terpukau. Tidak menyangka pula ia akan benar-benar mengunjungi surga dunia ini. Pemandangan Salar De Uyuni sangat memanjakan mata.
Tuhan sungguh telah menciptakan bumi dengan ragam keindahannya, salah satunya tempat ini. Bening merasa Gara memeluknya, di tengah cermin raksasa yang terbentuk secara alami karena alam itu. Ia meminta seorang tour guide memotret mereka di tengah tempat itu.
"Mas Gara ini sangat luar biasa."
"Indah ya, Sayang."
"Sangat indah, Mas Gara. Bening kira tempat ini hanya ada di film saja."
"Kau suka?"
"Lebih dari yang Mas Gara bayangkan."
"Kita akan mengunjungi banyak tempat indah lagi selain ini, Bening. Nanti, Mas akan membawamu menjelajahi belahan dunia lain yang ada di bumi ini. Kita akan berkelana, mengabadikan diri kita dalam potret indah di tempat-tempat lain yang akan kita kunjungi nanti."
Bening menyentuh wajah Gara, ia mencium pipi suaminya itu penuh perasaan. Beginikah rasanya dicintai sebegitu dalam oleh lelaki? Beginikah Gara bila ia telah benar mencintai seorang perempuan di dalam hatinya?
Bening menatap Gara dengan semua perasaan campur aduk. Suasana ini bukan hanya romantis, tapi juga penuh dengan kesan dan ikrar suci yang mulai tercipta.
"Bening akan menemanimu sampai kapanpun, Mas Gara," ujar Bening sungguh-sungguh.
"Kau adalah hartaku yang paling berharga, Bening. Kaulah belahan jiwaku, Tuhan telah mempertemukan aku denganmu, seseorang yang sangat sempurna untuk aku cintai."
Pantulan bayangan langit biru membuat pemandangan ini benar-benar membuat hati menjadi tenang dan damai. Entah sudah berapa banyak cinta yang ditinggalkan di tempat ini. Cermin raksasa ini bagai memantulkan refleksi diri yang nampak sangat kecil. Tuhan seolah ingin menunjukkan betapa manusia, sekuat apapun ia, tetap saja kerdil di mata yang menciptakannya.
"Biarlah tempat ini menjadi saksi, betapa aku tulus mencintaimu, Bening."
"Ya, Bening. Hanya kau, hanya dirimu."
"Aku tidak punya keinginan besar seperti cermin raksasa yang luas ini, Mas Gara. Aku hanya ingin setia kepadamu hingga aku menutup mata kelak."
"Kau tahu, dulu aku tidak pernah percaya pada kata setia yang diucapkan seorang wanita, apalagi Revi pernah mematahkan hatiku berulang kali. Tapi kau mampu membuat aku yakin akan hal itu."
Gara mengajak Bening berjalan menyusuri Salar De Uyuni yang indah itu sampai mereka puas berada di sana.
"Mas Gara, Bening yakin banyak sekali cinta yang telah orang-orang tinggalkan di sini."
"Ya, impian banyak orang adalah datang ke tempat ini. Ini dijuluki surga dunia. Siapa pun ingin sekali datang dan mengunjungi tempat ini."
"Bening sangat beruntung bisa mengunjungi ini bersamamu, Mas. Bening juga akan meninggalkan jejak cintaku kepadamu di tempat ini juga," sahut Bening sambil tersenyum.
"Mas Gara sangat bahagia, Bening. Tetaplah menjadi wanita terhebatku."
"Bening merasa menjadi perempuan paling beruntung di dunia ini, Mas Gara, sebab dicintai teramat tulus olehmu."
"Akulah yang paling beruntung, Bening."
Dan begitulah perasaan mereka saat ini. Berbaur mesra, terasa indah. Gara ingin selamanya seperti itu bersama Bening.
"Mas Gara hanya berharap, semoga kau selalu bahagia bersama Mas Gara, Bening."
"Bening sangat bahagia, Mas Gara. Bisa mencintai dan dicintai Mas Gara adalah anugerah paling indah dari Tuhan kepada Bening."
Keduanya bergandengan tangan, melihat refleksi diri mereka sendiri di pantulan cermin dunia yang begitu indah, begitu luas, begitu memukau, sebuah tempat yang menjadi gambaran betapa kuasanya sang pemilik kehidupan ini.