
Surabaya ternyata mempertemukan Gara dengan rekan bisnis baru. Seorang teman lamanya ternyata yang dulu adalah teman di masa kuliah. Lelaki berperawakan tinggi itu juga membawa seorang perempuan cantik bernama Syifa.
"Ini salah satu pengusaha sukses juga, Gar. Bisniswoman yang punya segudang prestasi," ujar Andi sambil tersenyum bangga mengenalkan Syifa kepada Gara.
Memang, Syifa sangat cantik. Kulit sawo matang eksotis juga tubuh langsing bak model terkenal. Sepertinya, perempuan itu suka berselancar melihat berbagai pernik seperti gantungan kunci dan mobilnya yang berbentuk miniatur papan selancar air.
"Aku orang Bali, Gar, kebetulan saja sedang mengurusi bisnis keluarga di Surabaya ini."
Tanpa diminta, perempuan itu menceritakan asal usulnya. Ya, bagi Gara tak penting, cuma demi menghormati teman dari temannya itu ia hanya mengangguk kecil. Namun, Gara sama sekali tak tertarik untuk mencari tahu lebih lanjut tentang Syifa. Dia memang sangat membatasi hal-hal di luar bisnis jika itu dengan perempuan lain.
"Baiklah, jadi sekarang bagaimana kalau kita mulai saja? Aku punya beberapa skema sementara, gambaran yang mungkin akan menguntungkan masing-masing dari perusahaan kita." Gara memulai membuka laptop tanpa berniat untuk menambah basa basi kepada Syifa yang hanya menarik satu alisnya. Dia merasa heran, Gara seperti tak tertarik sama sekali dengan dirinya. Maksudnya, Gara tak bertanya apapun lagi mengenai dirinya.
Akhirnya, karena dirasa Gara memang tak mau terlalu berbasa basi, Syifa juga menyimak dengan baik penjelasan yang Gara berikan kepadanya dan Andi. Andi memang mengajak Syifa untuk bertemu dengan Gara karena Syifa tertarik untuk bekerjasama dengan pengusaha dari Jakarta sebab beberapa bulan ke depan, dia memang akan pindah ke Jakarta untuk memperluas perusahaan keluarganya juga.
Tak ia sangka, jika pengusaha yang diceritakan Andi kepadanya kemarin adalah lelaki tampan yang begitu berkharisma. Tak pelak, setiap kali Gara bertutur kata, ia jadi terpesona.
"Bagaimana Syifa, kau tertarik untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan Gara?" tanya Andi sedang dia sendiri juga sudah menandatangani kerjasama dengan Gara barusan.
Melihat Syifa hanya diam dan terus memandangi Gara, Andi mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah perempuan itu, membuat Syifa jadi bersemu merah dan sedikit gelagapan.
"Tentu, beberapa bulan lagi aku akan ke Jakarta dan akan dengan senang hati untuk datang ke perusahaanmu."
Gara menganggukan kepalanya, ia hanya menanggapi keberadaan Syifa dengan tatapan biasa saja. Hal itu membuat Syifa jadi semakin tertantang.
"Bagaimana kabar istrimu, Gar?" tanya Andi memecah kekaguman Syifa. Terkejut dia mendengar bahwa Gara sudah menikah. Menikah? Artinya sudah punya istri.
Andi tampak terkejut pula, sepertinya dia terlalu lama di luar negeri satu tahun belakangan ini sehingga tak begitu mengikuti berita televisi. Sebab harusnya dia tahu cerita tentang Revi dan Gara karena Gara adalah suami dari selebriti terkenal saat itu. Namun, itu nampaknya jadi angin segar untuk Syifa. Setidaknya dia pikir Gara sudah bercerai dengan istrinya. Berarti Gara ada seorang duda muda, begitu dugaannya.
"Aku terlalu lama di luar negeri, Gar, sampai tak tahu lagi berita mengenai kau dan Revi. Jadi sekarang ..."
"Sudah punya istri lagi, sudah punya anak pula dua."
Andi terdengar berseru, ia ikut bahagia dengan berita yang Gara berikan ini. Tapi Syifa justru terkejut sekali, dia pikir Gara belum lagi punya istri baru setelah bercerai.
"Gerak cepat kau, Gar. Nanti bolehlah aku dikenalkan dengan istrimu. Hebat sekali dia bisa menaklukkan seorang Gara," kelakar Andi itu disambut tawa oleh Gara.
Syifa sendiri hanya menyimak apa yang dua orang lelaki itu perbincangkan. Jujur saja, dia suka melihat Gara. Sebagai perempuan normal, Gara teramat menarik perhatiannya.
"Syifa pasti terkejut mendengarnya juga bukan?" goda Andi kepada Syifa yang hanya tersenyum kecil.
Gara juga ikutan tertawa, setidaknya Gara cukup tenang setiap kali berhadapan dengan rekan bisnis yang berasal dari kalangan perempuan, jika mereka sudah tahu status Gara yang sudah beristri dengan dua orang anak pula.
"Kau sendiri sudah menikah?" tanya Gara akhirnya, sedikit berbasa basi kepada Syifa yang segera menggeleng.
"Belum, masih fokus dengan karir dulu, Gar."
Gara mengangguk mengerti. "Semoga nanti segera dipertemukan dengan orang yang menarik hati ya." Gara melanjutkan dengan senyum ramah.
Syifa hanya tersenyum menanggapinya. Ia sendiri merasa sangat tertarik dengan lelaki di hadapannya itu, tampan, berkelas juga sepertinya sayang sekali dengan keluarga. Sayang, Gara sudah menikah lagi. Seandainya saja Gara seorang duda, Syifa tak gentar untuk berusaha menarik perhatiannya. Sedang Gara tidak akan pernah membuka hatinya untuk perempuan lain lagi, dia sudah cukup punya Bening sebagai penguasa dan ratu di dalam hidupnya. Untuk apa tertarik dengan perempuan lain?