
Kata Gara, dia akan mengajak Bening ke suatu tempat sore nanti. Bening tak menanyakan apapun tentang rencana itu, ia hanya mengangguk dan pasti akan ikut kemana pun Gara akan membawanya. Selama di rumah, Bening beristirahat sesekali atau melakukan kegiatan lainnya. Ia juga tidak lupa menelepon keluarganya di kampung. Dari yang Bening dengar, Dewi sekarang sudah semakin sehat meski belum bisa sepenuhnya melakukan kegiatan terlalu banyak.
Bapak disibukkan dengan kegiatannya mengawasi perkebunan juga sawah. Kehidupan keluarganya di desa sudah semakin sejahtera. Cita-cita Bening membahagiakan keluarga terwujud lewat Gara yang telah membeli rahim Bening lewat cara yang elegan melalui pernikahan.
Bening sedang menjemur beberapa potong baju saat ponselnya berdering. Yang menelepon adalah nomor tak dikenalnya.
"Iya," Bening menyahut.
"Heh, kau jangan senang dulu, Gara sekarang memang
perhatian kepadamu, tapi tunggu saja setelah anak itu lahir, maka aku akan meminta Gara menceraikanmu!"
Bening mengatupkan bibirnya, ternyata Revi yang menelepon saat ini. Entah ada apa gerangan, perempuan itu menghubunginya dalam keadaan marah. Bening hanya bisa menghela nafas berat.
"Mbak Revi kapan pulang?" tanya Bening tanpa menghiraukan kata-kata ketus Revi barusan.
"Kenapa?! Kamu pasti gak rela kan kalau nanti aku pulang dan kembali bersama Gara lagi. Ingat ya, Bening, Gara itu menikahimu dengan tujuan yang jelas, yaitu anak. Kamu cuma mesin pencetak anak untuknya! Jadi jangan pernah berharap untuk bisa menggantikanku! Aku satu-satunya Nyonya Anggara Dewa. Semua orang tahu akulah istri sah Gara! Kau mestinya berkaca, lihat dirimu yang kampungan itu, apa pantas bersanding dengan Gara!"
Bening sebenarnya sangat sedih dengan penghinaan yang dilontarkan oleh Revi saat ini. Namun, ia tidak mau terpancing emosi. Jadi ia hanya mendengarkan Revi dengan seksama tanpa ada niat untuk membalasnya sama sekali. Ia paham posisinya yang hanya istri kedua.
"Aku ngerti, Mbak."
"Ya, kau memang mestinya mengerti! Kalau bukan karena aku yang merestui pernikahan durjana kalian itu, selamanya kau hanya akan jadi babu!"
Lalu sambungan telepon itu mati. Bening menarik panjang nafasnya sendiri saat ini. Dia hanya paham, Revi saat ini belum bisa mengikhlaskan Gara yang juga telah memiliki dia sebagai istri.
Bening tak mau membebaninya dengan kata-kata menjatuhkan yang terlontar begitu lancar dari mulut Revi. Dia turun dari balkon tempat menjemur baju lalu memutuskan untuk melakukan hal lain yang mungkin bisa lebih berguna untuk membantunya melupakan kata-kata Revi barusan.
Sore hari, Bening sudah rapi menyambut Gara. Lelaki itu memberikan Bening pelukan hangat lalu membawanya ke mobil. Mereka pergi ke sebuah hunian elit di bilangan Jakarta Utara.
"Kita mau ke rumah siapa, Mas?" tanya Bening sambil mengerutkan dahi. Kompleks orang kaya itu dijaga ketat oleh para pengaman yang sudah memiliki sertifikat resmi dari negara. Salah satu kawasan elit dengan harga rumah yang fantastis per unitnya.
"Mas Gara kok main rahasia-rahasiaan sih." Bening mengerucutkan bibirnya, membuat Gara gemas ingin mengecupnya detik itu juga.
Mereka tiba di sebuah rumah bercat putih kombinasi keemasan. Lahannya memang tak terlalu luas, tetapi kesan eksklusif dan mahal terlihat begitu nyata.
"Bagus sekali, Mas Gara. Ini rumah siapa, Mas?" tanya Bening masih dengan keheranannya.
"Ini rumah Bening, Mas Gara membelikannya untukmu."
Bening diam. Rasanya tak percaya jika Gara telah memberi kejutan sedemikian manis untuknya sekarang.
"Bening suka?" tanya Gara, mereka masih berada di dalam mobil, belum turun.
"Suka, Mas Gara. Tapi ini sungguh berlebihan, Bening tidak pantas menerimanya." Bening tertunduk.
"Jangan bicara seperti itu, Bening. Mas Gara sudah berjanji, jika mendapatkan istri yang benar-benar sesuai keinginan, maka dialah ratunya. Apapun akan Mas Gara lakukan dan berikan. Cuma, Bening jangan minta Mas Gara ambilkan bulan dan bintang ya, sebab itu gak mungkin, Sayang."
Bening tak urung tertawa mendengar gurauan suaminya itu. Dan kemudian diam saja saat Gara mendekat lalu menyatukan bibir mereka berdua. Cukup lama mereka berpagutan mesra. Lalu Gara membawa Bening turun dari mobil dan masuk ke pekarangan rumah.
Saat masuk, Bening sudah melihat rumah itu telah berisi perabotan. Juga ada foto pernikahan mereka yang sederhana dalam ukuran besar di ruang tamu.
"Mas Gara, makasih ya." Bening bisa merasakan suaranya bergetar saat ia mengatakan itu.
Gara mengangguk, ia merangkul Bening, melihat ruangan demi ruangan. Di rumah itu, mereka akan membangun rumah tangga yang bahagia. Di rumah itu, Gara akan bermanja mesra dengan Bening tanpa terganggu oleh siapapun juga.
"Mau mencoba kamarnya?" tanya Gara penuh arti.
Bening mengangguk, lalu membiarkan Gara menggendongnya menuju kamar mereka di lantai atas. Kalau tak ada cinta, untuk apa Gara melakukan hal-hal manis semacam itu untuk Bening? Kalau hanya karena anak, untuk apa Gara dan Bening selalu candu mengulang percintaan mereka di atas ranjang asmara lelaki itu? Kalau tak ada cinta, Gara akan sedingin salju kepada Bening. Nyatanya Gara hangat, sehangat mentari pagi, menguatkan tulang dan sendi, membuat Bening sanggup berdiri meski harus berbagi kepada Revi.