
Revi kembali menghamburkan barang di dalam kamarnya. Gara sendiri saat ini sedang berada di ruang tengah. Dia sedang memikirkan apa sebaiknya Bening ia alihkan ke tempat lain dulu? Mungkin ke rumah mamanya? Sepertinya jika ia membiarkan Bening terus tinggal di satu tempat yang sama dengan Revi, perempuan itu pasti akan mencelakainya. Gara tidak bisa setiap saat memantau mereka berdua karena dia juga mesti pergi ke perusahaan.
"Mau kemana, Sayang?" tanya Gara mendekati Bening yang sudah menapaki tangga menuju ke atas.
"Mau ke atas, Mas Gara. Bening takut nyonya muda terluka. Bening mendengar ada suara kaca yang pecah dari kamar."
"Gak usah, Sayang. Nanti biar aku yang membersihkannya."
"Tidak apa, Mas. Nanti kalau dibiarkan, nyonya muda bisa saja melukai dirinya."
Gara menghembuskan kasar nafasnya tapi kemudian dia mengangguk. Membiarkan Bening naik ke atas dengan dia yang memantau dari bawah. Bening terlihat mulai mengetuk pintu.
"Nyonya, biar saya bersihkan ya."
"Pergi kamu! Gara-gara kamu aku begini! Gara-gara kamu suamiku berpaling!" jerit Revi.
Bening menarik panjang nafasnya lalu menghembuskannya berat. "Nyonya, maafkan saya. Biarkan saya membersihkan kamar, karena bahaya sekali pecahan kacanya bila mengenai Nyonya muda."
Tak ada sahutan. Bening memberanikan diri membuka pintu kamar itu. Dilihatnya Revi sedang merokok di sisi jendela. Pecahan kaca membuat Bening begitu hati-hati untuk berpijak. Dilihatnya tangan Revi berdarah, mungkin tergores kaca saat ia melempar benda itu ke lantai.
"Biar saya obati luka Nyonya." Bening mendekati Revi setelah ia membuang pecahan kaca dan sudah merapikan kembali kamar itu.
"Jangan sok baik!" Revi mengibaskan tangannya.
"Tapi Nyonya terluka, nanti infeksi kalau dibiarkan."
"Yang lebih luka itu hatiku! Kau sudah merebut suamiku! Kau menghancurkan kebahagiaanku!"
Bening menatap mata Revi dengan tenang. Ia tahu, Revi murka padanya. Bahkan kalau ingin menuruti kata hati, mungkin Revi akan membunuhnya hari itu juga. Bening paham rasanya diduakan, tapi ini juga bukan sepenuhnya salah Bening. Revi sendiri yang membuat Gara pada akhirnya berpaling karena ia sangat menginginkan anak.
"Nyonya, mari bicara dari hati ke hati, kenapa semua ini bisa terjadi."
"Gak perlu! Aku muak melihatmu, Bening! Pergi kau dari kamarku! Aku jijik padamu!" Revi melempar Bening dengan bantal membuat kamar itu jadi berantakan lagi.
Bening akhirnya turun. Gara mendekati Bening lalu meraih jemari istri keduanya itu. Bening tak bicara apapun. Ia meraskan kemudian Gara memeluknya erat sekali.
"Aku ingin sekali melindungimu, Bening," desis Gara dengan semua ketulusan yang ia punya.
"Mas Gara sudah melakukannya."
"Aku tidak akan bisa tenang, jika meninggalkanmu di rumah ini hanya berdua saja dengan Sela. Bisa saja dia menyakitimu sewaktu-waktu. Dia sangat nekat, Bening."
Bening diam, tak mampu menyahut untuk sementara. Pandangan Bening tertunduk, ia sebenarnya sedih dengan situasi semacam ini.
"Tapi ..."
"Aku akan sering mengunjungimu, Sayang. Namun, kau pasti paham, aku juga perlu bicara dengan Sela. Biarkan aku menyelesaikan masalah dulu dengannya."
Bening pada akhirnya mengangguk juga. Dia mulai berkemas lagi, Gara menunggunya di dalam mobil untuk mengantar Bening ke rumah nyonya besar.
Perjalanan ke rumah nyonya besar tak memakan waktu cukup lama. Bening dan Gara turun. Desas desus pernikahan Gara dan Bening sudah sampai ke telinga semua penghuni rumah megah nyonya besar itu. Termasuk ke seluruh pelayan. Asih hanya bisa memandang Bening dengan tatapan iri dari kejauhan. Ia tidak berani mengusik Bening karena ada tuan muda dan nyonya besar saat ini.
"Jadi, Bening akan tinggal di sini?" tanya nyonya besar dengan Gara yang segera mengangguk.
"Revi lagi gak stabil, Ma. Aku gak bisa ninggalin Bening sendirian di rumah berdua aja sama Revi kalo aku lagi gak ada."
Nyonya besar mengangguk menyetujui. Lalu Bening pergi ke kamarnya dulu tetapi nyonya besar segera mencegahnya.
"Mau kemana, Bening?" tanya Nyonya besar.
"Ke kamar saya, Nyonya."
"Kau ini, aku bukan lagi majikanmu. Panggil saja aku Mama seperti Gara juga memanggil begitu."
"Baiklah, Ma. Kalau begitu, Bening mau simpan dulu koper ini ke kamar kemarin."
"Eh, enggak dong Bening. Biarkan Asih membawanya ke kamar Gara. Masa kamu tidur di kamar pembantu?"
Bening hanya tersenyum mendengarnya. Asih datang dengan wajah datar dan membawa koper Bening ke lantai atas, ke kamar Gara lebih tepatnya.
Gara dan Bening kemudian bersama nyonya besar duduk di taman belakang. Pelayan segera menyajikan camilan untuk menemani bincang mereka.
"Revi kenapa lagi, Gara?" tanya mama dengan raut serius.
"Seperti orang kesurupan. Aku tidak mengerti apa maunya, Ma. Padahal aku sudah memberi kebebasan untuknya seperti yang selama ini dia inginkan. Tapi malah Bening jadi sasaran amukannya."
"Revi keras kepala. Dia sendiri yang sudah menyia-nyiakan kau sebagai suami selama ini, sekarang, malah dia juga yang merasa seolah disakiti."
"Aku sendiri tidak ingin lagi mengurusinya, Ma. Sudah muak aku menuruti semua keinginannya selama ini."
Bening hanya diam menyimak. Sekarang, dia sudah sah kembali lagi ke rumah nyonya besar tapi bukan lagi sebagai pembantu melainkan sebagai menantu.
Gara juga lebih sering pulang ke sana daripada ke rumahnya sendiri. Revi juga semakin menjadi, dia kerap pulang dalam keadaan mabuk hampir setiap malam. Gara pusing mengurusi istri pertamanya itu, hanya kepada Bening dia bisa menumpahkan semua rasa dan merasa nyaman setiap kali mereka hanya berdua.