
"Itu pupuknya disimpan saja di gudang belakang ya, Pak. Nah, itu juga bibit-bibit baru datang separuhnya disemai dulu. Oh iya Pak Slamet nanti padi-padi yang baru panen tolong diletakkan di sebelah sana ya." Pak Sakir sedang sibuk sekali bersama para pekerjanya di desa siang terik itu. Para warga desa kini hampir separuhnya menjadi pekerja ayah Bening itu.
Dibantu oleh beberapa pemuda desa, pak Sakir mengelola tanah perkebunan juga ladang dan usaha lainnya. Pernikahan Bening dengan Gara tak hanya membuat keluarganya sejahtera tapi juga turut membuka lowongan kerja bagi orang-orang yang sudah lama menganggur selama ini. Rumah besar yang dibuatkan Gara untuk keluarga Bening membuat siapa saja berdecak kagum.
Ibu tak henti mengucap syukur. Dewi juga rutin dibawa periksa ke dokter. Kondisi adik Bening itu sekarang semakin menunjukkan kemajuan yang signifikan.
Siang itu pula, ketika pak Sakir sedang bersama para pekerjanya bersantai di saung dan menikmati makan siang, teleponnya berdering. Wajahnya sumringah ketika melihat siapa yang menelepon.
"Puteriku," kata pak Sakir bangga.
"Monggo, Pak, diterima dulu teleponnya."
Pak Sakir mengangguk cepat lalu segera mencuci tangan dan mengeringkannya dengan serbet kemudian lekas mengangkag telepon itu.
"Iya, Bening. Syukurlah akhirnya kamu telepon."
"Iya, Pak. Bening rindu dengan Bapak, Ibu juga adik."
"Kami semua juga rindu padamu, Nak. Apa kabarmu?"
"Alhamdulillah, Bening baik, Pak. Selain untuk melepas rindu kepada Bapak, ada hal yang mau Bening sampaikan. Semoga Bapak menyukainya."
"Oalah, ada apa toh, Nak? Sepertinya kamu bahagia sekali." Bapak nampak sumringah.
"Bapak sama Ibu sebentar lagi bakal punya cucu. Bening hamil, Pak."
Pak Sakir membuka kacamatanya. Ia mengusap mata tuanya. Segera ia duduk sambil mengelap airmata. Ini sungguh berita yang sangat membahagiakan.
"Alhamdulillah, Bapak senang sekali mendengarnya, Bening. Sampai lemas Bapak terkejut tapi bahagia. Bapak pulang ke rumah ya, Ibumu musti tahu."
Sembari berjalan cepat, Bapak pulang menuju rumahnya. Langkahnya begitu tergesa seolah ingin cepat sampai ke rumah.
"Bu, Bu, ayo sini. Sini, nanti saja masaknya Bu!" Bapak berseru membuat ibu yang berada di dalam segera mematikan api kompor dan setengah berlari mendekati suaminya.
"Ada apa toh, Pak??"
"Bicara sama Bening, ada kejutan buat Ibu."
"Halo, Ning. Ini Ibu, Nak. Ada apa? Kenapa Bapak panik begitu, Ning?"
"Ibu, Bening hamil, Ibu sama Bapak bakal punya cucu.
"Beneran ini, Ning?!" pekik Ibu.
"Betulan, Ibu. Bening sudah mengandung. Sebentar lagi akan jadi ibu."
"Ya Allah, Alhamdulillah, Ning. Jaga kesehatanmu, Nak. Jangan terlalu banyak bergerak. Jangan banyak pikiran juga."
"Bening juga akan segera kuliah, Bu. Mas Gara yang menguliahkan Bening."
Ibu tak dapat lagi membendung rasa bahagianya. Kalau saja Bening ada di antara mereka sekarang, pasti anaknya yang baik hati itu sudah dipeluknya dengan erat. Sekarang yang bisa dilakukan pasangan suami istri itu hanyalah memberi dukungan dari jauh untuk Bening.
Mereka juga sangat bahagia dengan berita kehamilan yang Bening bawa melalui sambungan panggilan telepon hari ini.
Namun, baru saja selesai dengan telepon ibu dan bapaknya, Bening menerima pesan dari kampus yang mengabarkan
test akan berlangsung dalam dua hari ke depan juga sekarang Bening diminta datang karena kurang melampirkan satu berkas.
Bening segera menemui ibu mertunya.
"Ma, aku pergi ke kampus dulu ya. Ada berkasku yang ketinggalan."
"Pergilah, Bening, hati-hati ya. Kau pergi dengan Diman saja, jangan sendirian."
"Baik, Ma."
Bening melangkah lagi menuju kamar lalu mengganti baju dengan kaus lengan panjang yang pas di tubuhnya juga celana jeans panjang pula.
Bening tak lupa mengabarkan kepada Gara kalau dia akan segera ke kampus. Pesannya belum dibalas, pasti Gara sedang meeting di perusahaan. Revi sendiri belum sadarkan diri,hal itu diketahui dari perawat yang merawat Revi di rumah sakit melalui telepon yang dilakukan nyonya besar.
Setibanya di kampus, Bening segera meletakkan berkas yang diminta panitia. Ia juga berkeliling sebentar melihat-lihat isi kampus itu. Beberapa pemuda memanggilnya. Bening hanya memberi senyum. Mereka mungkin tak menyangka bahwa sekarang Bening sudah bersuami dan juga sedang hamil.
"Bening?"
Bening menoleh, menemukan Dani yang bergegas menghampiri.
"Bang Dani."
"Beberapa hari lagi test bagi mahasiswa baru, kamu ikut juga kan?"
"Ya, Bening ikut, Bang."
"Hmmmm aku ikut senang. Kalau ada yang mau kau tanyakan, kau tak perlu sungkan ya."
Bening mengangguk lalu ia segera menerima panggilan telepoj dari Gara.
"Iya, Bening sudah di kampus, Mas Gara."
Dani hanya diam menyimak sembari memainkan ponsel untuk mengalihkan kecemburuannya akan suami Bening.
"Oh, jadi sekarang Bening minta antarkan pak Diman ke perusahaan ya? Baiklah Mas Gara."
Bening mematikan sambungan telepon itu lagi lalu ia melihat Dani dan tersenyum.
"Mau ke kantin dulu, Ning?" tawar Dani penuh harap
"Lain kali saja ya, Bang. Sekarang Bening sudah ditunggu mas Gara, kami akan ke rumah sakit untuk memeriksa kandunganku."
Dani tersentak lalu memaksakan seulas senyum.
"Kau sudah hamil, Ning?" tanya pemuda itu pelan.
"Sudah, Bang. Doakan lancar ya sampai hari melahirkan."
Dani hanya tersenyum kecil lalu mengangguk dan melepas Bening kembali menuju mobil dengan supir yang sudah menunggu. Dani sadar, Bening tidak akan pernah lagi bisa untuk dimilikinya.