Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Happiness


Memasuki bulan-bulan akan melahirkan, Bening semakin merasa pergerakannya juga jadi terbatas. Ia tak lagi seluwes biasanya. Untungnya, kegiatan kuliah kini tak lagi terlalu padat. Bulan depan akan dilaksanakan ujian akhir semester artinya libur juga akan segera tiba.


Semua berjalan lancar, ia juga sudah kembali ke rumahnya dan Gara. Gara baru-baru ini baru saja dinobatkan menjadi pengusaha muda paling bersinar tahun ini. Bisa dibilang, tahun ini adalah tahun keberkahan untuk Gara dimulai dari menikahi Bening, Bening hamil dan sekarang mendapat penghargaan besar.


Ucapan selamat berdatangan ke rumah dan perusahaan dalam bentuk karangan bunga juga tak luput pesan-pesan dari rekan-rekan sesama pengusaha sukses. Sore itu ketika Bening baru saja selesai dari mandi dan sudah berganti baju, Gara mendekatinya.


"Biar Mas Gara keringkan."


Bening tersenyum melihat Gara yang begitu tampan dengan setelan santainya. Nampak muda dan segar. Lelaki itu kini sibuk mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.


"Apa perutmu masih sering kram, Sayang?" tanya Gara sambil menatap cermin, memandang Bening dari sana.


"Sudah jarang, Mas Gara. Oh iya, rasanya Bening ingin sekali makan jagung bakar."


"Di tempat kita biasanya?" tanya Gara. Bening mengangguk. "Ya sudah, sebentar lagi kita akan ke sana. Pakai jaketmu ya."


Bening mengangguk lagi. Hidupnya sekarang sangat bahagia. Selagi Gara sedang mengeringkan rambutnya yang basah, Bening mengusap lembut perutnya yang sudah semakin membulat.


"Bening, kapan kau tidak ada mata kuliah?"


"Lusa, Mas Gara."


"Good, Mas Gara sudah memesan seorang fotografer untuk mengambil foto kita berdua."


"Foto?"


"Ya, foto maternity mu, cinta."


Bening tersenyum, suaminya selalu penuh dengan kejutan dan Bening seperti biasa selalu akan menurut. Setelah selesai mengeringkan rambut istrinya, Gara segera meraih jaket kulit yang tergantung di dalam lemari. Ia juga memakaikannya untuk Bening.


"Makasih, Mas Gara."


Bening segera menggamit lengan Gara mesra. Mereka turun dari kamar menuju ke luar dan masuk ke mobil kemudian. Sepanjang perjalanan, Gara sering melirik Bening yang semakin menunjukkan aura keibuannya.


Hati Gara sejuk sekali, ia begitu menyayangi Bening. Setiap hari rasa cintanya semakin bertumbuh, melihat Bening tersenyum bagai obat penawar setiap kali ia lelah pulang dari perusahaan.


"Mas Gara, kenapa tidak mau tahu jenis kelamin anak kita sewaktu dokter akan mengatakannya kemarin?" tanya Bening heran.


Ia ingat kemarin saat mereka memeriksakan lagi keadaan kandungan Bening, Gara menghentikan kalimat dokter yang akan memberitahu perkiraan jenis kelamin anak mereka yang masih berada di dalam kandungan. Karena dirasa sudah cukup bulan dan jenis kelaminnya sudah bisa diprediksi, dokter juga hendak mengatakannya kemarin kepada mereka berdua, tetapi Gara ingin dokter tetap merahasiakannya.


"Sengaja, Sayangku. Mas Gara ingin kelahiran anak pertama kita akan menjadi kejutan bagi semuanya. Jika perempuan tak masalah dan jika lelaki, Mas Gara akan sangat bersyukur."


Bening mengangguk-angguk. Sudah hampir beberapa bulan belakangan pula mereka tak mendengar kabar Revi. Kalau Nilam katanya tak lagi bekerja dengan Revi sebab teman akrab Bening itu sekarang sudah lebih sering jadi pemeran figuran di sebuah sinetron stripping yang sedang naik daun di salah satu stasiun televisi swasta terkenal di Indonesia.


Bening juga menyambut baik hal itu. Nilam pernah berkisah, Revi sering memperlakukannya dengan semena-mena semenjak Nilam menolak untuk membantunya menyakiti Bening. Akhirnya dengan bantuan Yuki, Nilam bisa menjadi salah satu pemain figuran yang walaupun figuran tapi tetap sering tampil.


Kini, Bening dan Gara sudah sampai di kedai jagung bakar langganan mereka. Mereka memesan dua jagung bakar besar. Sembari menunggu, keduanya berbincang santai, membahas apa saja.


"Bening, Mas Gara harap, kau takkan pernah tertarik untuk masuk ke ranah hiburan seperti Revi ataupun temanmu itu ya."


Bening tersenyum, ia meraih jemari Gara lalu meletakkannya di pipi.


"Bening tidak ada niatan mau jadi terkenal. Sudah diberi kepercayaan untuk menjadi istri Mas Gara dan menjadi ibu bagi anak kita, sudah menjadi suatu pencapaian yang luar biasa untuk Bening sendiri. Mas Gara harus yakin, kalau Bening tidak akan pernah mengecewakan Mas Gara ya."


Gara mengangguk dan tersenyum mendengarnya, ia mengusap puncak kepala istrinya itu dengan sepenuh perasaan. Ia bersyukur memiliki Bening, meski berawal dari sebuah kesepakatan tentang anak, kini perasaannya benar-benar mantap untuk perempuan itu.


"Mas Gara sangat bahagia mendengarnya. Tidak apa kita dipertemukan baru sekarang, Mas Gara akan selalu berusaha untuk membahagiakanmu sampai akhir hidup Mas Gara."


"Bening juga akan selalu mengabdi, menjadi sebaik-baiknya istri yang akan selalu menjadi rumah bagi Mas Gara untuk pulang dan menumpahkan segala rasa, baik suka maupun duka."


Gara memejamkan matanya sesaat, kata-kata Bening bagai sihir yang menyulap hatinya terus terisi dengan cinta yang penuh dari perempuan desa itu.