
Malam hari menjadi saat-saat yang paling dinantikan oleh Bening, sebab ketika malamlah ia dan Gara punya lebih banyak waktu untuk bersantai. Anak-anak sudah tertidur, Mentari badannya gembul sekali sekarang, anak itu makannya banyak semenjak sudah bisa mpasi. Bening juga masih aktif memberi asii untuk puterinya itu.
Malam ini sedikit gerimis, dingin menerpa tubuh hingga saling mendekap adalah hal yang paling menyenangkan. Gara belum mengantuk, begitu juga dengan Bening. Gara masih ingin menikmati saat berdua seperti ini walaupun setiap hari mereka pasti selalu begini juga.
"Ujian akhir semester kapan, Sayang?" tanya Gara kepada Bening yang tengah bersandar di dada bidangnya.
"Bulan depan, Mas. Bulan ini, dosen banyak tidak masuk, jadi beberapa hari ke depan pasti akan ada kelas tambahan mengganti jam kosong kemarin."
"Tak apa, Mas akan mengantar jemputmu."
Bening tersenyum dan mengangguk. Sebenarnya, Bening sudah punya mobil sendiri, tetapi Gara lebih nyaman dan tenang jika dia sendiri yang mengantar jemput istrinya itu.
"Mas, apa masih mau punya anak lagi?" tanya Bening tiba-tiba. Gara terkekeh mendengarnya. Dulu, memang perkara Revi tak mau memberi Gara anaklah, yang menjadi bibit perceraian mereka, jadi Bening takut jika tak bisa memberi Gara banyak anak.
"Sayang, Mas sudah cukup dengan Abi juga Mentari. Dua saja, Bening."
"Tapi kata Mama, Mas Gara kalau bisa punya anak banyak."
"Tidak, mereka hanya bergurau. Jangan berpikir yang macam-macam istriku, dua anak sudah cukup bagiku. Kita hanya tinggal membesarkan mereka dengan baik, memberi pendidikan yang baik, juga mendidik mereka dengan baik."
"Baiklah, Bening mengerti, Mas. Walau mau menambah anak lagi pun, Bening takkan keberatan."
"Kau istri yang baik. Tetapi sudah cukup Mas melihatmu bertaruh nyawa di ranjang persalinan seperti kemarin. Mas tak sanggup. Jadi biarkan saja dua. Itu sudah lebih dari cukup."
Bening memejamkan matanya, tersenyum mendengar penuturan Gara yang begitu lembut kepadanya. Bening beruntung, Gara sangat pengertian juga penyayang.
"Besok perusahaan akan mulai menyiapkan acara ulang tahun. Mungkin, Mas akan malam pulang untuk melihat persiapannya."
"Baiklah, Mas. Bening mengerti."
Gara mengangguk, mereka kemudian mulai memejamkan mata. Besok Bening akan cukup lama pula berada di kampus karena ada kelas tambahan.
Pagi hari setelah bangun dengan semangat, Bening menyiapkan setelan kerja Gara kemudian ia turun untuk menyiapkan sarapan. Meski mereka sudah punya pelayan, tetapi urusan masak, Bening memang yang akan turun tangan langsung.
Setelah beres-beres masak, ia segera kembali ke atas dan mandi hingga bersih, barulah ia membangunkan Gara. Bening segera berganti pakaian dengan celana jeans juga kaus kemeja, dia seperti gadis muda yang bersahaja.
"Baik, Sayang," sahut Gara dari dalam.
Kedua anaknya belum ada yang bangun saat Bening pergi ke kamar anak-anaknya.
"Masih tidur, Nyonya," ujar salah satu pengasuh. Bening menoleh lalu tersenyum.
"Biarkan saja, Mbak. Nanti tolong dimandikan ya setelah bangun, hari ini jadwal kuliah saya padat sekali. Nanti mungkin mama akan ke sini."
"Baik, Non, memang Nyonya besar akan bertandang nanti siang kemari, mau membawa cucu-cucunya, Non."
"Ya sudah, tak apa, Mbak. Tadi Bening sudah memompa asii buat Mentari, jangan lupa dibawa ya kalau Mama akan membawa anak-anak keluar."
"Baik, Nyonya."
Bening kembali turun menuju meja makan, ia menunggu suaminya yang pasti akan turun pula tak lama lagi. Memang, setelah beberapa saat, Gara telah rapi dengan kemejanya sementara jasnya ia sampirkan di bahu. Bening mengambil alih jas itu, menyampirkannya di sandaran kursi makan kosong lalu menuangkan makanan ke piring Gara.
"Anak-anak masih tidur, Sayangku?" tanya Gara sebelum menyuap makanan itu ke mulutnya.
"Ya, Mas, mereka masih mengantuk. Bening tak tega membangunkannya."
"Ya, biarkan saja, Sayang. Kasihan."
"Nanti kata mbak, Mama mau ke sini, Mas. Bening tak bisa menemani Mama di sini karena kuliah sampai sore."
"Tak apa, Sayang. Mama pasti mengerti. Mama kalau sudah bertemu cucunya juga sudah senang kok."
Bening mengangguk juga. Sepertinya apa yang Gara katakan bahwa dua anak cukup itu memang tepat. Bening ingin segera menuntaskan kuliahnya, dia ingin fokus kuliah dulu. Kalau pun mau tambah anak, mungkin ia akan siap setelah selesai kuliah nanti. Tapi lagi-lagi, Gara meyakinkan Bening bahwa baginya kehadiran Abi dan Mentari juga sudah cukup.
"Istriku fokus saja kuliah dulu. Kalau setiap tahun melahirkan, kasihan dirimu, Sayang. Pikiran akan terpecah belah. Mas sudah sangat bersyukur dengan adanya Abi juga Mentari. Sekarang, kau bisa lebih fokus dengan kegiatan belajarmu."
Bening mengangguk dalam hatinya sangat bersyukur bersuamikan Gara, lelaki pengertian yang dipuja banyak perempuan tetapi hanya setia dan mencintai dirinya. Seperti inilah jika menikah dengan lelaki yang tepat.